
"Selamat ya, Sofia, Om Joe. Akhirnya Tuhan memberikan kepercayaan lagi buat kalian," ucap Marissa.
"Ya, Nona. Kami sangat senang," sahut Sofia dengan mata berkaca-kaca membalas tatapan Marissa.
"Sebaiknya aku pergi dulu, Sofia. Aku harus memberitahukan kabar baik ini kepada Daddy. Aku yakin Daddy pun ikut senang mendengarnya." Marissa menghampiri tempat tidur kemudian melabuhkan ciuman hangat di kening mungil Baby Shakila yang sedang tertidur pulas.
Setelah mencium bayi mungil itu, Marissa pun segera keluar dari kamar Sofia dan berjalan menuju ruang utama dimana Marcello dan anak-anaknya masih bersantai di sana.
"Kamu harus ingat kata-kata yang di ucapkan oleh Dokter barusan, Sofia. Kamu tidak boleh banyak beraktivitas. Kamu tidak boleh kelelahan. Aku tidak ingin kejadian dulu terjadi lagi. Dan itu artinya Shakila pun harus kamu serahkan kepada Babysitter. Hari ini aku akan carikan Babysitter yang bisa merawatnya."
Sofia menoleh kepada Baby Shakila yang masih tertidur nyenyak dengan mulut terbuka dan bayi mungil itu terlihat sangat menggemaskan. Sofia membelai puncak kepalanya dengan mata berkaca-kaca.
"Mungkin Shakila adalah pembawa berkah untuk keluarga kita, Mas. Buktinya, setelah kita memilih merawatnya, kita malah diberikan rejeki yang paling besar dan tidak pernah terduga sama sekali."
"Ini adalah anugrah sekaligus ujian untuk kita, Sofia. Sekarang Tuhan sedang menguji kita, apakah kita masih bisa menepati janji kita sebelumnya pada bayi mungil ini atau tidak. Apakah kita masih bisa berlaku adil terhadap Baby Shakila dan Anak kandung kita nantinya? Aku takut kita tidak bisa bersikap adil, Sofia. Kasihan Shakila," tutur Joe.
Sofia pun terdiam. Apa yang dikatakan oleh Joe itu adalah benar. Mungkinkah mereka masih bisa bersikap adil terhadap Shakila dan anak mereka nantinya.
"Semoga kita bisa, Mas." Sofia memeluk tubuh kekar Joe kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang lelaki itu.
Sementara itu, Marissa tiba di ruang utama dan ternyata benar, ketiga lelaki tampannya masih berada di ruangan itu dengan kegiatan mereka masing-masing.
__ADS_1
Yang paling tua di antara mereka bertiga sedang asik bermain dengan ponselnya, sedangkan si tampan yang pendiam itu sedang duduk dengan tenang sambil membuka buku bacaan kesukaannya.
Berbeda dari mereka berdua, si tampan yang satu ini memang tidak bisa diam. Dia terus saja berlarian mengelilingi ruangan itu tanpa ada kata lelah. Dan mainannya menghambur di tengah-tengah ruangan tersebut. Marissa bahkan sampai menggelengkan kepala ketika melihat aksi si bocah tampan itu.
"Melvin, apa kamu tidak lelah, Sayang?"
Marcello terkekeh pelan dengan mata yang masih fokus pada layar ponselnya. "Jangan tanyakan hal itu pada Melvin, Mom. Tidak ada kata lelah di dalam kamusnya," sahut Marcello.
Marissa tersenyum kemudian duduk di samping Marcello. Marissa melirik Marcello yang masih asik dengan ponselnya dan ia tidak menyukai hal itu.
Dengan secepat kilat, Marissa merebut benda pipih tersebut dari tangan Marcello kemudian memperhatikan layarnya.
Marcello merengkuh pundak Marissa, kemudian menciumi wajah cantik itu. "Aku berani jamin bahwa kamu tidak akan pernah menemukan hal yang mencurigakan di ponselku, Cha. Jangankan hanya di ponsel, bahkan di hatiku pun, kamu tidak akan pernah menemukannya," tutur Marcello di samping telinga Marissa.
"Benarkah?"
"Ya. Karena di hatiku hanya ada kamu seorang, Cha. Tidak ada yang lain," sahut Marcello sambil melemparkan sebuah senyuman hangatnya.
Akhirnya Marissa luluh. Ia mengembalikan ponsel itu kepada Marcello. Marcello meraihnya dan menyimpan benda pipih tersebut di saku jas yang sedang ia kenakan.
"Bagaimana keadaan Sofia? Apa dia baik-baik saja?" tanya Marcello.
__ADS_1
"Ah, ya 'kan! Hampir saja aku lupa mengatakannya," pekik Marissa sambil membulatkan matanya menatap Marcello.
"Apaan, sih?" Marcello menautkan kedua alisnya.
"Ternyata, Sofia itu sedang hamil, Dad! Dia positif hamil!" seru Marissa.
"Wah, bagus itu. Ternyata Baby Shakila memang membawa keberuntungan untuk Sofia dan Joe. Lalu bagaimana keadaan Sofia sekarang? Apa dia baik-baik saja?" tanya Marcello.
"Ya, begitulah, Dad. Sofia harus banyak beristirahat karena kandungannya 'kan sangat rentan. Apalagi dulu dia pernah keguguran dan Dokter tidak menyarankan dia untuk melakukan pekerjaan yang dapat membuatnya kelelahan."
"Lalu bagaimana dengan Shakila?" tanya Marcello sembari mengerutkan keningnya ketika bertatapan dengan Marissa.
"Om Joe bilang akan mencarikan Babysitter untuk mengasuh Shakila karena kondisi Sofia sendiri tidak memungkinkan untuk merawat bayi mungil itu," lirih Marissa.
"Kenapa tidak diserahkan kepada Babysitternya Marvel dan Melvin? Aku yakin mereka pasti bisa mengurus Baby Shakila secara bergantian. Lagipula Marvel dan Melvin sudah tidak terlalu menyusahkan mereka dan kamu pun bisa ikut merawatnya, Cha," tutur Marcello.
"Ya. Kalau Marvel, aku masih bisa percaya. Tetapi untuk Melvin, aku tidak percaya. Aku yakin Babysitter yang menanganinya masih kesusahan menjaga bocah super duper aktif itu," sahut Marissa sambil terkekeh.
"Tapi apa yang Daddy ucapkan itu benar. Nanti aku kasih tau Om Joe, siapa tahu dia setuju."
...***...
__ADS_1