
"Om, apa lelaki tua itu baik-baik saja?" tanya Maria yang masih cemas.
"Sudah, tidak usah kamu pikirkan. Dia tidak akan semudah itu mati karena dosanya yang begitu banyak."
Dylan memperhatikan Maria dengan seksama, dari ujung kepala hingga ujung kaki kemudian membolak-balikkan tubuh gadis itu, hingga Maria merasa kebingungan.
"Ish, Om kenapa sih?"
"Hanya memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Aku tidak ingin Tuan Marcello memarahiku karena anak gadis kesayangannya lecet," sahut Dylan.
Maria terkekeh pelan. "Bukan Maria yang lecet, Om. Tetapi lelaki tua itu, aku yakin sekali kepalanya pasti lecet akibat timpukan superku."
Dylan kembali menggelengkan kepalanya. "Aku tidak habis pikir, bagaimana kamu bisa berada di tempat ini, Maria. Perasaan aku berangkat sendirian, kenapa tiba-tiba ada kamu disini. Kamu itu udah seperti--" Dylan menghentikan ucapannya.
"Jangan bilang Maria seperti hantu, ya!" sahut Maria dengan mata membulat menatap lelaki itu.
"Ah, sudahlah. Sebaiknya aku menghubungi Mac. Aku membutuhkan bantuannya sekarang."
Dylan meraih ponselnya kemudian menghubungi Mac dan meminta asistennya itu untuk menyusulnya ke kediaman Tuan Damian dengan membawa serta polisi bersamanya. Setelah selesai bicara bersama asistennya itu, Dylan pun mengembalikan ponselnya ke dalam saku celana.
"Jadi benar, lelaki tua itu adalah Tuan Damian? Lelaki yang sudah berbuat jahat kepada Kakakmu?" tanya Maria sambil memperhatikan wajah kusut Dylan.
"Ya, lelaki bajingann yang merupakan ayah kandung kedua keponakanku, Shakila dan Aira," kesal Dylan sambil mendengus kesal.
Maria memperhatikan wajah kesal Dylan tanpa berkedip sedikitpun dan ia melihat pelipis lelaki itu terluka dan lukanya masih mengeluarkan darah walaupun tidak banyak.
__ADS_1
"Wajahmu terluka, Om. Sini, biar Maria bantu bersihkan lukanya."
Maria meraih tas ransel yang memang sejak tadi menempel di punggung gadis itu . Maria merogoh isi ransel tersebut dan akhirnya ia menemukan apa yang ia cari. Sebuah tissue dan plester luka yang memang selalu ia bawa kemana-mana.
Dylan memperhatikan benda apa yang di ambil oleh Maria dan ternyata tebakan Dylan benar 100 persen. Sebuah tissue dan plester luka warna warni dengan motif berbeda-beda.
"Sudah kuduga!" ucap Dylan dalam hati.
"Menunduklah," titah Maria kepada Dylan karena ia kesusahan menggapai wajah lelaki itu.
Dylan tersenyum tipis dan ia pun mendudukkan tubuhnya agar si Nona Kitty bisa melakukan keinginannya.
Perlahan, Maria membersihkan noda darah yang masih keluar dengan menggunakan tissue kemudian setelah itu ia pun memasangkan salah satu plester luka miliknya ke pelipis Dylan.
Satu ciuman mendarat di pelipis Dylan yang baru saja ia kasih plester luka sambil tersenyum hangat. Dylan pun membalas senyuman gadis itu seraya membelai pipi mulusnya.
Tidak butuh waktu lama, Mac tiba di tempat itu bersama beberapa anggota polisi. Setelah mendapatkan laporan dari Mac, merekapun dengan sigap menindak Tuan Damian. Tuan Damian digiring ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
"Tenang saja, Dylan. Aku pastikan lelaki itu mengakui semua perbuatan jahatnya kepada Kakakmu. Dan dia harus menerima hukuman yang setimpal atas kejahatan yang sudah ia lakukan," tutur salah satu Polisi yang mengepalai penangkapan Tuan Damian. Yang juga merupakan salah satu sahabat Dylan ketika masih duduk di bangku SMA.
"Terima kasih banyak, Teman. Aku berhutang banyak padamu. Oh ya, kenalkan ini tunanganku, Maria." Dengan bangga Dylan memperkenalkan Maria kepada sahabatnya.
Lelaki itu menaikkan alisnya sambil menatap Maria yang terlihat sangat menggemaskan. Ia mengulurkan tangannya kepada Maria dan memperkenalkan dirinya kepada gadis itu.
"Selamat ya, Dylan. Jangan lupa undangannya."
__ADS_1
"Tentu saja, undangan pernikahan kami pasti akan meluncur dengan sempurna ke tanganmu," sahut Dylan dengan wajah semringah.
Lelaki itu menepuk pundak Dylan pelan sambil menggoda lelaki itu.
"Sudah lama kita tidak bertemu dan setelah kita bertemu, aku begitu shok melihat dirimu, Dylan. Kamu-- nampak berubah." Polisi itu mengulum senyum sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Dylan nampak bingung. Ia tidak tahu apa yang berubah pada dirinya. "Aku berubah? Benarkah, berubah seperti apa? Apa aku terlihat lebih keren sekarang," sahut Dylan dengan sambil tersenyum lebar.
"Maaf, mengecewakanmu, Teman. Tapi, sebenarnya bukan itu. Kamu terlihat lebih manis dan menggemaskan sekarang. Apalagi dengan stiker luka yang lucu itu," sahut lelaki itu sembari melangkahkan kakinya menjauh dari Dylan.
Mac yang berdiri tak jauh dari mereka pun mendengar ucapan polisi tersebut. Ia tertawa pelan sambil menundukkan kepalanya.
Dylan menekuk wajahnya dengan sempurna seraya menyentuh plester luka yang baru saja diberikan oleh Maria. Dan ia sama sekali tidak tahu seperti apa motif plester luka tersebut.
"Bagus!" gumam Dylan.
Setelah para polisi yang membawa Tuan Damian kembai, Mac pun segera kembali ke kantor. Sekarang tinggal Dylan dan Maria yang masih berada di depan kediaman Tuan Damian.
"Sebaiknya kita pulang dan aku akan mengantarkanmu kembali," ucap Dylan sembari membuka pintu mobilnya dan mendorong pelan tubuh gadis itu memasuki mobilnya.
"Lah, motorku bagaimana, Om?" tanya Maria cemas.
"Perintahkan saja anak buah Daddymu untuk menjemputnya. Siapa juga yang suruh kamu mengikutiku hingga ke tempat ini," sahut Dylan.
...***...
__ADS_1