
"Wah, Nyonya Dian sudah hamil saja. Bagaimana dengan Sofia? Apa sudah ada tanda-tanda kehamilannya?" batin Joe sambil menggaruk tengkuknya.
Karena Macan Bunting sedang galau, pekerjaan Marcello pun di tunda. Ia mengajak Marissa kembali ke kamar utama sembari mencoba menenangkan wanita itu.
"Hei, Cha. Kamu itu sudah besar kenapa masih cemburu sama calon Adik bayimu yang bahkan belum kelihatan batang hidungnya. Bukan besar lagi, perutmu saja sudah sebesar ini."
Marcello terkekeh sambil mengelus perut Marissa yang sudah membuncit karena saat ini usia kandungan Marissa sudah memasuki bulan ke-6.
Marissa menghembuskan napas berat dengan wajah yang masih terlihat sendu. "Tapi aku masih ingin mendapatkan perhatian dari kedua orang tuaku, Daddy. aku khawatir setelah mereka memiliki bayi, mereka akan melupakan aku," tuturnya.
Marcello meraih tubuh Marissa ke dalam pelukannya. "Kan sudah aku bilang sama kamu, biarkan mereka dengan kehidupan mereka, Cha. Mereka juga berhak bahagia sama seperti dirimu. Sekarang kamu bukan anak kecil lagi. Kamu sudah tidak pantas merengek pada mereka tapi merengeklah padaku karena sekarang akulah yang yang menggantikan posisi mereka untukmu. Menjagamu, memperhatikanmu, memanjakanmu dan--"
Marissa mengangkat kepalanya kemudian mendongak pada lelaki itu. "Dan apa?"
"Menindihmu!" lanjutnya sambil tergelak.
Marissa memasang wajah malas dan kembali menyandarkan kepalanya ke dada bidang Marcello.
"Tuh 'kan, Daddy tuh suka bikin kesal. Kalau diajak ngomong tidak pernah serius. Otaknya selalu traveling kemana-mana. Gak jauh-jauh dari yang namanya ranjang!" kesal Marissa.
Marcello yang masih tergelak, mencoba menahan tawanya kemudian mulai mengajak Marissa bicara dengan serius.
__ADS_1
"Tapi beneran, Cha. Aku serius tentang peranku sebagai pengganti kedua orang tuamu. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan bagaimana sikap mereka nantinya kepadamu. Yang terpenting sekarang, aku akan tetap bersama kalian, kamu dan anak-anak kita hingga akhir hayatku," ucap Marcello sembari mengecup puncak kepala Marissa.
"Oh, ya. Bukankah besok jadwal kita memeriksakan kandunganmu, Cha? Apa kamu ingin melewatkannya lagi sama seperti bulan-bulan yang lalu?" sambung Marcello.
Ya, sudah beberapa bulan Marissa menghindari pemeriksaan kandungannya. Ia masih rajin meminum vitamin Ibu hamil yang diberikan oleh Dokter, tetapi dia tidak ingin melakukan pemeriksaan USG lagi.
"Entahlah," jawab Marissa.
Sementara itu di kamar Jo dan Sofia.
Saat itu Sofia baru saja selesai merapikan tempat tidur mereka. Joe menghampiri wanita itu dan memeluknya dari belakang sambil mengelus perut Sofia yang masih rata.
"Bagaimana? Apa sudah ada tanda-tanda Joe dan Sofia junior di sini?" tanya Joe.
Sofia pun sebenarnya ingin sekali cepat-cepat hamil, tetapi Tuhan masih belum memberikan kesempatan itu kepadanya. Lagipula pernikahan mereka pun baru seumur jagung, hanya saja Joe sudah tidak sabar ingin memiliki momongan. Mungkin karena usianya yang sudah tidak muda lagi, membuat Joe sangat mendambakan kehadiran seorang Joe Junior di kehidupan mereka.
"Masih belum, Mas."
Sofia membalikkan tubuhnya kemudian menatap lelaki itu dengan wajah sendu. "Maafkan aku," lirih Sofia.
Joe tersenyum walaupun sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada sedikit rasa kecewa. Namun, ia tidak ingin menampakkan kekecewaannya kepada istri kecilnya itu. Lagipula ia pun sadar, semua itu bukanlah kesalahan Sofia.
__ADS_1
"Kenapa kamu harus meminta maaf padaku, Sofia-ku sayang?" Joe merapikan rambut Sofia yang berantakan kemudian menyisipkannya ke samping telinga wanita itu.
"Aku merasa tidak enak, Mas."
"Tidak masalah. Kita masih punya banyak waktu untuk mencobanya. Jika gagal, kita coba terus hingga berhasil!" ucap Joe dengan penuh semangat.
"Itu sih memang hobby-nya Mas, 'kan? Tiap malam tidak pernah absen kecuali saat Sofia mendapatkan tamu bulanan," jawab Sofia sambil menekuk wajahnya.
"Heh, tapi kamu juga suka 'kan?! Sudah tidak usah mengelak. Siapa yang biasanya mengganggu senjata keramatku ketika aku sedang tidur?! Ayo, ngaku!" ucap Joe sembari memegang kedua pipi Sofia dengan kedua tangannya.
"Habisnya lucu, Mas. Masnya tidur tapi tuh senjata manggut-manggut, aja. Apalagi ketika disentuh," sahut Sofia sambil tergelak mengingat senjata Joe yang terus aktif walaupun sang pemilik sudah tertidur.
"Benarkah? Apa dia terlihat seperti ini?!"
Joe melirik sesuatu di bawah sana yang sudah bergerak-gerak karena Sofia sudah memancingnya untuk bangkit. Sofia kembali tergelak melihat celana Joe yang terlihat penuh karena senjata keramat itu kembali aktif.
"Kamu senang sekali, ya! Ayo, kemari! Tanggung jawab," ucap Joe sembari mengangkat tubuh Sofia dan membawanya ke atas tempat tidur kemudian menindihnya.
"Mau gaya apa? Ayo, cepat katakan!"
Joe melepaskan pakaian dengan cepat dan melemparkannya ke sembarang arah. Sofia hanya bisa terkekeh dan membiarkan lelaki itu kambali menguasai tubuhnya.
__ADS_1
...***...