
Ternyata petugas yang menjaga Generator Set tersebut sedang tertidur pulas. Ia bahkan tidak sadar bahwa mansion sedang terjadi kekacauan akibat perbuatannya.
Setelah seorang membangunkannya, lelaki itupun bergegas menghidupkan mesin Generator Set tersebut.
Jleebbb ...
Listrikpun menyala, semua orang yang tadinya merasa ketakutan dan kebingungan, akhirnya bisa bernapas lega.
Fiuhh!!!
Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Pasangan Marissa dan Marcello berdiri tepat di hadapan Asisten Joe dan Sofia yang sedang berpelukan dengan erat dan parahnya mereka sama-sama hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuh polos mereka.
"Aaakkkhhh!!!" jerit Marissa.
Marcello yang sama terkejutnya, segera menutup mata Marissa dengan tangannya agar tidak melihat kemesraan kedua orang itu.
Teriakan Marissa menyadarkan kedua orang tersebut. Sofia segera menarik tubuhnya kemudian bersembunyi di balik punggung kekar Joe. Sedangkan Joe hanya bisa mengelus tengkuknya sambil menundukkan kepala.
"Ka-kalian pasangan mesum!" ucap Marissa sembari menepis tangan Marcello yang menutupi matanya.
Mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Marissa, sontak saja Joe dan Sofia membela diri dan mencoba mengelak tuduhan itu.
"Bukan, Nona! Bukan seperti itu!" elak mereka secara bersamaan.
"Sudah Daddy, nikahkan saja mereka! Apa Daddy tidak melihat, mereka itu pasangan mesum!" seru Marissa sambil membulatkan matanya.
"Hush! Jangan berkata seperti itu. Kita tidak tahu kejadian yang sebenarnya seperti apa," ucap Marcello.
Sofia menganggukkan kepalanya dengan cepat sambil mengintip dari punggung Joe. "Benar, Tuan. Kami bersumpah, kami tidak melakukan apapun,"
__ADS_1
"Ish, Daddy! Kenapa tidak mengerti! Icha lagi usaha menikahkan mereka ini, bantuin kenapa?!" bisik Marissa sambil mencubit pinggang suaminya.
"Astaga!" pekik Marcello sambil berbisik.
Marcello mengangkat kepalanya kemudian berucap dengan tegas.
"Apa yang dikatakan oleh Marissa benar, kalian itu pasangan mesum dan harus segera dinikahkan! Benarkan, Cha?!"
"Ya!" sahut Marissa dengan penuh semangat.
Sedangkan Joe dan Sofia begitu terkejut mendengar keputusan Marcello yang begitu tiba-tiba. Hanya dalam hitungan detik, lelaki itu merubah pendapatnya.
"Tapi, Tuan. Bukannya tadi Tuan bilang--" elak Joe
"Keputusanku sudah bulat, kalian adalah pasangan mesum dan harus segera dinikahkan. Titik!" ucap Marcello dengan wajah terangkat.
Joe memijit pelipisnya. Melawan perintah Marcello yang sedang berada di bawah kekuasaan si Macan Bunting, sama seperti menghadapi seorang anak kecil. Tidak akan pernah menang, walaupun ia benar.
"Bagaimana, Joe? Pilih menikahi Sofia atau ku suruh para Bodyguard menggiringmu bersama Sofia mengelilingi Mansion tanpa pakaian sehelai pun?!" ucap Marcello sambil menyeringai licik.
Marcello terkekeh pelan mengingat dirinya pernah diancam seperti itu oleh Pak Kades di desa kelahiran Fattan. Kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dan warga, mengakibatkan dirinya harus menikahi Marissa.
"Aku serasa kembali ke masa lalu, Cha. Dimana aku dipaksa menikahimu karena kesalahan pahaman," bisik Marcello di samping telinga Marissa.
"Ya, kejadian itu kalau di ingat-ingat lucu juga ya, Dad," sahut Marissa.
Joe masih memperhatikan ekspresi bahagia sepasang suami istri yang sedang berdiri di hadapannya. Joe ingin sekali mengetes pernyataan Marcello. Apakah lelaki itu serius, atau hanya menggertak dirinya saja.
"Saya memilih diarak keliling Mansion dengan tubuh polos, Tuan."
__ADS_1
"Apa?!" pekik Marissa, Marcello dan Sofia secara bersamaan.
Mereka tidak percaya bahwa Assisten Joe yang dingin itu lebih memilih diarak keliling mansion dari pada menikahi Sofia.
"Tidak, tidak! Aku tidak mau!" jerit Sofia yang tidak terima bahwa dirinya akan diarak bersama Joe dengan tubuh polos.
Marissa dan Marcello saling tatap, rencana mereka ternyata gagal.
"Baiklah kalau begitu, sekarang lepaskan handuk kalian dan bersiaplah diarak keliling mansion," titah Marcello dengan wajah masam.
Sofia menangis histeris. Ia benar-benar tidak terima dirinya akan diarak tanpa pakaian sehelai pun. Jika seandainya ia diberikan kesempatan untuk memilih, tentu saja ia memilih untuk menikahi Tuan Joe yang kaku itu.
"Ya Tuhan, cobaan apalagi ini?!" lirih Sofia di sela isak tangisnya.
"Ayo, tunggu apalagi? Lepaskan handuk kalian!" titah Marcello lagi. Sedangkan sang Istri terus menekuk wajahnya karena kesal.
Joe sadar bahwa Marcello tidak sedang main-main dengannya. Joe mengembuskan napas berat kemudian kembali memohon kepada lelaki itu.
"Maafkan saya, Tuan Marcello. Setelah mempertimbangkannya lagi, saya memilih menikahi Sofia."
Keputusan kedua Asisten Joe membuat Marissa dan Sofia menghembuskan napas lega. Marissa bahagia karena rencananya menyatukan kedua orang itu akhirnya berhasil. Sedangkan Sofia senang karena ia tidak jadi diarak keliling mansion oleh para Bodyguard.
"Benarkah? Kamu serius?!" tanya Marcello penuh selidik.
"Ya, Tuan. Saya serius," jawab Joe.
"Sekarang kalian puas, ha! Puas sudah berhasil mengerjai aku?!" jerit Joe dalam hati.
...***...
__ADS_1