
"Ya, ampun! Ini salahku," gumam Marissa.
"Kenapa, Nona?" tanya Sofia heran.
"Aku lupa memberitahu kamu bahwa obat itu satu untuk Om Joe dan satunya lagi buat kamu, Sofia. Untuk jaga-jaga kalau lingerie itu tidak berhasil menggoda Om Joe," sambung Marissa.
Sofia terkekeh sambil menahan rasa perih pada area pribadinya. "Begitu ya, Nona."
"Aduh, aku jadi merasa bersalah sama kamu, Sofia. Ini semua gara-gara ide konyolku dan akhirnya kamu yang kena batunya," lirih Marissa dengan raut wajah penuh penyesalan menatap Sofia.
"Tidak apa-apa, Nona. Tapi aku senang kok, Non. Berkat bantuanmu, kami berhasil melewati malam pertama kami," tutur Sofia dengan wajah merona karena malu.
Marissa beberapa kali melirik ruang makan ia takut suaminya menyusul dirinya ke tempat itu.
"Ehm, sepertinya aku harus kembali. Sofia, hari ini kamu jangan ngapa-ngapain dulu. Sebaiknya kamu istirahat saja. Sekarang 'kan kamu jadi Nyonya Om Joe, bukan lagi Pelayan disini," ucap Marissa sembari mengelus lembut pundak Sofia.
"Baik, Nona. Terima kasih," sahutnya.
Marissa melambaikan tangannya kepada Sofia sebelum ia melenggang pergi meninggalkan Sofia di ruangan itu. Dengan langkah cepat, Marissa menuju ruang makan. Dimana Marcello sudah menunggunya.
Ketika Marissa tiba di ruangan itu, Marcello segera melirik jam tangan super mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia menekuk wajahnya ketika bertatap mata bersama Marissa.
"Dua puluh menit," gumamnya.
Marissa terkekeh pelan sembari menarik sebuah kursi dan duduk disana.
"Oh, ayolah, Dad!"
__ADS_1
"Ada apa dengan Sofia? Kenapa kulihat jalannya sangat aneh," tanya Marcello sembari memasukkan makanannya ke dalam mulut kemudian mengunyahnya.
"Gawat! Aku harus ngomong apa? Tidak mungkin 'kan aku berkata jujur bahwa yang terjadi pada Sofia, itu semua gara-gara perbuatanku. Bisa-bisa si Kucing Kecil ini akan marah besar sama aku dan kembali menjadi Singa Garang!" batin Marissa sambil mengelus tengkuknya.
"Cha?!"
"Hah?! Entahlah, Dad. Kata Sofia kakinya sakit dan dia tidak bilang kenapa kakinya bisa begitu," tutur Marissa sambil membuang pandangannya ke arah lain.
Setelah beberapa saat, acara sarapan merekapun selesai. Kini saatnya Marcello berpamitan kepada istrinya itu.
"Aku berangkat dulu, ya. Ingat pesanku, jangan ikut campur lagi dengan hubungan Sofia dan Joe, paham?!"
"Siap, Daddy!" sahutnya mantap.
Tepat di saat itu, Joe tiba di sana dan segera menyapa Marcello dan Marissa.
"Selamat pagi, Tuan dan Nona."
"Loh, Joe! Apa kamu tidak ingin menikmati hari liburmu?" tanya Marcello.
"Tidak, Tuan. Saya harus bekerja hari ini karena masih banyak pekerjaan saya yang minta secepatnya di selesaikan," sahut Joe dengan wajah semringah.
Marcello melirik Marissa yang masih berdiri di sampingnya dan wanita itu pun membalas tatapannya.
"Ya, sudah kalau begitu. Tapi jangan bilang bahwa aku yang memaksamu bekerja, ya!" ucap Marcello.
"Tentu saja tidak, Tuan."
__ADS_1
Joe membukakan pintu mobil untuk Marcello dan membiarkan lelaki itu masuk ke dalam mobil tersebut. Setelah Marcello masuk dan duduk manis di dalam sana, Joe segera menutup pintunya kembali. Ketika berpapasan dengan Marissa, Joe sempat menyeringai kepada bumil itu.
"Kenapa Om menatapku seperti itu?" tanya Marissa sembari mundur beberapa langkah. Seringaian Joe membuat Marissa bergidik ngeri.
Setelah Joe memasuki mobil tersebut, para lelaki 'Hot' itupun segera melaju meninggalkan mansion dan menuju kantor mereka.
"Aduh, semoga saja Om Joe tidak menceritakan apapun tentang masalah itu kepada Daddy. Dan jika itu benar, artinya aku dalam masalah besar. Dilihat dari tatapan lelaki itu, sepertinya dia akan menceritakan semuanya kepada Daddy, mampus aku!" gumam Marissa sambil menepuk jidatnya.
Sementara itu di dalam mobil.
"Joe," panggil Marcello sembari memperhatikan punggung Joe yang duduk tepat di depannya.
"Ya, Tuan."
"Maaf, kalau boleh aku tau apa yang terjadi pada Istrimu? Kulihat tadi pagi sepertinya ia sedang tidak sehat dan kata Marissa kakinya sedang sakit, benarkah itu?" tanya Marcello penuh selidik.
Joe mengusap tengkuknya. Ada rasa lucu ketika Marcello bilang bahwa kaki Sofia sedang sakit. Padahal yang sebenarnya bukan kakinya yang sakit, melainkan sesuatu yang diapit oleh kedua pahanya.
"Bagaimana menceritakannya? Itu semua 'kan gara-gara istri nakalmu, Tuan Marcello! Yang memberikan anjuran sesat pada istri polosku," batin Joe sambil tersenyum kecut.
"Joe?"
"Ehm, ya, Tuan. Itu semua gara-gara Nona Marissa yang sudah memberikan obat melebihi dosis yang seharusnya," ucap Joe, tanpa sadar telah mengeluarkan unek-uneknya.
"Loh, apa maksudmu? Obat, obat apa?"
Karena sudah terlanjur basah, Joe pun menceritakan semuanya kepada Marcello dan Marcello pun terperangah setelah mengetahui semuanya.
__ADS_1
"Apa?!" pekik Marcello dengan mata membulat. "Dasar Marissa!"
...***...