
"Terima kasih, Tuan Muda. Terima kasih atas bantuannya."
Beberapa kali Shakila menunduk hormat kepada Marvel yang berdiri di hadapannya. Sedangkan Marvel memperhatikan Shakila sambil tersenyum, dengan kedua tangan berada di dalam saku celana yang sedang dikenakannya.
"Sama-sama."
Shakila berbalik dan bersiap keluar dari ruangan itu. Namun, tiba-tiba saja Marvel menggapai tangannya kemudian menariknya perlahan hingga mereka kembali bertatap mata.
"Ya, Tuan?"
"Ada sesuatu di rambutmu," ucap Marvel sembari mengambil sesuatu yang menempel di rambut Shakila sambil tersenyum hangat.
Jantung gadis itu berdetak dengan cepat dan membuat tubuhnya menjadi lemas. Apalagi jarak antara dirinya dan Marvel sangatlah dekat, hanya berjarak beberapa centi saja. Deru napas lelaki itu bahkan terdengar sangat jelas di telinganya.
"Sudah."
"Ehm, te-terima kasih, Tuan."
Shakila pun kembali berbalik dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Kini tinggal Marvel yang terdiam sambil memandangi punggung Shakila yang bergerak menjauh. Bahkan hingga menghilang dari pandangannya.
"Ya Tuhan, jantungku!" ucap Shakila sambil melangkahkan kakinya dengan cepat.
Namun, langkahnya sempat terhenti ketika melihat Melvin yang berjalan berlawanan arah dengannya.
"Astaga, Tuan Muda Melvin! Sebaiknya aku kembali ke ruangan Tuan Muda Marvel saja," gumam Shakila yang kemudian membalikkan badan dan ingin melangkah menuju ruang kerja Marvel.
Baru beberapa langkah Shakila berbalik, Melvin memanggil nama gadis itu sambil berlari kecil menghampirinya.
"Shakila, tunggu!"
"Haduh!" gumam Shakila sambil menepuk jidatnya.
__ADS_1
Perlahan Shakila berbalik sambil tersenyum kecut menatap Melvin. "Ya, Tuan Muda."
Melvin memperhatikan Shakila dari ujung kepala hingga ujung kaki dan terakhir, ia memperhatikan laptop serta buku yang masih dipegang oleh Shakila.
"Apa itu, tugas lagi? Sini, mana! Biar aku bantu," ucap Melvin sembari meraih laptop dan buku yang dipegang oleh Shakila.
Shakila menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Tuan. Ini sudah selesai."
"Kamu serius?"
Melvin menatap wajah cantik Shakila dengan jarak yang sangat dekat. Ia menuntun gadis itu hingga bersandar di dinding ruangan.
"Tu-tuan Muda Melvin, a-aku--"
Shakila mencoba menyingkir dari Melvin, tetapi tubuh besar lelaki itu menghalangi tubuh mungilnya. Tidak ada celah sedikitpun bagi Shakila untuk menghindar dari lelaki itu.
"Shakila, pertanyaanku masih sama seperti yang sudah-sudah. Maukah kamu menerima cintaku dan menjadi kekasihku?"
"Tuan, aku--"
Terdengar suara seseorang sedang berdehem. Melvin dan Shakila sontak menoleh ke arah asal suara dan ternyata Joe berdiri di belakang mereka sambil memasang wajah masam.
"Tuan Muda Melvin, Tuan Marcello memanggil Anda. Dan kamu ...." Joe menunjuk kepada Shakila dengan tatapan tajam menohok.
"Pulanglah! Mommy-mu pasti membutuhkan bantuanmu," titah Joe.
"Ba-baik, Daddy."
Shakila segera pergi dari tempat itu sambil berlari kecil. Sedangkan Melvin masih berdiri di ruangan itu sambil menatap Joe dengan wajah masam.
"Om Joe. Jangan marahi Shakila. Ini salahku, akulah yang sudah mengganggunya," ucap Melvin.
__ADS_1
Joe tidak menjawab, ia membungkuk hormat kemudian mempersilakan Melvin untuk mengikutinya ke ruang utama, dimana Marcello sudah menunggu kedatangan Melvin.
"Sebaiknya ikuti saya, Tuan Muda Melvin."
Melvin menghembuskan napas berat kemudian melangkah mengikuti jejak Joe dari belakang.
Setelah mengantarkan Melvin menuju ruang utama, Joe pamit dan kembali ke rumahnya. Ia ingin segera menemui Shakila dan mengajak anak gadisnya itu bicara.
Ternyata Shakila sedang berada di dapur, membantu Sofia yang sedang memasak untuk seluruh keluarganya. Sofia memang memiliki beberapa orang pelayan, tetapi karena ia sudah terbiasa memasak sendiri untuk keluarganya, maka hampir setiap hari ia bergelut di ruangan itu bersama Shakila dan kadang-kadang Lea pun ikut membantunya.
"Shakila, bisa Daddy bicara sebentar?" panggil Joe.
"Baik, Daddy."
Shakila menghentikan pekerjaannya. Ia mengikuti Joe yang menuntunnya menuju ruang tengah kemudian duduk disana.
"Daddy yakin, kamu pasti sudah tahu apa yang ingin Daddy bicarakan, bukan?"
Shakila menganggukkan kepalanya perlahan sambil terus menatap kedua mata Joe saat itu.
"Shakila, Daddy tidak bermaksud melarangmu untuk jatuh cinta kepada siapapun. Kamu berhak jatuh cinta pada siapa saja, tetapi tidak untuk Tuan Muda. Kita harus tahu batasan kita, Nak. Kita hanya bawahan mereka dan akan tetap seperti itu selamanya."
"Ya, Daddy. Shakila mengerti," sahut Shakila dengan mata berkaca-kaca membalas tatapan Joe.
"Apalagi sekarang Tuan Marcello sedang bersiap mencari calon istri untuk kedua putranya, terutama untuk Tuan Muda Marvel, baru setelah itu Tuan Muda Melvin."
Shakila terdiam kemudian menundukkan kepalanya menghadap lantai.
"Jangan bersedih, Shakila. Nanti Daddy carikan lelaki yang baik untukmu, yang bisa membimbingmu walaupun mungkin tidak akan sama seperti Tuan Muda Marvel ataupun Tuan Muda Melvin."
"Tidak, Daddy!" Shakila menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Untuk saat ini, Shakila belum punya keinginan untuk menikah. Kuliah Shakila bahkan belum selesai dan Kila juga belum pernah merasakan yang namanya bekerja, Dad," tolaknya.
__ADS_1
Joe tersenyum kemudian meraih tubuh mungil Shakila ke dalam pelukannya. "Ya, siapa tahu Gadis mungil Daddy ingin segera menikah, 'kan. Jadi, biar Daddy bantu mencari calon suami yang tepat untukmu," ucap Joe sambil terkekeh pelan.
...***...