
"Bukankah itu Maria?"
Mata elang itu fokus pada seorang gadis yang sedang duduk seorang diri di sebuah kursi taman. Wajahnya terlihat murung dan penampilannya pun terlihat acak-acakan.
Karena penasaran lelaki bertubuh besar itu menepikan mobilnya ke tempat yang lebih aman. Sebelum ia keluar dari mobil, lelaki itu melepaskan jas serta dasi yang sedang ia kenakan dan meninggalkannya di dalam mobil.
Ia berjalan menghampiri Maria yang sedang duduk seorang diri sambil melamun.
"Hei, apa kamu tidak takut kesambet, duduk disini seorang diri?"
Maria menengadah kemudian menatap lelaki dewasa yang dulu menabrak motornya.
"Om Udin? Ngapain kamu disini?"
"Sebenarnya aku ingin menjemput Bossku, tetapi aku tidak sengaja melihatmu duduk sendirian disini. Kamu tahu, gadis secantik kamu duduk disini seorang diri pasti akan mengundang kejahatan. Apa kamu tidak takut akan hal itu?"
Maria menghembuskan napas berat dan wajahnya kembali murung.
"Sepertinya aku lebih takut pada Daddyku dari pada setan di tempat ini ataupun seseorang yang ingin berbuat jahat kepadaku," sahut Maria sambil menundukkan kepalanya.
"Benarkah? Apakah Daddymu semenakutkan itu?"
"Bagiku, ya."
Lelaki itu terkekeh pelan kemudian duduk di samping Maria. Maria tidak terlalu peduli apapun yang dilakukan oleh lelaki itu karena saat ini pikirannya sedang kalut.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu sebenarnya kamu kenapa?"
"Aku baru saja mendapat teguran dari Kepala Sekolahku, Om. Dan aku yakin sekali saat ini Mommy dan Daddyku sedang berada di sekolah. Ini semua gara-gara Trio Judes itu. Mereka terus menggangguku dan tidak salah 'kan kalau aku mencoba membela diriku? Ini bukan pertama kalinya aku mendapatkan masalah seperti ini. Di sekolahku sebelumnya pun sama, aku dibully oleh siswi di sekolah itu hanya karena lelaki yang ia sukai malah menyukaiku, lalu salahku dimana?"
Terlihat setitik butiran bening keuar dari sudut mata Maria, tetapi dengan secepat kilat gadis itu menyekanya agar lelaki yang ia kenal dengan sebutan Om Udin itu tidak menyadarinya. Namun, Maria salah. Ternyata lelaki itu sempat melihatnya.
"Apa orang tuamu mengetahuinya?"
Maria tersenyum getir. "Tahu, tapi sepertinya Daddy tidak terlalu percaya karena Daddy tahunya aku 'kan memang nakal."
Maria kembali menghembuskan napas panjang dan terdengar sangat berat. "Parahnya lagi, mungkin kali ini aku akan segera dinikahkan," lanjut Maria.
"Menikah? Di usiamu yang semuda ini?"
"Ya, Daddy itu tidak pernah main-main kalo ngomong. Kalo dia bilang nikah, ya nikah beneran. Kata Daddy tidak masalah nikah muda, lah Daddy sendiri nikah di usianya yang masih sangat muda," sahut Maria.
"Eh, Om Udin. Kamu masih belum mengganti biaya kerusakan motorku. Bahkan lecet di lututku saja masih belum sembuh. Coba lihat ini!"
Maria menunjuk luka lecet yang ia tempel dengan plester luka bermotif kartun itu kepada Om Udin.
"Bagaimana jika aku tidak bisa menggantinya?"
"Ih! Gak boleh gitu, Om Udin. Kamu harus tetap ganti rugi. Kalau tidak bisa menggantinya dengan uang, kamu bisa menggantinya dengan tenangamu, bagaimana?"
Lelaki itu nampak berpikir sambil menautkan kedua alisnya ketika bertatap mata bersama Maria.
__ADS_1
"Tenagaku, contohnya seperti apa?"
"Jika aku memerlukanmu, kamu harus datang padaku dan lakukan apapun yang aku perintahkan. Bagaimana?"
"Heh, yang benar saja. Kurasa kerugianmu tidak terlalu besar tetapi kenapa aku harus membayarnya dengan cara seperti itu," tolaknya.
"Ih, apa kamu sudah lupa, Om. Bahwa aku meminta ganti rugi sebanyak satu milyar. Apa kamu sanggup membayarnya dengan uang?"
"Kamu benar-benar licik, ya," ucap lelaki itu sambil terkekeh pelan. "Kecil-kecil sudah matre, bagaimana nanti kalau sudah dewasa."
"Tidak apa, lagipula aku sangat yakin bahwa yang akan menjadi suamiku nanti pasti dari kalangan orang berduit sama seperti Daddy."
Lelaki itu mencebikkan bibirnya. "Bagaimana jika suamimu seperti aku, miskin dan tidak berduit?"
"Haha! Tidak mungkin lah," jawab Maria mantap.
"Ya, siapa tahu tiba-tiba saja Tuhan menjodohkanmu dengan seseorang seperti diriku yang kere, tidak berduit dan hanya seorang sopir."
Maria memukul lengan lelaki itu sambil membulatkan matanya. "Jangan berkata seperti itu, Om Udin. Apa kamu tahu, 'ucapan adalah doa'. Jadi, jangan mendoakan aku yang aneh-aneh seperti itu," kesal Maria.
"Iya, iya. Maaf."
"Eh, bukankah katanya Om Udin mau menjemput Bossnya. Kenapa malah menemaniku disini? Apa Boss Om Udin tidak akan marah?"
Lelaki itu menggelengkan kepalanya. "Bossku adalah lelaki yang baik. Dia tidak suka marah-marah."
__ADS_1
"Wah, beruntung sekali kalau begitu. Aku yakin Bossmu pasti sangat kaya ya, Om Udin. Lihat! Kemejamu saja sama seperti kemeja yang sering digunakan oleh Daddyku," ucap Maria sambil memperhatikan kemeja yang dikenakan oleh lelaki itu.
...***...