
"Sekarang bagaimana?" tanya Joe kepada sang istri sambil terkekeh pelan.
Sofia nampak berpikir sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Gimana ya, Mas? Aku juga jadi bingung ini," tutur Sofia.
Joe menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur sambil menatap Sofia yang masih duduk di tepiannya dengan wajah bingung. Joe menekuk kedua tangan kemudian menggunakannya sebagai bantal untuk menyangga kepalanya.
"Tuan Marcello itu memiliki seribu satu ide gila dalam kepalanya, Sofia. Kamu tidak akan pernah menang kalau berurusan dengan lelaki itu," ucap Joe sambil terkekeh.
Sofia ikut menjatuhkan tubuhnya di samping Joe dan menggunakan tangan kekar suaminya sebagai bantal.
"Sebenarnya aku tidak punya maksud untuk memisahkan kalian, Mas. Kamu dan Tuan Marcello. Keinginanku sederhana, sama seperti wanita lain. Aku pun ingin memiliki rumah sendiri, dimana didalamnya hanya ada kamu, aku dan anak-anak kita. Aku juga tidak menuntut rumah kita harus seperti apa, walaupun hanya rumah sederhana berdindingkan anyaman bambu pun aku tidak masalah," tutur Sofia sembari memiringkan tubuhnya menghadap Joe.
Joe turut memiringkan tubuhnya menghadap Sofia. Ia mengelus lembut pipi sang istri sambil tersenyum hangat.
"Aku mengerti apa maksudmu, Sofia. Jadi-- kita tetap membangun rumah buat kita sendiri di samping mansion mewah ini?"
Sofia kembali melemparkan senyuman getirnya kepada Joe. "Bagaimana menurut Mas?"
"Aku 'sih menurut apa katamu saja, Sofia. Bukankah kamu Ratu dalam hidupku? Kamu berhak memutuskan yang terbaik untuk kita dan anak-anak nantinya," sahut Joe.
"Kita bangun rumah baru untuk kita. Ya, walaupun masih dalam lingkungan mansion ini," ucap Sofia.
"Baiklah, aku setuju saja. Selama kamu tidak memintaku untuk berdebat sekali lagi dengan lelaki konyol itu," jawab Joe sambil tergelak.
Sofia pun ikut tergelak mengingat Big Bossnya itu memang kadang-kadang suka bersikap konyol, tidak berbeda jauh dari sang istri.
Di kamar utama.
__ADS_1
Marissa masih tergelak di dalam kamarnya. Ia merasa lucu saat menatap ekspresi wajah Joe yang terlihat aneh setelah mendengar jawaban konyol dari Marcello.
"Apa kamu lihat bagaimana ekspresi wajah Om Joe, Dad? Wajahnya terlihat sangat lucu," ucap Marissa di sela gelak tawanya.
"Tahu rasa 'kan dia! Enak saja dia mau main pergi-pergi, memangnya siapa dia. Apa dia sudah lupa akan janjinya dulu padaku, bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan aku apapun keadaanku," sahut Marcello.
"Kamu memang licik, Dad!"
"Tidak apa, kali ini licik untuk kebaikan. Kebaikan untuk kita dan juga untuk keluarga kecil Joe. Terutama untukmu dan Shakila, Cha. Aku tahu kamu begitu menyayangi bayi mungil itu."
"Ya, Dad. Aku menyayangi Shakila sama seperti aku menyayangi Marvel dan Melvin."
. . .
Empat bulan kemudian.
Selesai sarapan, Joe segera pamit kepada Sofia dan menunggu sang Big Boss keluar dari mansion mewahnya.
"Jaga diri baik-baik ya, Sofia. Jika kamu merasakan ada yang aneh pada kandunganmu, jangan lupa untuk secepatnya menghubungiku dan minta pertolongan kepada Bodyguard yang berjaga di depan gerbang."
Joe mengusap lembut perut Sofia yang sudah membesar. Tinggal menunggu beberapa hari lagi dan Sofia pun akan segera melahirkan.
"Ya, Mas. Aku pasti ingat," sahut Sofia sembari melemparkan senyumnya kepada Joe.
"Ah ya, dimana Shakila? Sejak tadi aku tidak melihatnya? Biasanya gadis mungilku itu selalu menemuiku di jam-jam segini," tanya Joe sembari menengok ke dalam rumahnya. Mencari sosok mungil yang selama ini selalu menemaninya.
"Entahlah, mungkin Babysitter sedang memandikannya," sahut Sofia.
Baru saja Sofia menyebut Babysitternya, wanita muda itu berlari kecil menghampiri mereka dengan wajah panik.
__ADS_1
"Tuan Joe, Tuan Joe!" ucapnya dengan napas terengah-engah.
"Kenapa, Mbak?" tanya Sofia sembari memperhatikan wajah panik Babysitter.
"Shakila demam, Nona. Saya sudah kasih obat penurun panas tetapi suhu tubuhnya tidak turun-turun dan sekarang malah semakin meningkat," sahutnya.
"Apa?!" pekik Joe sembari melangkahkan kakinya kembali memasuki Istana kecilnya dengan langkah tergesa-gesa, kemudian di susul oleh Sofia.
"Sejak kapan suhu tubuhnya naik?" tanya Joe panik.
"Baru tadi pagi, Tuan. Tadi malam Shakila masih baik-baik saja," sahut Babysitter sembari mengikuti langkah kaki Joe dari belakang.
Setibanya di kamar bayi mungil itu, ternyata benar. Shakila tergolek lemah dengan suhu tubuh jauh di atas suhu normal. Joe panik setelah menyentuh tubuh mungil Shakila, ia mengangkatnya dan segera membawa bayi mungil itu keluar dari istana kecilnya.
"Bodyguard! Tolong bawa aku ke Rumah Sakit, cepat!" titah Joe.
Salah seorang Bodyguard segera menghampiri salah satu mobil kemudian membukakan pintunya untuk Joe yang datang mendekat.
Tepat di saat itu, Marissa dan Marcello baru saja keluar dari mansion dan melihat kepanikan itu.
"Ada apa ini?" tanya Marissa cemas.
Padahal saat itu Marissa bahkan belum tahu apa yang sedang terjadi, tetapi instingnya sebagai seorang Ibu sangatlah kuat.
"Shakila sedang demam tinggi, Nona dan Mas Joe akan membawanya ke Rumah Sakit," sahut Sofia yang juga tidak kalah paniknya.
"Oh, Tuhan!" pekik Marissa dengan mata berkaca-kaca.
...***...
__ADS_1