
Dylan keluar dari Bath Up sambil memperhatikan Maria yang masih merangkak di lantai kamar mandi persis seperti bayi besar.
"Maria sayang." Dylan terkekeh sembari menghampiri gadis itu dan membantunya bangkit.
"Maafkan aku," ucap Dylan yang kemudian memeluknya dengan erat.
"Ih, kamu jahat!" kesal Maria seraya melerai pelukannya bersama Dylan. "Kamu bilang rasanya seperti digigit nyamuk. Mana ada digigit nyamuk rasanya seperti itu. Yang ada seperti digigit harimau!" lanjut Maria.
Gadis itu menutup rapat kedua kakinya untuk mengurangi rasa perih yang masih terasa di area sensitifnya itu. Bahkan area pribadi Maria saat itu sudah mengeluarkan sedikit darah akibat serangan dari senjatanya Dylan.
"Aku serius, sakitnya memang seperti digigit nyamuk, kok," sahut Dylan yang masih mengulum senyum.
"Nyamuk apa? Harimau yang menyerupai nyamuk, begitu?!" pekik Maria sambil menekuk wajahnya.
Dylan kembali terkekeh. "Aku 'kan tidak bilang nyamuknya segede apa. Kalau nyamuknya segede harimau, itu artinya aku tidak salah donk," sahut Dylan.
"Ish, dasar!" Maria memukul lelaki itu sambil menekuk wajahnya.
Dylan kembali meraih tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. "Sekarang bagaimana?"
"Masih sakit," lirih Maria.
"Baiklah!" Dylan mengangkat tubuh Maria dan membawanya kembali ke kamar kemudian meletakkannya di atas tempat tidur mereka. "Kita lanjutkan nanti, setelah kamu sudah siap." Dylan tersenyum hangat kemudian melabuhkan ciuman hangatnya di puncak kepala Maria.
Setelah itu ia pun ikut berbaring di samping Maria sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua. Dylan memeluk erat tubuh Maria dan mencoba memejamkan matanya.
Maria yang masih belum mengantuk, mendongak dan memperhatikan wajah tampan Dylan yang sedang terpejam. Wajahnya terlihat sangat tenang. Tidak terlihat kekecewaan di wajah lelaki itu walaupun seharusnya ia kesal karena malam pertama mereka gagal.
Maria kembali meletakkan kepalanya ke dada sang suami yang kini benar-benar sudah tertidur. Hembusan napas Dylan terdengar sangat merdu di telinganya.
__ADS_1
"Ya, Tuhan ... apa aku sudah melakukan dosa besar? Aku yakin dia pasti kecewa hanya saja dia tidak ingin menampakkan kekecewaannya kepadaku. Tapi ... aku masih takut akan rasa sakitnya. Gimana donk?" gumam Maria.
Setelah berperang dengan pikirannya sendiri, akhirnya Maria membulatkan tekadnya untuk menuntaskan malam pertamanya malam ini juga.
"Baiklah! Sudah aku putuskan bahwa aku akan menuntaskannya malam ini juga. Benar kata Tuan Emonku, tidak akan ada yang mati hanya gara-gara belah duren."
Maria mencolek-colek hidung Dylan beberapa kali, tetapi lelaki itu tidak juga membuka matanya. Ia masih terlelap dalam mimpi indahnya.
Karena Dylan tidak juga merespon, dengan terpaksa Maria memainkan senjata Dylan yang juga sedang tertidur sama seperti empunya.
Maria memainkan senjata lelaki itu dengan tangannya di bawah selimut. Turun dan naik, dari gerak lamban hingga sekarang Maria mulai mempercepat gerakan tangannya.
Akhirnya perjuangan Maria tidak sia-sia, senjata itu bangkit, begitupula sang empunya. Dylan mengusap wajahnya sambil tersenyum hangat menatap Maria.
"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu membangunkan aku?" tanya Dylan.
"Aku ingin kita menyelesaikan sesuatu yang tertunda, malam ini juga. Bagaimana?" ajak Maria dengan kerlingan nakalnya.
"Ya, aku serius!" sahut gadis itu.
Dylan segera bangkit kemudian menaiki tubuh gadis itu. Dengan semangat ia melakukan pemanasan di tubuh Maria. Menjelajahi bibir, leher, hingga kedua bulatan kembar berukuran besar tersebut.
Beberapa kali Maria mendesaah hingga tubuhnya pun ikut menggeliat karena sentuhan-sentuhan yang dilancarkan oleh Dylan. Setelah puas bermain di tubuhnya, kini jari-jari nakal lelaki itu mulai menjamah bagian area pribadi gadis itu.
Area gadis itu sudah basah dan siap menerima serangan dari senjatanya. Namun, sebelum Dylan kembali memulai aksinya. Ia pun kembali bertanya kepada Maria.
"Bagaimana, apa kamu sudah siap? Jika kamu masih ragu, kita bisa menundanya lagi," ucap Dylan.
"Aku sangat yakin dan aku sudah siap!" jawab Maria mantap.
__ADS_1
Dylan tersenyum puas setelah mendengar jawaban istri kecilnya itu. "Baiklah, kita mulai saja. Tapi tahan ya, Maria. Mungkin kali ini rasanya lebih sakit daripada digigit nyamuk."
"Ya, memang seperti digigit nyamuk, tapi nyamuknya sebesar beruang madu, benar 'kan?" sahut Maria sambil memejamkan matanya, bersiap menerima serangan maut dari Dylan.
Dylan sempat tersenyum dan sekarang ia fokus pada senjatanya yang sudah berada di depan lorong sempit milik Maria. Senjatanya manggut-manggut dan sepertinya sudah tidak tahan ingin menelusuri lorong itu hingga ke sudut terdalamnya.
Setelah mengembuskan napas panjang, Dylan pun kembali memasukkan senjatanya dan kali ini tidak tanggung-tanggung. Ia terobos lorong sempit itu hingga ke sudut terdalamnya.
Maria kembali memekik kesakitan. Dan kali ini ia benar-benar merasakan sakit dua kali lipat dari yang pertama. Namun, kali ini tubuh gadis itu di tahan oleh Dylan. Ia tidak ingin kejadian di kamar mandi terulang lagi. Disaat senjatanya sedang enak-enak malah ditinggal kabur oleh gadis itu.
"Hush! Aku janji, kamu akan baik-baik saja. Kamu percaya padaku, 'kan?" bisik Dylan di samping telinga Maria.
Perlahan Maria menganggukkan kepalanya. Ia pasrah dan mencoba mempercayakan semuanya kepada Dylan.
Setelah membersihkan darah perawan yang keluar dari area sensitif Maria, Dylan mulai menaik turunkan panggulnya. Dari gerakan lambat hingga sekarang ia mulai mempercepat gerakannya.
Walaupun Maria masih merasakan sakit, tetapi rasa sakitnya tidak seperti pertama kali senjata itu menguasai area sensitifnya. Sekarang ia sudah merasakan kenikmatan itu. Rasa nikmat yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Setelah beberapa menit kemudian, Dylan nampak menegang begitupula Maria. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan kegiatan panas mereka. Karena pada dasarnya mereka sama-sama masih pemula.
Dengan napas terengah-engah, Dylan menatap wajah Maria yang kini juga sama seperti dirinya. "Bagaimana, apa kamu sudah selesai?" tanya Dylan.
"Ya," sahut Maria sambil menganggukkan kepalanya.
Dylan tersenyum puas dan merebahkan tubuhnya di samping Maria kemudian memeluknya dengan erat.
"Sekarang tidurlah, kita bisa mengulanginya besok malam."
"Besok malam?" tanya Maria.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kamu mau mengulanginya pagi hari? Pagi hari boleh juga," sahut Dylan sambil tersenyum puas.
...***...