Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 221


__ADS_3

Selamat siang semua!" sapa Alifa yang baru saja tiba di ruang utama.


Karena sudah terbiasa, Alifa tidak pernah canggung saat bertamu ke kediaman Marcello dan Marissa.


"Alifa, mari sini duduklah," ucap Marissa sambil tersenyum hangat menyambut kedatangan Alifa.


"Terima kasih, Tante."


Alifa pun duduk tak jauh dari si kembar Marvel dan Melvin. Marvel tersenyum sembari menepuk pundak Melvin.


"Vin, gebetanmu sudah datang."


Melvin tidak menjawab, ia hanya tersenyum ketika membalas tatapan Marvel.


Tidak berselang lama, yang ditunggu-tunggu oleh Alifa pun tiba. Keluarga besar Tuan Riyadh dan Nyonya Dian Maharani beserta kedua anak mereka. Zaid si Om Duda dan si tampan Arsya.


"Aku kira kamu tidak akan ikut berkunjung, Riyadh," goda Marcello sambil terkekeh pelan menatap Riyadh.


"Ya, Dian yang memaksaku ikut. Kalau tidak, aku pun tidak ingin ikut. Kamu tahu sendiri lah, Marcello. Tubuh tuaku sudah tidak sekuat dulu. Encokku sering kumat dan kalau sudah kumat aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi," jawab Riyadh sambil mengelus pinggangnya.


Marcello tergelak karena ia pun merasakan hal yang sama. Usianya yang sudah tidak muda lagi, membuat pergerakannya sedikit terbatas. Berbeda dengan Marissa, sang istri yang usianya masih terbilang muda. Ia masih bisa melakukan apapun yang ia inginkan tanpa ada hambatan sedikitpun.


"Beginilah nasib orang sudah tua, Riyadh. Aku pun merasakan apa yang kamu rasakan."

__ADS_1


Riyadh duduk di sofa bersama Marcello dan kedua lelaki itupun mulai berbincang bersama. Ruangan itu terlihat ramai dengan berkumpulnya keluarga besar Tuan Marcello dan Tuan Riyadh.


Kedatangan keluarga Tuan Riyadh pun diketahui oleh Joe. Joe berserta sang istri dan ketiga anaknya ikut bergabung bersama mereka di ruangan itu dan membuat ruangan itu semakin ramai.


Ketika para Pelayan tiba dengan membawa berbagai camilan serta minuman untuk keluarga besar mereka, Shakila segera berdiri kemudian membantu para Pelayan menata cemilan serta minuman itu ke atas meja.


Melvin memperhatikan Shakila tanpa berkedip sedikitpun. Dari raut wajahnya, nampak lelaki itu sedang berpikir keras.


"Shakila, maafkan aku. Aku harus melupakanmu demi menjaga persaudaraanku," batin Melvin.


Beberapa jam kemudian.


Alifa bergegas mengikuti Zaid yang berjalan keluar dari ruang utama sambil menerima panggilan dari salah satu rekan kerjanya. Lelaki itu tidak sadar bahwa Alifa mengikutinya, ia terus saja melangkah sambil bicara dengan seseorang di seberang telepon.


Namun, langkah Alifa tertahan saat Melvin menarik tangannya kemudian menyandarkan tubuh gadis itu ke dinding ruangan. Tidak hanya sampai disitu, Melvin juga menahan tubuh Alifa dengan tubuh besarnya hingga gadis itu tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Alifa membulatkan matanya ketika Melvin melakukan hal itu kepadanya.


"Alifa, aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi kekasihku?"


"Apa?" pekik Alifa kebingungan.


Melvin sengaja melakukan hal itu karena ia tahu bahwa Shakila sebentar lagi akan melewati ruangan tersebut. Dan benar saja, Shakila tersentak kaget saat melihat Melvin melakukan hal itu kepada Alifa. Apalagi saat itu Melvin mencoba melabuhkan ciuman di bibir gadis cantik berusia 21 tahun tersebut.


"Ehm, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengganggu kalian," pekik Shakila sembari mempercepat langkahnya melewati ruangan itu.

__ADS_1


"Melvin! Kamu apa-apaan, sih?" kesal Alifa sembari mendorong tubuh besar Melvin dengan kasar.


"Maafkan aku, Alifa. Aku terpaksa melakukannya," ucap Melvin dengan tatapan sendu menatap Alifa yang kini menekuk wajahnya.


Setelah mengucapkan hal itu, Melvin segera pergi meninggalkan Alifa yang masih kebingungan.


"Melvin kenapa, sih? Apa dia sedang sakit?" gumam Alifa.


Setelah Melvin pergi, Alifa pun meneruskan langkahnya menuju ruangan dimana Om Zaid sedang menerima panggilan salah satu rekan kerjanya. Gadis itu terus memperhatikan Zaid dari kejauhan, ia tidak berani mendekat karena lelaki itu terlihat sibuk dan Alifa pun tidak ingin mengganggunya.


Sedangkan Shakila masih shok dengan pemandangan yang ia lihat barusan. Adegan mesra yang terjadi antara Alifa dan Melvin membuat ia mengerti maksud Daddy Joe selama ini.


"Mungkin inilah alasan kenapa Daddy selalu melarangku mendekati Tuan Muda dan Tuan Muda Melvin sudah membuktikannya. Ternyata selama ini Tuan Muda Melvin hanya bermain-main denganku. Bagaimana jika aku benar-benar menganggap serius semua ucapkannya padaku? Bisa-bisa aku hancur dan patah hati," batin Shakila sambil mempercepat langkahnya.


Sementara itu.


Marvel nampak memperhatikan sekelilingnya, ia mencari keberadaan gadis cantik yang sejak tadi sibuk melayani keluarga besarnya. Tepat disaat itu, ia berpapasan dengan Melvin yang berjalan dengan cepat menuju kamarnya.


"Vin?"


"Kepalaku tiba-tiba sakit, Vel. Aku butuh istirahat sejenak," ucap Melvin tanpa menghentikan langkahnya.


"Sakit kepala?" gumam Marvel.

__ADS_1


Marvel nampak bingung sambil memperhatikan punggung Melvin yang semakin menjauh darinya. Selama ini apapun yang dirasakan oleh Melvin pasti akan berdampak padanya. Dan mungkin itulah yang membuat mereka jatuh cinta pada satu wanita yang sama.


...***...


__ADS_2