Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 45


__ADS_3

"Mari, Bu." ajak Fattan kepada Ibunya.


Wanita paruh baya itupun mengikuti langkah anaknya menuju ruang tamu. Dari kejauhan, Ibu Fattan memperhatikan sosok Marissa yang tengah bersantai di kursi yang ada diruang tamu. Gadis itu sedang memperhatikan sekeliling rumah tersebut sambil tersenyum tipis.


"Dia cantik sekali ya, Fattan."


"Ya, Bu. Dia Gadis tercantik yang pernah Fattan temui," sahut Fattan.


Marissa masih tidak menyadari bahwa Fattan dan Ibunya sudah berada di ruangan itu sambil memperhatikan dirinya.


"Ehem, Marissa ... kenalkan, ini Ibuku. Kamu bisa memanggilnya Bu Nilam."


Marissa sontak terkejut. Ia segera menoleh kemudian bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri wanita paruh baya itu.


"Marissa, Bu."


Marissa meraih tangan Bu Nilam kemudian melabuhkan sebuah ciuman hangat keatas punggung tangan wanita itu. Entah mengapa Bu Nilam sangat menyukai kepribadian Marissa walaupun ia belum mengenal Gadis itu dengan baik.


"Kamu cantik sekali, Nak." ucap Bu Nilam sembari mengelus puncak kepala Marissa.


"Kamu suka tempat ini, Marissa?" sela Fattan.


"Ya, aku suka."


. . .


Akhirnya Marcello, Joe dan beberapa anak buahnya tiba di kediaman Melinda. Sementara Joe mengetuk pintu rumah tersebut, Marcello memperhatikan sekeliling bangunan sederhana itu.


Tidak butuh waktu lama, pintu rumah itupun terbuka. Nampak seorang wanita yang tidak asing buat Marcello. Ani, wanita yang selama ini membantu merawat dan membesarkan Marissa.

__ADS_1


"Tu-tuan Marcello?!" Ani terkejut melihat Marcello yang tiba-tiba saja datang ketempat itu bersama beberapa anak buahnya yang bertubuh tinggi besar.


"Boleh aku masuk?!" tanya Marcello.


"Bo ... leh ..." Belum juga selesai Ani mempersilakan lelaki itu masuk, Marcello dan para Bodyguard sudah menyerobot masuk ke ruangan itu.


"Geledah seluruh ruangan dan jangan ada yang terlewatkan!" titahnya kepada para Bodyguard.


Ani nampak kebingungan melihat para Bodyguard menggeledah seluruh bangunan itu tanpa mempedulikan dirinya sebagai penjaga rumah tersebut.


Ya, selama ini Ani lah yang menjaga kediaman Melinda untuk Marissa. Sedangkan butik milik Melinda, sudah dikelola oleh seseorang yang merupakan orang suruhan Marcello. Dan kini apa yang dikatakan oleh Marcello menjadi kenyataan. Butik milik Melinda kini menjadi butik terbaik di kota tersebut.


"Tu-tuan Marcello, sebenarnya ada apa ini? Dimana Marissa dan bagaimana kabarnya?" tanya Wanita itu dengan terbata-bata sembari menghampiri Marcello.


Marcello memperlihatkan wajah Ani dengan seksama. Melihat dari mata wanita itu, Marcello tahu bahwa Ani tidak sedang berbohong. Ani benar-benar tidak tahu dimana Marissa sekarang.


"Jadi, Marissa tidak kemari?!" tanya Marcello balik.


"Ya, Tuhan ... kemana Marissa?!" gumam Marcello sembari mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Tuan, sebenarnya ada apa ini? Dimana Marissa? Jangan buat saya takut, Tuan!" ucap Ani dengan mata berkaca-kaca menatap wajah cemas Marcello. Airmata wanita yang usianya hanya berbeda satu tahun dari Marcello itu, hampir saja meluncur dari kedua sudut matanya.


Marcello menepuk pundak Ani pelan. Ia tahu bagaimana perasaan wanita itu sekarang. Bagi Ani, Marissa adalah segalanya. Gadis itu sudah seperti anaknya sendiri sebab sejak bayi hingga sekarang, Ani lah yang merawat dan menjaga Gadis itu.


"Marissa sudah mengetahui semuanya, Ani. Ia sudah tahu bahwa aku dan Melinda bukanlah orang tua kandungnya. Itulah sebabnya ia kabur dari Mansion."


"Oh, Tuhan!" Akhirnya airmata wanita itupun meluncur begitu saja. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Marissa saat ini.


"Kamu tenang saja, Ani. Aku berjanji, aku pasti akan menemukan Gadis itu!" ucap Marcello.

__ADS_1


Tidak berselang lama, Bodyguard dan juga Joe berkumpul dihadapan Marcello.


"Tidak ada, Tuan!" ucap mereka serempak.


"Sepertinya Marissa memang tidak datang ketempat ini," sahut Marcello.


Diwaktu yang bersamaan, Erika tiba di kediaman Melinda tersebut. Ia berniat ingin mengambil beberapa pakaian milik Marissa atas permintaan Marissa sendiri.


"Gawat! Itu mobil siapa berjejer didepan rumah Marissa? Jangan-jangan si Hot Daddy?!" gumam Erika sambil memperhatikan bangunan sederhana itu.


Erika menghentikan mobilnya tak jauh dari kediaman Marissa. Ia tidak ingin menghampiri rumah itu sebelum Marcello dan anak buahnya pergi dari sana.


Drreett ... drreettt ...


Erika meraih ponselnya dan menerima panggilan tersebut.


"Hsssttt! Jangan keras-keras, Icha. Aku sedang berada tak jauh dari rumahmu dan kamu tahu ada hal mengejutkan apa yang sedang terjadi disini?!" seru Erika dengan setengah berbisik.


"Apa?!" tanya Marissa dari seberang telepon.


"Hot Daddy-mu sedang ada disini! Sepertinya dia sedang mencari keberadaanmu!" seru Erika sekali lagi.


"Oh, Tuhan! Sebaiknya kamu pergi saja dari sana, Erika! Aku takut sesuatu terjadi padamu."


"Ya, sepertinya aku memang harus pergi dari sini!" jawabnya.


Erika menghidupkan mesin mobilnya kemudian perlahan meninggalkan kediaman Marissa. Ternyata Joe menyadari keberadaan mobil Erika. Ia memperhatikan mobil itu dari dalam rumah kemudian memberitahukannya kepada Marcello.


"Tuan, sepertinya seseorang dari dalam mobil itu memperhatikan tempat ini," ucap Joe sambil berbisik kepada Marcello.

__ADS_1


Marcello sempat melihat mobil tersebut. "Sebaiknya kita bergegas, Joe! Ikuti mobil itu," titahnya.


...***...


__ADS_2