Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 191


__ADS_3

"Ternyata benar 'kan apa yang saya katakan dulu," ucap Dokter yang tengah memeriksa kandungan Sofia.


Sofia memperhatikan wajah Dokter yang nampak semringah saat itu. Sofia pun ikut senang walaupun ia tidak tahu apa maksud Dokter mengatakan hal itu padanya.


"Maksudnya apa, Dok?" tanya Sofia.


"Bayi kalian kembar, Nona Sofia," sahut Dokter sambil terus fokus menatap layar monitornya.


"Benarkah? Ya, Tuhan! Aku kira Dokter hanya bercanda saat itu," ucap Sofia dengan mata berkaca-kaca.


Joe segera menghampiri bed pasien yang sedang di pakai oleh Sofia. Lelaki itu segera meraih tangan Sofia kemudian tersenyum puas.


"Kamu dengar itu, Mas?! Anak kita kembar," ucap Sofia lagi kepada Joe.


"Ya, Sayang. Aku mendengarnya," jawab Joe.


Tidak berselang lama, Dokter kembali berucap dengan wajah yang masih terlihat semringah.


"Apa kalian ingin mengetahui jenis kelaminnya?" tanya Dokter.


"Ya!" sahut Sofia dan Joe bersamaan.


"Selamat ya, Tuan dan Nona, kalian akan segera memiliki Putra dan Putri yang cantik dan juga tampan," ucap Dokter sambil tersenyum lebar menatap pasangan itu secara bergantian.


"Ya, Tuhan! Benarkah itu?!" Sofia sampai menitikkan air mata karena saking bahagianya mendengar ucapan sang Dokter.


"Ya, Nona Sofia. Bayi Anda kembar Pengantin, laki-laki dan perempuan."


Joe pun tidak kalah bahagianya. Lelaki itu bahkan berkali-kali melabuhkan ciuman hangatnya untuk Sofia. Ia tidak peduli walaupun saat ini ia melakukannya di hadapan Dokter cantik itu.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Joe dan Sofia pun segera kembali ke mansion dengan hati bahagia.


Di perjalanan.


Sofia mengelus perutnya yang sudah mulai menonjol kemudian bersandar di dada bidang Joe.

__ADS_1


"Lihatlah, Sayang. Ternyata Tuhan begitu sayang kepada kita. Setelah kita kehilangan anak pertama kita, sekarang kita malah di berikan sepasang anak kembar," tutur Sofia.


"Ya, kamu benar, Sofia. Tapi ingat pesan Dokter, kamu tidak boleh kelelahan."


"Oh ya, Sayang. Jangan lupa tanyakan pada Tuan Marcello tentang keinginan kita punya rumah sendiri, ya!"


Joe menghembuskan napas beratnya lagi sambil menganggukkan. "Ya, nanti akan ku tanyakan kepada Tuan Marcello," jawab Joe.


Setibanya di mansion.


Kedatangan mereka sudah disambang oleh Marissa. Wanita itu sangat penasaran dengan hasil pemeriksaan kehamilan Sofia.


"Bagaimana hasilnya? Ayo, kasih tau! Aku 'kan penasaran," ucap Marissa.


Sofia dan Joe saling tatap kemudian tersenyum.


"Anak kami kembar, Nona dan--" Sofia sengaja menghentikan ucapannya agar Marissa semakin penasaran.


"Kembar?!" pekik Marissa sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Dan? Dan apa? Jangan buat aku penasaran!" lanjutnya.


Saking senangnya mendengar berita baik itu, Marissa bahkan sampai bertepuk tangan kemudian memeluk Sofia sambil mengucapkan selamat.


"Selamat ya, Sofia! Aku 'kan jadi iri," ucapnya.


"Terima kasih, Nona. Tapi Nona tidak boleh iri, ya. Kan Nona juga sudah punya dua jagoan tampan," sahut Sofia sambil mengelus punggung Marissa yang masih memeluk tubuhnya dengan erat.


"Ah, iya. Kamu benar." Marissa melerai pelukannya.


. . .


Keesokan harinya.


"Bagaimana, Mas? Apa kamu sudah membicarakan masalah itu kepada Tuan Marcello?" tanya Sofia yang sudah tidak sabar ingin memiliki kediaman sendiri.


"Mungkin hari ini, Sofia. Tapi--"

__ADS_1


Joe yang sedang merapikan kemejanya segera berbalik menghadap Sofia kemudian menatap wanita itu lekat.


"Tapi apa, Mas?" tanya Sofia kebingungan.


"Jika seandainya Tuan Marcello tidak mengizinkan kita, aku harap kamu tidak akan kecewa, Sofia."


Sofia menundukkan kepalanya sambil menghela napas panjang. Terlihat jelas raut wajah kecewa Sofia saat itu.


"Sudah, jangan bersedih seperti itu, Sofia. Tidak ada salahnya kita mengabdi pada keluarga ini. Keluarga yang sudah bersedia menerima kita apa adanya. Bahkan sikap mereka kepada kita, melebihi keluarga kandung kita sendiri, Sofia."


Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Joe berencana menemui Marcello yang masih duduk bersantai di ruang tengah. Kebetulan saat itu Marcello sedang berkumpul bersama Istri dan kedua anak lelakinya.


"Tuan Marcello," sapa Joe sembari membungkuk hormat kepada lelaki itu.


Marcello menoleh kemudian tersenyum hangat kepada lelaki itu. "Wah, Joe. Selamat, ya! Marissa sudah bercerita tentang bayi kembarmu."


"Ya, terima kasih, Tuan. Ehm ... Tuan Marcello, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Joe yang nampak ragu-ragu.


"Bicara? Masalah apa, Joe? Katakanlah," sahut Marcello.


"Ehm--"


Joe masih ragu mengutarakan keinginannya bersama Sofia kepada lelaki itu.


"Duduklah, Joe. Dan katakanlah apa yang ingin kamu bicarakan padaku," ucap Marcello sembari menunjuk sofa yang masih kosong, tak jauh dari tempat Joe berdiri.


Joe pun segera mendudukkan dirinya di sofa mewah tersebut kemudian menghela napas berat sebelum ia mengutarakan keinginannya.


"Tuan Marcello, sebenarnya saya dan Istri saya, Sofia berencana ingin memiliki rumah sendiri--"


Belum habis Joe berkata-kata, Marcello sudah memotong ucapannya.


"Apa? Maksudmu, kamu ingin pergi dari mansion ini, begitu?" tanya Marcello dengan wajah heran menatap Joe.


...***...

__ADS_1


__ADS_2