
"Selamat pagi, Marissa ku sayang!"
Sapa Marcello kepada sang istri yang baru saja bangun dari tidurnya. Marissa tersenyum kecil sambil mengucek matanya yang masih terasa kabur.
"Aku kesiangan, ya?" tanya Marissa.
"Tidak, Sayang, tapi hari ini kita akan menghabiskan hari kita bersama-sama, seperti kemarin," jawab Marcello yang berjalan ke arahnya dengan membawa sebuah nampan berisi semangkok bubur ayam lengkap dengan segelas air minumnya.
Marissa menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur sambil tersenyum menyambut kedatangan sang suami. Marcello kini duduk di samping dirinya sembari memperlihatkan isi mangkok tersebut kepada Marissa.
"Bubur ayam special untuk wanita ter-spesialku. Aku sendiri yang menyiapkan bubur ini untukmu. Mulai dari memilih mangkoknya, memasukkan buburnya, memberi taburan pelengkapnya, tapi sayang, bukan aku yang membuatnya. Ini buatan Ibu mertuaku yang paling baik seantero negeri," tutur Marcello dengan kerlingan nakalnya.
Marissa terkekeh pelan dan hal itu membuat Marcello sangat bahagia. Marcello meraih sendok dan ingin menyuapi Marissa.
"Nanti dulu, Dad. Aku belum cuci muka,"
Perlahan Marissa bangkit dari tempat tidurnya kemudian melenggang menuju kamar mandi. Marissa menatap wajahnya di cermin. Wajahnya terlihat memucat dan matanya pun agak bengkak karena sejak kemarin hingga tadi malam, air matanya terus saja mengalir tanpa henti.
"Kamu harus bangkit, Cha! Kamu tidak boleh lemah! Apa yang dikatakan oleh Suamimu benar. Ada dua nyawa yang kini bergantung hidup kepadamu!" ucap Marissa dengan bibir bergetar.
Marissa segera mencuci wajahnya dan setelah itu, ia pun kembali ke kamar. Marcello kembali melemparkan senyumannya kepada Marissa yang kini nampak lebih segar.
__ADS_1
"Kemarilah, sarapan dulu. Biar aku yang suapin," ucap Marcello.
Marissa duduk di tepian tempat tidur dan menunggu Marcello menyuapinya. Suapan pertama meluncur di mulutnya. Biasanya ia paling bersemangat memakan bubur buatan Ibunya, tapi sekarang entah mengapa kenikmatan bubur itu seakan sirna. Walau begitu, ia terus menyambut suapan demi suapan dan akhirnya bubur itupun ludes, masuk kedalam perutnya.
"Buburnya enak, 'kan?"
"Entahlah, aku tidak tahu. Yang aku tahu sekarang, bayi kembarku butuh asupan," jawab Marissa dengan tatapan kosong menatap Marcello.
Marcello segera meraih tubuh Marissa dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
. . .
Sofia memperhatikan ekspresi penghuni mansion sejak kemarin. Ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Jika sebelumnya tempat itu selalu terlihat cerah dan membuat seluruh penghuni dan para pekerjanya bersemangat, tetapi kali ini terlihat lebih suram. Bahkan para pekerjanya pun terlihat tidak bersemangat melakukan pekerjaan mereka.
Tiba-tiba ia melihat sosok Joe dari kejauhan. Lelaki dingin itu berjalan ke arahnya dengan aura wajah suram, sama seperti keadaan mansion sekarang.
"Tuan Joe, boleh saya bertanya sesuatu?" ucap Sofia ketika Joe sudah berada di dekatnya.
"Hmm,"
"Kenapa semua orang terlihat muram, Tuan Joe? Atau ini cuma perasaanku saja?"
__ADS_1
Dengan setengah berlari, Sofia mengikuti Joe yang sama sekali tidak ingin menghentikan langkah jenjangnya. Joe mendadak menghentikan langkahnya kemudian dengan secepat kilat berbalik menghadap kearah Sofia.
Akibat Joe berhenti tanpa aba-aba, Sofia menabrak tubuh besar Joe hingga kedua bulatannya menempel sempurna di tubuh lelaki itu.
Apalagi saat itu Joe hanya mengenakan kemeja tipis yang membalut tubuh six pack nya, membuat bulatan penuh milik Sofia terasa begitu kenyal ketika mengenai tubuhnya.
Joe membulatkan matanya, begitupula Sofia setelah menyadari kejadian memalukan tersebut. Joe refleks mendorong tubuh Sofia hingga tubuh gadis itu mundur beberapa langkah kebelakang.
"Lakukan saja pekerjaanmu dengan baik. Tidak usah mencari tahu sesuatu yang bukan urusanmu, Nona kecil!" sahut Joe dengan wajah serius menatap Sofia.
Mata Sofia berkedut ketika membalas tatapan dingin lelaki itu. Tatapan yang membuat Sofia penasaran.
"Ma-maafkan aku, Tuan Joe." Sofia mengangkat kedua tangannya sambil menatap lekat kedua bola mata Asisten dingin itu.
Joe segera berbalik dan kembali melangkahkan kakinya dengan cepat, meninggalkan Sofia yang masih menatapnya hingga lelaki itu menghilang dari pandangannya.
"Huh! Lihat tatapan lelaki itu, membuat aku meleleh!" gumam Sofia sembari mengelus dadanya.
"Ya, Tuhan. Kenapa aku malah terpesona pada perjaka tua itu! Padahal usianya dua kali lipat dari usiaku," gumamnya lagi sambil terkekeh pelan, gadis itu meraih alat tempurnya kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
Joe mengelus dadanya. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak dengan irama yang tidak beraturan setelah kejadian tadi. Beberapa kali ia menarik napas dalam kemudian membuangnya dengan perlahan. Berharap perasaan anehnya segera menghilang.
__ADS_1
"Jangan sampai aku menjilat ludahku sendiri. Aku tidak ingin mempermalukan diriku sendiri, apalagi aku sudah menyatakan kepada Tuan Marcello bahwa gadis kecil itu bukanlah tipeku. Hhhh," gumamnya sambil terus melangkah menuju halaman depan mansion.
...***...