
Satu persatu tamu undangan berpamitan kepada Marissa dan Marcello. Walaupun pada awalnya para warga kesal, tetapi sekarang mereka turut bahagia atas pernikahan pasangan itu.
Tepat di saat itu dua buah mobil mewah berhenti tepat di halaman rumah Bu Nilam. Marcello mengenali mereka, yang tidak lain adalah Joe beserta beberapa orang Bodyguardnya.
Joe keluar dari mobil sambil memijit kepalanya yang masih terasa berputar-putar. Ia menghampiri Marcello dengan wajah kusut.
"Selamat malam, Tuan Marcello. Tuan Fattan memberitahu saya bahwa Anda sedang dalam masalah. Sebenarnya ada masalah apa, Tuan?" tanya Joe.
Joe memperhatikan penampilan Marcello dari ujung kepala hingga ujung kaki. Apalagi saat itu Marcello mengenakan kemeja yang bisa dikatakan murah oleh mereka. Namun, bagi Fattan kemeja itu merupakan kemeja terbaik yang pernah ia miliki.
"Sudah terlambat! Mereka sudah menikahkan aku," jawab Marcello dengan wajah kesal menatap Asistennya itu.
"Menikah? Maksud Tuan?"
"Apa kamu tidak melihat ada yang berbeda dariku malam ini? Aku menikah, Joe! Aku sudah menikahi anak gadisku sendiri!"
"Apa?!" pekik Joe yang tidak percaya dengan ucapan Bossnya itu.
"Ya, karena terjadi kesalah pahaman, warga akhirnya menikahkan aku dengan Marissa karena kami dianggap sebagai pasangan mesum."
Joe ingin tertawa ketika mendengar penuturan Marcello, tetapi ia tidak berani melepaskan tawanya.
"Lalu, dimana Nona Marissa sekarang?" tanya Joe.
Tiba-tiba dari balik pintu, muncul Marissa yang masih mengenakan kebaya pengantinnya. Ia menghampiri Marcello kemudian berdiri di samping lelaki itu.
"Aku di sini, Tuan Joe. Ada apa?" tanya Marissa.
Joe membulatkan kedua matanya ketika memperhatikan gadis cantik dengan balutan kebaya pengantin itu. Ia bahkan tidak bisa berkata-kata lagi.
"Joe, kondisikan matamu!" kesal Marcello sembari mengusap wajah Joe dengan kasar karena terus menatap wajah cantik istri kecilnya.
__ADS_1
"Maafkan saya, Tuan."
"Joe, sebaiknya kita kembali malam ini juga. Aku tidak ingin menyusahkan Bu Nilam lebih lama lagi," ucap Marissa.
"Apa?!" pekik Marissa.
Marissa tidak percaya bahwa Marcello bisa memutuskan kepulangan mereka secepat itu. Padahal ia masih ingin menikmati desa itu lebih lama lagi.
"Ya, Cha. Kita kembali malam ini juga. Selain tidak ingin menyusahkan Bu Nilam, Daddy juga sudah tidak punya nyali menampakkan wajah Daddy kepada warga desa ini. Daddy benar-benar malu. Lagipula kita harus secepatnya mengurus pernikahan kita, 'kan?" tutur Marcello.
"Tapi,"
Marissa mencoba menolak, tetapi sepertinya tidak mungkin. Marcello tetap teguh pada pendiriannya, ingin membawa Marissa pulang bersamanya ke Mansion.
"Sebaiknya bersiaplah, Cha."
Marcello menatap lekat mata gadis itu sambil mengelus pundaknya dengan lembut. Dengan berat hati, akhirnya Marissa pun menyetujuinya dan bersiap-siap untuk pulang malam ini juga.
Marissa melangkah gontai memasuki rumah sederhana milik Bu Nilam. Ia menghampiri wanita paruh baya itu dengan wajah lesu. Saat itu Bu Nilam duduk di kursi yang ada di dapur bersama Erika dan Fattan.
"Bu," sapa Marissa.
"Ada apa, Nak? Kok, wajahnya murung begitu?" tanya Bu Nilam.
Marissa meraih sebuah kursi kosong kemudian duduk di samping Bu Nilam.
"Bu, sepertinya Marissa dan Tuan Marcello akan kembali malam ini juga. Dia tidak ingin menyusahkan Bu Nilam dan Pak Fattan dengan kehadiran kami di sini," lirih Marissa.
Bu Nilam membulatkan matanya. Selama ini ia sudah menganggap Marissa seperti anaknya sendiri dan ia tidak siap jika gadis itu pulang secepat ini. Ia melirik Marissa yang kini meletakkan kepala di pundaknya.
"Tapi, Nak, kenapa secepat ini? Tidak bisakah kalian tinggal satu atau dua hari lagi di sini?" ucap Bu Nilam sambil mengelus pipi gadis itu.
__ADS_1
"Ya, kenapa harus secepat ini, Marissa?!" tanya Fattan yang juga tidak kalah terkejutnya.
"Ini sudah jadi keputusan Tuan Marcello dan Marissa bisa menolaknya, Bu."
Bu Nilam menatap sedih kepada gadis itu sambil membuang napas berat. "Baiklah, kalau begitu, Nak. Ibu pun tidak bisa memaksa kalian untuk tinggal lebih lama lagi disini. Tapi, jangan lupakan Ibu ya, Nak. Sering-sering ajakin suaminya main kesini."
"Terima kasih banyak, Bu. Karena selama ini Bu Nilam sudah berbaik hati bersedia membantu Marissa."
Mata Marissa berkaca-kaca ketika mengucapkannya dan hal itu membuat Bu Nilam ikut terharu. Wanita paruh baya itu segera memeluk tubuh Marissa dan merekapun menangis haru bersama.
Sedangkan Erika terharu sendiri. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Fattan sambil terisak. Namun, karena Fattan tidak juga menghiraukannya, maka ia pun kembali berucap kepada Pak Dosen tampan itu.
"Pak Fattan, aku ini sedang sedih loh, Pak! Coba peka dikit napa," ucapnya.
Fattan menoleh kepada gadis itu kemudian terkekeh pelan. "Pelukan saja sana sama mereka," jawabnya.
"Ya, Tuhan. Pak Fattan, Anda benar-benar menyebalkan!" kesal Erika.
Sementara itu di teras rumah Bu Nilam.
Marcello masih berbincang bersama Joe, Sedangkan para Bodyguard sudah siap membawa Boss mereka kembali ke kota.
"Joe, aku bingung bagaimana caraku memperlakukan Marissa mulai dari sekarang. Karena saat ini status Marissa bukan lagi sebagai gadis kecilku, melainkan sebagai seorang istri. Apakah aku harus melakukan hal itu juga bersamanya, Joe?" tanya Marcello sambil memijit pelipisnya. Kepalanya terasa pusing saat memikirkan hubungannya bersama Marissa.
"Tentu saja, Tuan. Bukankah Nona Marissa sudah sah menjadi Istri Anda dan hal itu sudah menjadi kewajiban Anda sebagai suaminya," sahut Joe mantap.
"Oh Tuhan! Bagaimana cara memulainya, Joe? Aku ragu bisa melakukan hal itu bersamanya."
Joe tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya perlahan sambil menatap Bossnya yang sedang kebingungan.
...***...
__ADS_1