
Maria menikmati makan siangnya dengan lahap tanpa mempedulikan Aidan yang terus memperhatikan dirinya bahkan tanpa berkedip sedikitpun.
Tiba-tiba saja perhatian Aidan teralihkan pada gelang yang melingkar di pergelangan tangan Maria. Gelang yang hampir mirip dengan gelang yang dikenakan oleh Dylan. Cuma bedanya milik Maria memiliki manik-manik berbentuk kepala Hello Kitty.
"Boleh aku bertanya? Siapa yang memberikan gelang ini padamu?" tanya Aidan sembari meraih tangan Maria.
Maria refleks menarik tangannya kembali dan hal itu membuat Aidan kembali tersenyum.
"Aku cuma ingin melihat bentuk gelangmu, Nona Alexander."
"Bukan dari siapa-siapa, memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, hanya penasaran saja."
Setelah acara makan siang mereka selesai, Aidan mengajak Maria berjalan-jalan mengelilingi Mall tersebut.
"Sekarang kamu mau beli apa?" tanya Aidan yang berjalan di samping Maria.
Maria mengedarkan pandangannya ke sekeliling sambil tersenyum. Maria teringat jalan-jalannya bersama Om Udin, dimana ia membelikan baju piyama untuk lelaki itu.
"Apa Om Udin memakainya, ya? Bagaimana jika tidak?" batin Maria.
Karena Maria tidak juga menjawab pertanyaannya, Aidan kembali bertanya kepada gadis itu.
"Maria?"
"Hah?"
"Kamu mau beli apa?" tanya Aidan lagi.
Maria menyeringai kemudian menarik tangan Aidan agar lelaki itu mengikutinya.
"Aku ingin beli sesuatu yang banyak, bolehkan?"
"Tentu saja boleh. Kamu mau beli apa, sebutkan saja," ucap Aidan dengan wajah semringah. Apalagi saat ini tangan mungil itu sedang menggenggam tangannya.
Maria mengajak Aidan memasuki sebuah toko yang sudah menjadi langganannya. Ia sering berburu koleksi pernak-pernik kucing fenomenal itu disana.
"Aku ingin menambah koleksiku, Tuan Aidan. Sekarang ikutlah denganku."
Aidan mengerutkan alisnya setelah tahu toko apa yang sedang ia masuki. Sebuah toko menjual berbagai macam asesoris, boneka, pakaian dan semua yang bertema Hello Kitty.
Karena ini adalah kesempatan dalam kesempitan bagi Maria, ia pun mengambil barang apa saja yang ia lihat bagus dan cantik. Sang pemilik toko tentu saja sangat senang karena barang dagangannya laris manis.
Mereka mengeluarkan segala macam koleksi terbaru mereka dan di borong habis oleh Maria. Aidan hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika melihat Maria yang begitu bersemangat menjelajahi ruangan itu.
__ADS_1
Setelah beberapa jam kemudian.
"Selesai!" ucap Maria sambil tersenyum puas.
"Sudah selesai? Atau masih ada yang ingin kamu beli lagi?"
Aidan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana tidak, barang belanjaan Maria yang semuanya bertema Hello Kitty tersebut akan segera memenuhi mobilnya. Belum lagi ia memikirkan berapa yang harus ia bayar untuk semua barang-barang yang menurutnya sangat aneh tersebut.
"Sudah cukup. Terima kasih, Tuan Aidan."
Setelah mendengar jawaban dari Maria, Aidan pun segera mengeluarkan dompetnya dan meraih sebuah kartu untuk membayar barang belanjaan gadis itu.
Benar saja, setelah membayar semua barang belanjaan Maria yang ternyata mengocek dompet lumayan dalam, sekarang Aidan kebingungan melihat mobil mewahnya yang penuh dengan benda-benda bertema Hello Kitty tersebut.
"Sebenarnya apa yang akan kamu lakukan dengan semua benda ini, Maria?" tanya Aidan sambil menggaruk tengkuknya.
"Menambah koleksiku lah, Tuan. Dan apa kamu tahu, Tuan Aidan? Aku ingin menikah dengan tema Hello Kitty, semuanya serba Hello Kitty!" jawab Maria dengan sangat antusias.
"Bagaimana jika calon suamimu tidak mau?"
"Ya, tidak jadi menikah!"
Maria masuk kedalam mobil Aidan kemudian duduk disana dengan wajah semringah.
"Apa yang akan dikatakan oleh rekan-rekan bisnisku jika aku menikah sesuai dengan keinginan gadis itu? Dimana aku akan meletakkan wajahku?" gumamnya sambil menggaruk tengkuknya untuk kesekian kalinya.
"Ayo, Tuan Aidan! Aku sudah lelah, aku ingin pulang," panggil Maria yang sudah duduk manis di dalam mobilnya.
Baru saja Aidan ingin menyusul Maria, seorang wanita cantik menghampirinya.
"Aidan?"
Aidan berbalik dan ia sempat terkejut saat bertatap mata dengan wanita itu.
"Kamu?"
Wanita itu tersenyum kemudian memperlihatkan mobil milik Aidan yang penuh dengan barang belanjaan milik Maria.
"Wah ... memborong, ya? Ngomong-ngomong siapa gadis itu? Kekasihmu atau ...?" tanya wanita itu.
"Dia ... adik sepupuku," jawab Aidan.
Maria membuka pintu kaca mobil Aidan sembari melambaikan tangannya kepada wanita itu sambil tersenyum. Maria tahu bahwa wanita itu kemungkinan adalah mantan kekasih Aidan.
"Adikmu cantik, ya," ucap wanita itu sembari membalas lambaian tangan Maria.
__ADS_1
"Ehm, maafkan aku. Sepertinya aku harus segera pergi."
Tanpa mendengarkan jawaban dari wanita itu, Aidan segera masuk ke dalam mobilnya kemudian melaju meninggalkan Mall tersebut.
"Dia mantan kekasihmu ya, Tuan? Dia cantik," ucap Maria sambil tersenyum.
"Bukan siapa-siapa."
Setelah beberapa saat, mobil sport mahal milik Aidan tiba di halaman depan mansion Tuan Marcello. Marissa yang menyambut kedatangan mereka, membulatkan matanya ketika melihat banyaknya barang belanjaan milik Maria.
"Astaga! Apa ini, Maria?" pekik Marissa.
"Tuan Aidan sendiri yang mengajak Maria belanja. Ya, Maria beli saja apa yang Maria mau," jawab Maria sembari melangkah masuk ke dalam mansion meninggalkan Aidan dan Marissa di tempat itu.
"Aduh, Aidan. Maafkan Maria, ya."
Marissa merasa sangat bersalah karena anak gadisnya sudah membuat Aidan kerepotan.
"Tidak apa-apa, Nyonya Marissa. Lagipula apa yang dikatakan oleh Maria benar."
Setelah para Pelayan berhasil mengeluarkan barang belanjaan Maria dari dalam mobil mewahnya, Adian pun segera pamit dan pergi meninggalkan mansion.
Marissa bergegas menuju kamar Maria dan mencoba menasehati anak gadisnya itu.
"Sayang, seharusnya kamu tidak boleh seperti itu kepada Aidan. Dia itu baru menjadi 'Calon Tunangan'mu. Bagaimana jika dia membatalkan pertunangan kalian setelah ini?"
Bukannya cemas ataupun khawatir, Maria malah tertawa mendengar ucapan sang Mommy.
"Aduh, Mom! Seandainya itu benar, Maria akan sangat bahagia."
"Loh, kok begitu?"
"Jujur ya, Mom. Tuan Aidan itu gengsinya terlalu tinggi. Dia tidak cocok sama Maria. Dia bahkan malu mengakui Maria sebagai calon tunangannya," jawab Maria sembari melepaskan seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya.
"Benarkah?"
"Ya, Mom. Dan jika nanti Tuan Aidan minta ganti rugi atas semua barang belanjaan Maria hari ini, Maria siap kok menggantinya."
"Huh, sombongnya, Gadis Daddy. Memangnya kamu punya uang sebanyak itu?" tanya Marissa sambil mencebikkan bibirnya.
"Ya, enggak sih. Tapi, Maria bisa minta ganti sama Daddy." Maria melemparkan senyuman konyol kepada Marissa.
"Hmm, dasar."
...***...
__ADS_1