
"Eh, ternyata kamu sudah berada disini rupanya," ucap Marcello.
Marissa yang tadinya duduk di atas pangkuan sang Suami sambil membalas kecup bersama lelaki itu akhirnya turun dan menghampiri Sofia.
"Ya, Tuan," jawab Joe sembari membungkuk hormat.
Sejak tadi Sofia hanya menundukkan kepalanya, adegan mesra yang dilakukan oleh pasangan itu membuat hatinya dag dig dug, tak karuan. Dan rasanya ia ingin segera mempraktikannya.
"Ayo, Sofia. Calonmu sudah tiba," bisik Marissa seraya membantu gadis cantik itu bangkit dari tempat duduknya.
"Aku gugup, Nona."
"Ingat saja hutang-hutangmu padaku, aku yakin rasa gugupmu akan segera sirna," goda Marissa sambil terkekeh pelan.
"Benarkan?"
"Ya," jawab Marissa mantap.
Perlahan Marissa menuntun Sofia menghampiri Joe yang tegang seperti manekin. Berdiri tegap dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak.
"Om Joe, aku titip Sofia, ya! Ingat, jangan buat dia kecewa. Jika Om berani bikin Sofia kecewa maka aku akan minta Suamiku memangkas habis gajimu bulan ini dan aku kasih ke Sofia!" ancam Marissa sambil menyeringai licik.
"Ya, Nona. Tentu saja."
"Sekarang Nona Kecil ini sudah mulai berkuasa, tamatlah riwayatku!" batin Joe.
Joe pasrah, ia menyerahkan lengannya untuk di peluk oleh Sofia. Sama seperti Joe, Sofia pun pasrah dan segera melingkarkan tangannya ke lengan kekar Joe.
Keduanya nampak canggung dan terlihat lucu. Marissa dan Marcello terkekeh melihat pasangan itu berjalan di depan mereka.
"Apakah kita juga terlihat konyol seperti itu, Cha?" tanya Marcello.
__ADS_1
"Ya tidaklah, Dad! Aku 'kan lebih liar dan lebih garang dari Sofia! Tidak ada istilah malu dalam hidupku," sahut Marissa sambil tergelak.
"Kamu benar."
Pasangan itu terlihat kaku. Mereka sama-sama malu dan masih menjaga image mereka masing-masing. Hingga akhirnya kedua pasangan itu tiba di halaman depan Mansion. Joe membukakan pintu mobil untuk Sofia dengan tangan gemetar.
Sofia pun sama, ia terus saja memainkan tas kecil yang sedang ia pegang untuk menutupi tangannya yang gemetar agar tidak terlihat oleh orang-orang.
"Selamat menikmati malam indahmu, Joe! Gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya dan jangan disia-siakan, mengerti maksudku?" ucap Marcello sambil mengedipkan matanya berkali-kali kepada Joe, ketika lelaki itu sudah duduk bersama Sofia di dalam mobilnya.
"Baik, Tuan. Akan selalu saya ingat," jawab Joe.
Setelah mobil yang dikemudikan oleh salah satu Bodyguard itu pergi meninggalkan Mansion, pasangan itupun kembali melangkahkan kakinya menuju kamar mereka.
"Rasanya aku ingin ikut mereka, dinner bareng," ucap Marissa
"Heh, mana ada yang seperti itu?"
"Yang penting tugas Daddy selesai ya, Nak! Soal mereka bisa bersatu ataupun enggak, itu urusan mereka," ucap Marcello sembari mengelus perut Marissa.
"Tapi aku maunya mereka bersatu, Daddy," rengek Marissa.
"Sudahlah, Cha. Biarkan Tuhan yang mengatur perjodohan mereka, peranmu sudah cukup sampai disini," jawab Marcello.
Sementara itu di dalam mobil.
Sejak melesat dari mansion, mobil yang ditumpangi oleh Joe dan Sofia mendadak hening. Tak ada satupun di antara mereka yang ingin membuka suaranya. Termasuk Bodyguard pilihan, yang malam ini menjadi sopir pribadi Joe.
Hingga akhirnya suara berat Joe memecahkan kesunyian di dalam mobil tersebut.
"Apa Nona Marissa yang memintamu menerima acara dinner dadakan ini? tanya Joe tanpa melirik sedikitpun kepada gadis cantik bergaun hitam di sampingnya.
__ADS_1
Sofia mengagukkan kepalanya dengan cepat sembari memperhatikan wajah Joe yang kini penuh dengan keringat dingin.
"Ya, Tuan. Ehnm, Tuan Joe, apa kamu sakit?" tanya Sofia panik sembari meraih sebuah tissu dan mengelap keringat yang membasahi kening Joe.
Joe meraih tangan Sofia dan akhirnya merekapun saling bertatap mata. Untuk beberapa saat mereka terlena pada tatapan mereka masing-masing.
Joe bahkan tidak sadar bahwa kini tanganya sedang mengelus lembut pipi gadis ingusan itu.
Ehem .... Bodyguard berdehem dan membuyarkan lamunan keduanya.
Padahal Sofia sudah berharap lebih dari sekedar tatapan mata. Adegan panas yang diperlihatkan oleh pasangan nyeleneh itu membuat ia penasaran dan ingin mempraktekkannya bersama lelaki dewasa yang sedang duduk di sampingnya.
"Tuan Joe, kita sudah sampai," ucap Bodyguard.
Joe memperhatikan sekelilingnya dan ternyata apa yang dikatakan oleh Bodyguard itu benar adanya. Mereka sudah berada di halaman depan sebuah restoran terbesar di kota mereka.
Setelah Bodyguard membukakan pintu mobilnya untuk Joe, Joe pun segera keluar dari mobil tersebut sambil menuntun Sofia.
"Kamu tidak gugup 'kan, Sofia?" goda Joe, padahal dialah yang sedang gugup.
"Sedikit, Tuan."
Jawaban yang keluar dari bibir indah Sofia membuat Joe menyunggingkan sebuah senyuman.
"Buatlah dirimu nyaman," jawab Joe.
Kehadiran pasangan itu disambut oleh sang Manager restoran. Ia menuntun Joe dan Sofia menuju sebuah meja VIP dan mempersilakan mereka untuk duduk disana. Ini pertama kalinya untuk Sofia dan membuat gadis itu terpelongo dan merasa takjub.
...***...
Nanti di bab selanjutnya ada kejutan dari seseorang lo ... tunggu in ya ...
__ADS_1