Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 39


__ADS_3

"Aku bilang cukup!" teriak Marcello.


Teriakan Lelaki itu menggema diseluruh ruangan. Rahangnya semakin tegas dan terdengar suara gemeretak giginya yang saling beradu. Sorot matanya tajam menatap Sarrah, membuat nyali Sarrah menciut.


Tanpa pasangan itu sadari, Marissa sudah berada didalam ruangan itu dengan wajah sendu menatap mereka.


"Ja-jadi ... itu benar?" tanya Marissa terbata-bata.


Marcello panik, ia segera menghampiri Marissa dan mencoba menenangkan Gadis itu.


"Tidak, Icha. Itu tidak benar, Sarrah hanya ..."


Ucapan Marcello tertahan karena Sarrah menyela perkataannya.


"Ya, kamu bukanlah anak dari Marcello ataupun Melinda! Kamu hanyalah anak yang diadopsi dari panti asuhan! Malang nasibmu, Marissa! Orang tuamu bahkan tidak ingin mengurus dirimu dan menelantarkanmu di panti asuhan," ucap Sarrah.


Air mata Marissa tiba-tiba saja mengucur dikedua belah pipinya. Ucapan yang dilontarkan oleh Sarrah begitu melukai perasaannya. Perlahan, Marissa memundurkan langkahnya sambil memperhatikan ekspresi wajah kedua orang yang sedang berdiri di hadapannya. Sarrah dengan ekspresi kesal dan Marcello dengan wajah panik menatap dirinya.


"Cha, Daddy mohon dengarkan Daddy!"


Marissa berbalik kemudian berlari menuju kamarnya.


"Sekarang kamu puas, Sarrah!" hardik Marcello.


Lelaki itu berlari mengejar Marissa yang sudah menghilang dari pandangannya. Sedangkan Sarrah, ia terdiam didalam ruangan itu sambil memikirkan apa yang sudah ia lakukan. Ia sendiri tidak tahu apakah yang dilakukannya adalah benar, atau malah menjadi kesalahan besar.


Sementara itu,


Marissa terus berlari hingga akhirnya ia tiba didepan pintu kamarnya. Ia bergegas membuka pintu ruangan itu dan menutupnya kembali.


Perlahan, Marissa melangkahkan kakinya menuju tempat tidur dan duduk disana sembari memeluk kedua lututnya. Tubuhnya kembali bergetar dan air matanya pun kembali tumpah.

__ADS_1


"Apakah yang dikatakan oleh Sarrah itu benar? Jika itu benar, berarti nasibku begitu miris. Bahkan kedua orang tuaku saja, tidak menginginkan kehadiranku disisi mereka?" batin Marissa.


"Cha?!"


Tiba-tiba Marcello membuka pintu kamar Marissa kemudian masuk tanpa meminta izin terlebih dahulu. Ia menghampiri Gadis itu dan duduk disampingnya.


"Cha, dengarkan Daddy," ucap Marcello sembari mengelus pundak Marissa yang masih bergetar.


"Jadi itu benar, Tuan? Anda dan Nyonya Melinda bukanlah orang tua kandung saya?" tanya Marissa.


Marcello menghembuskan napas berat sembari menatap wajah Marissa yang tertunduk.


"Ya, itu benar. Tetapi bagi kami, kamu adalah anak kandung kami, Cha. Aku dan Melinda sangat menyayangimu, bahkan melebihi dari diri kami sendiri," tutur Marcello.


Marissa menganggkat kepalanya. Namun, ia masih membuang pandangannya kearah lain. Ia tidak ingin bertatap mata dengan lelaki itu.


"Jadi ... apa Anda tahu siapa orang tua kandung saya?" tanya Marissa.


Akhirnya Marissa menoleh kepada lelaki itu sembari menyunggingkan sebuah senyuman tipis. "Bolehkan aku bertanya sesuatu padamu, Tuan Marcello?"


"Ya, tentu saja," sahut Marcello.


"Apakah perasaanmu padaku hanya sebagai seorang Ayah kepada anaknya?" tanya Marissa lagi.


"Ya, Icha ... sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi Anakku. Percayalah!" tutur Marcello.


"Hanya itu?!"


"Ya," sahut Marcello mantap.


Terlihat gurat kesedihan diwajah cantik Marissa setelah tau bagaimana perasaan Marcello yang sebenarnya. Seandainya saja, lelaki itu mengatakan bahwa dirinya memiliki perasaan lebih dari seorang Ayah, mungkin ia akan memilih untuk tetap tinggal dan memperjuangkan perasaannya kepada Lelaki itu.

__ADS_1


"Maafkan saya, Tuan Marcello. Bolehkah saya beristirahat sejenak? Saya lelah ..." lirih Marissa sembari merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Lelaki itu.


"Baiklah,"


Marcello mendekati gadis itu kemudian melabuhkan ciuman hangat di keningnya. "Selamat beristirahat, Icha sayang," ucap Marcello.


Perlahan ia meninggalkan ruangan itu dan membiarkan Marissa beristirahat disana.


Sepeninggal Marcello, Marissa segera bangkit dari posisinya dan duduk seperti sebelumnya.


"Ya, Tuhan ... apa yang harus aku lakukan setelah ini? Apa yang dikatakan oleh Sarrah itu benar. Aku bukanlah siapa-siapanya Tuan Marcello dan aku tidak memiliki hak apapun terhadap lelaki itu. Apalagi untuk ikut campur dalam urusan pribadinya, termasuk hubungannya dengan Nona Sarrah," batin Marissa.


Marissa terdiam sambil berpikir keras. Memikirkan langkah yang akan ia ambil setelah ini. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari Mansion megah itu dan juga pergi dari kehidupan Marcello.


Ia ingin memulai hidup baru dengan status baru kemudian mencari tahu siapa dan dimana kedua orang tuanya berada. Setelah memasukkan uang simpanannya yang tidak seberapa kedalam saku celananya, Marissa berjalan keluar dari kamarnya dengan perlahan.


Ya, selama tinggal bersama Marcello, ia tidak pernah menggunakan uang cash. Apapun yang ia inginkan semuanya tinggal gesek dan untuk sekarang kartu-kartu pemberian Marcello tidak berguna sama sekali. Ia tidak mungkin membawa kartu itu bersamanya.


Marissa berjalan dengan santai, sama seperti biasanya. Para Pelayan yang sedang melakukan pekerjaan mereka, sama sekali tidak mencurigai gelagat Marissa saat itu.


Ia terus melangkah hingga kedepan gerbang Mansion. Para Penjaga Mansion menyapa, ketika ia melewati para lelaki bertubuh kekar tersebut.


"Nona Marissa mau kemana?" tanya salah seorang Penjaga keamanan.


"Tadi aku memesan makanan, Pak. Dan kurirnya sedang menunggu didepan sana," sahut Marissa sembari menunjuk kearah luar gerbang.


"Biarkan saya saja yang mengambilnya, Nona. Nona Marissa tunggu disini saja,"


"Jangan, biar aku saja! Aku sudah lapar dan ingin memakannya sambil jalan," sahut Marissa asal.


Dengan terpaksa, Penjaga keamanan itupun mengizinkannya keluar dari Mansion tersebut.

__ADS_1


...***...


__ADS_2