Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 37


__ADS_3

"Ayo, Sarrah, sebaiknya kita periksakan jarimu ini ke Dokter. Aku takut nantinya akan semakin parah," ajak Marcello.


Marcello membantu Sarrah bangkit dari tempat duduknya kemudian mengajak wanita itu untuk berjalan bersamanya.


Setelah Marcello dan Sarrah pergi dari tempat itu, Marissa kembali menuju ruangannya ruangannya dengan terpincang-pincang. Kakinya masih terasa sakit dan ngilu ketika digunakan untuk berjalan. Dengan perlahan, Marissa menaiki bed pasien kemudian duduk di tepiannya.


"Hah! Aku dalam masalah besar jika Daddy tahu bahwa aku telah menukar cincin Sarrah dengan yang palsu. Bisa-bisa aku bakal dapat hukuman lagi nantinya!" gumam Marissa.


Sementara itu, Marcello dan Sarrah sudah berada di ruangan Dokter yang akan memeriksakan jari Sarrah yang bermasalah.


"Maaf, saya lihat dulu ya, Nona."


Dokter itu meraih tangan Sarrah kemudian memeriksa kondisi jari wanita itu.


Marcello meraih pundak Sarrah kemudian mengelusnya dengan lembut. Saat itu wajah Sarrah terlihat sangat pucat. Ia takut jika sesuatu terjadi pada jarinya.


"Marcel. Aku takut, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada jariku. Apalagi sampai diamputasi dan menimbulkan kecacatan permanen," ucap Sarrah dengan raut wajah cemas.


Marcello menatap lekat wajah cantik yang sedang ketakutan disampingnya. "Tenang saja, Sarrah. Kamu akan baik-baik saja dan jangan bicara yang aneh-aneh. Tidak baik," tutur Marcello


"Aku benar-benar takut, aku tidak ingin kehilangan jariku, Marcello! Nanti apa kata teman-temanku? Mereka pasti akan mencibirku kemudian menjauhiku hanya karena aku cacat! Oh, Tuhan ... aku tidak mau!" sahut Sarrah.

__ADS_1


"Tidak mungkin, Sarrah! Lagipula jarimu tidak akan diamputasi hanya gara-gara ini. Dan jika seandainya itu terjadi, itu artinya teman-temanmu itu tidak tulus berteman denganmu. Seorang teman sejati tidak akan meninggalkan dirimu, apalagi hanya karena alasan kecil seperti itu!" tutur Marcello.


Sarrah menundukkan kepalanya, apa yang dikatakan oleh lelaki itu adalah benar. Ia sadar bahwa selama ini teman-temannya bersedia berteman dengannya hanya karena dia adalah kekasih dari Marcello, seorang Pengusaha sukses yang terkenal seantero negeri.


"Apa ucapanku menyinggung perasaanmu, Sarrah?" tanya Marcello setelah melihat tunangannya itu tertunduk lesu.


Dengan cepat Sarrah mengangkat kepalanya sembari menggelengkan. "Tidak, Sayang. Aku sama sekali tidak tersinggung dengan ucapamu, tapi apa yang kamu katakan itu benar," sahutnya.


Setelah beberapa saat, Dokter itupun selesai memeriksa keadaan jari manis Sarrah.


"Begini ya, Nona. Jari Anda ini sudah mengalami infeksi berat dan juga pembengkakan. Jika terus dibiarkan maka bisa menjalar ke bagian jari Anda yang lainnya," tutur Dokter tersebut.


"Memangnya ini disebabkan oleh apa, Dok? Tidak mungkin, 'kan hal ini gara-gara cincin pertunangan saya? Cincin pertunangan saya ini harganya mahal, loh, Dok!" tanya Sarrah panik.


"Tidak mungkin! Semua perhiasan yang saya beli selalu dari toko perhiasan yang sama. Dan semuanya asli, bahkan semuanya memiliki sertifikat. Iya kan, Sayang?!" ucap Sarrah kesal setelah mendengar penuturan dari Dokter tersebut.


"Lalu bagaimana sebaiknya, Dok?" sela Marcello.


"Lepaskan cincinnya, dan kita obati jarinya. Kecuali, Nona Sarrah memang ingin keadaan jarinya semakin memburuk," sahut Dokter.


Dokter itupun merasa kesal karena wanita itu sama sekali tidak percaya dengan ucapannya.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak percaya! Ini cincin pertunangan kita, Marcel sayang! Bukankah kita berdua yang membeli dan memilihnya, tidak mungkin lah jariku lecet gara-gara cincin ini. Lagipula aku tidak percaya dengan kata-kata Dokter ini. Jangan-jangan dia sengaja mengatakan hal itu agar aku melepaskan cincin mahalku, ya kan? Kamu sebenarnya iri, 'kan?!" hardik Sarrah dengan wajah memerah.


"Tapi, Sarrah! Apa yang dikatakan oleh Dokter itu benar. Apa kamu ingin jarimu semakin parah? Lepaskan cincin itu dan kita bisa membelinya lagi jika kamu mau," bujuk Marcello.


Sarrah bangkit dari posisi duduknya, "Ah! Sudahlah, Sayang! sebaiknya kita pergi saja! Lebih baik kita cari Dokter lain, yang lebih ahli tentunya," sahut Sarrah sembari melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Dokter itu.


Marcello benar-benar malu atas tingkah konyol Sarrah yang begitu mengagung-agungkan perhiasan mahalnya. Bahkan wanita itu lebih memilih untuk mempertahankan cincin tersebut daripada kesehatannya sendiri.


"Maafkan dia, Dokter. Dia memang agak keras kepala," ucap Marcello kepada Dokter tersebut.


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya mengerti," sahut Dokter.


Setelah keluar dari ruangan Dokter itu, Marcello bergegas menyusul Sarrah yang sudah melangkah lebih dulu di depannya.


"Sarrah kamu benar-benar memalukan! Seharusnya kamu tidak bersikap seperti itu kepada Dokter tadi," kesal Marcello seraya mensejajarkan langkahnya bersama Sarrah.


"Habisnya aku kesal, Sayang! Secara tidak langsung, Dokter itu menganggap cincin pertunangan kita ini adalah cincin murahan dan aku tidak bisa menerima itu!" sahutnya.


"Lalu, apa kamu ingin membiarkan jarimu tetap seperti itu?!" tanya Marcello.


"Aku yakin, paling sebentar lagi dia akan sembuh sendiri!" sahut Sarrah sambil mendengus kesal.

__ADS_1


...***...


__ADS_2