
Setelah mendapatkan lingerie tersebut, Marissa segera memilih salah satu di antaranya, yang menurutnya paling seksi dan sangat menggairahkan. Ia memilih lingerie berwarna merah terang dan transparan.
Marissa meraih lingerie tersebut kemudian mengenakannya. Ia melenggak-lenggok di depan cermin sambil memperhatikan tubuh indahnya yang terpampang nyata di dalam balutan lingerie tersebut.
"Aku yakin Tuan Marcello tidak akan bisa menolakku kali ini!" gumamnya sambil menyeringai.
Setelah mengenakan lingerie tersebut, Marissa kembali duduk sambil bersandaran di tempat tidurnya. Ia memainkan ponselnya sembari menunggu kedatangan Tuan Marcello.
Drreettt ... drreettt ...
Marissa memperhatikan layar ponselnya dan ternyata ia mendapatkan panggilan dari sahabatnya Erika.
"Ya, Erika?"
"Cha, Huaaaa ...!!!"
Teriakkan gadis itu memekakkan telinga. Marissa bahkan sampai mengucek telinganya karena terasa sakit.
"Apaan sih, Erika? Kok histeris begitu?!"
"Cha, minggu depan aku akan segera menikah! Dan aku tidak tahu harus bahagia tau harus bersedih sekarang," tutur Erika.
"Apa?! Menikah?!" pekik Marissa sambil membulatkan matanya dengan sempurna.
"Ta-tapi sama siapa dan kenapa bisa mendadak begini?!" tanya Marissa yang begitu penasaran.
Terdengar Erika sedang mengatur napasnya. Ia mencoba mengontrol emosinya saat itu. "Cha, aku akan menikah dengan Pak Fattan karena lelaki itu dituduh telah membawaku kabur!" seru Erika.
Bukannya bersedih, Marissa malah tergelak mendengarnya. "Haha, bukankah itu yang kamu inginkan, Erika. Sekarang diberi kesempatan untuk hidup bersama Pak Fattan, kamunya malah bingung," jawabnya.
"Cha! Aku belum yakin."
__ADS_1
"Ya sudah, terima saja. Udah kecebur juga, kenapa tidak sekalian berenang sambil menyelam air," ucapnya sambil tergelak.
"Dasar!" kesal Erika.
"Hei, calon Nyonya Fattan. Contohlah Nyonya Marcello ini, udah kecebur ya, sekalian aja aku berenang sampai ke dasar!" sambungnya.
"Hhhh, ya sudah. Nanti datang ya, minggu depan. Ingat, bersama Tuan Marcello. Undangannya menyusul."
"Pasti!"
Tepat disaat itu, Marcello masuk ke dalam kamar. Sambil melangkahkan kakinya, lelaki itu melepaskan kancing kemeja yang sedang ia kenakan tanpa memperhatikan Marissa yang sedang duduk di atas tempat tidur.
"Sudah selesai, Dad?" tanya Marissa.
"Ya," jawabnya singkat dan jelas.
Lelaki itu melepaskan kemejanya kemudian meletakkan pakaian kotor tersebut ke dalam keranjang. Sekarang terlihat jelas punggung mulus Marcello dan membuat tangan Marissa gatal ingin menyentuh punggung itu.
Tidak sampai disitu, ia juga melepaskan celananya dan hanya menyisakan celana boxer untuk menutupi area pribadinya.
"Ya,"
"Tadi Erika menghubungi Icha. Dia bilang, minggu depan ia akan segera menikah. Lalu kita kapan, Dad?" tanya Marissa.
"Secepatnya, Cha. Joe yang akan mengurus semuanya. Ehm, ngomong-ngomong si Erika menikah sama siapa?"
"Ia akan menikah sama Pak Fattan, karena orang tua Erika menuduh lelaki itu telah membawa lari anak gadisnya."
Marcello tergelak, "Ia pantas mendapatkan itu. Akhirnya, Fattan mendapatkan karmanya, 'kan?! Lagian, salah dia juga suka sekali bawa kabur anak orang," sahutnya.
Setelah mengatakan hal itu, Marcello melenggang menuju kamar mandi kemudian melakukan ritual mandinya. Karena merasa suntuk menunggu lelaki itu melakukan ritual mandinya, Marissa berencana mengambil es krim di dapur.
__ADS_1
Ia meraih kimono tidur kemudian mengenakannya untuk menutupi lingerie seksi tersebut. Marissa berjalan menuju dapur kemudian mengambil es krim rasa susu vanila, kesukaannya. Ia membawa es krim itu kembali ke kamarnya dan tepat di saat itu, Marcello sudah keluar dari kamar mandi.
"Dari mana, Cha?" tanya Marcello sembari mengenakan baju tidurnya.
"Dari dapur. Daddy mau?" jawab Marissa sambil memperlihatkan es krim rasa susu vanila yang baru saja ia ambil dari lemari pendingin di dapur.
Marcello tersenyum sambil menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku tidak suka."
Marissa kembali duduk di tepian tempat tidur sambil menjilatt es krimnya sedikit demi sedikit. Setelah selesai mengenakan setelan tidurnya, Marcello berbalik. Kini mata lelaki itu tertuju pada Marissa yang tengah menjilatti es krim kesukaannya.
Entah mengapa pikiran nakal itu kembali tercetus di kepalanya. Marissa tidak akan pernah berhenti mengerjai lelaki itu sampai Marcello benar-benar mengakui perasaan yang sebenarnya terhadap dirinya.
Dengan gaya sensual, Marissa menjilatt-jilatt es krim itu sambil menatap tajam kepada Marcello. Tiba-tiba saja pikiran mesum Marcello berkelana kemana-mana. Apalagi gadis itu mulai membuka kimono tidurnya dan memperlihatkan lingerie seksi yang sedang dikenakannya.
Perlahan Marcello menghampiri gadis itu dan duduk disampingnya. Ia membelai pipi Marissa dengan lembut sambil menatap bibir seksi yang sedang menikmati es krim tersebut.
Tiba-tiba saja, Marcello menyerang bibir tersebut dan melummattnya dengan cepat. Bibir atas dan bawah, kemudian menyesapp lidah nakal yang tadi begitu menggodanya.
Marissa tidak mau kalah, ia sudah belajar dari video yang ia tonton sebelumnya. Ia membalas kecupan demi kecupan yang dilancarkan oleh lelaki itu. Ia meraih tangan Marcello dan meletakkannya ke bulatan empuk berukuran besar miliknya.
Namun, baru saja Marcello ingin menjelajahi bulatan besar dan kenyal tersebut, tiba-tiba sebuah kalimat konyol terlintas di kepalanya.
"Marcello, dia gadis kecilmu!!!"
Seketika Marcello melepaskan gadis itu. Ia menatap Marissa dengan wajah bersalah sedangkan Marissa kebingungan karena tiba-tiba saja suaminya itu menghentikan aksinya.
"Kenapa, Dad?!" tanya Marissa.
"Maafkan aku, Cha. Aku tidak bisa!" sahut Marcello sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Marcello bangkit kemudian keluar dari kamar itu dan pergi entah kemana. Kini tinggal Marissa yang kebingungan melihat sikap aneh Marcello. Ia juga sedih karena aksinya kembali gagal.
__ADS_1
...***...
Yang nungguin UnBoxing Marissa, tunggu bab berikutnya, ya!!!