Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 86


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


"Bagaimana, Joe? Apakah sudah ada titik terang tentang jati diri Marissa?" tanya Marcello ketika mereka sedang berada di ruang pribadi lelaki itu.


"Saya masih menunggu kabar dari anak buah saya yang masih berada disana, Tuan. Ya, semoga saja hari ini mereka membawa kabar baik untuk Nona Marissa."


Tiba-tiba pintu terbuka dan nampaklah wajah cantik Marissa mengintip dari balik pintu dengan wajah semringah.


"Sudah siap?" tanya Marcello sembari melemparkan senyuman manisnya kepada istri kecilnya itu.


"Ya, aku sudah siap."


"Baiklah. Sebaiknya kita berangkat sekarang, Joe."


Marcello berjalan menghampiri Marissa dan menuntun gadis itu berjalan menuju halaman depan. Sedangkan Joe masih setia mengikuti pasangan itu dari belakang.


Hari ini Marcello dan Marissa ingin memilih cincin pernikahan untuk mereka berdua. Pernikahan mereka akan dilaksanakan minggu depan. Semua persiapan lainnya sudah rampung, tinggal menunggu hari H-nya.


Setelah 20 menit perjalanan, merekapun tiba di depan sebuah toko perhiasan terbesar di kota tersebut. Kehadiran mereka, segera disambut oleh sang pemilik toko dengan wajah semringah.


"Selamat datang kembali, Tuan Marcello."


Lelaki paruh baya tersebut mempersilakan Marissa dan Marcello duduk di ruang tunggu. Tidak berselang lama, beberapa orang karyawannya datang dengan membawa ratusan model cincin pertunangan koleksi terbaik mereka.


Marcello meraihnya kemudian memperlihatkannya kepada wanita itu. "Nah, Cha. Pilihlah yang mana saja yang kamu inginkan."


Marissa mulai memilih-milih cincin tersebut dan mencobanya ke jari manisnya. Sang pemilik toko tersebut tipis ketika memperhatikan Marissa yang masih kebingungan memilih cincin-cincin tersebut.


"Nona, jika Anda ingin cincin yang berbeda. Kami bisa membuatkan cincin sesuai keinginan Anda. Sama seperti Nona Sarrah waktu lalu, ia membuat desainnya sendiri."

__ADS_1


Pemilik toko tersebut keceplosan. Ia lupa bahwa Sarrah adalah mantan tunangan Tuan Marcello. Sontak saja, Marissa melirik kearah Marcello yang sedang duduk disampingnya dengan wajah malas. Sedangkan lelaki itu hanya bisa tersenyum kecut sambil menggaruk tengkuknya.


"Ehm maafkan saya, Nona, Tuan. Saya keceplosan," ucap sang pemilik toko setelah menyadari kesalahan yang tidak sengaja ia lakukan.


"Tidak apa-apa, Pak. Santai aja," sahut Marissa.


Marissa kembali memilih-milih, hingga akhirnya ia menemukan sebuah cincin sederhana dengan satu buah berlian kecil diatasnya.


"Aku mau yang ini!" seru Marissa sembari memperlihatkan cincin itu kepada Marcello.


Marcello menautkan kedua alisnya sambil menatap cincin sederhana yang sekarang ada di telapak tangannya.


"Kamu serius?"


"Ya, sangat serius."


Marcello tidak habis pikir, ia kira Marissa akan memilih cincin termahal dan terbaik di toko tersebut, tetapi ia salah. Gadis itu malah memilih sepasang cincin sederhana yang hanya berhiaskan berlian kecil diatasnya.


Marcello menyunggingkan sebuah senyuman hangat untuk Marissa. "Baiklah kalau begitu. Kami pesan ini dan jangan lupa kasih namaku dan Marissa didalamnya," titah Marcello.


"Baiklah, Tuan."


Setelah selesai memilih cincin pernikahan untuk mereka, Marcello mengajak Marissa kembali ke Mansion. Marissa memperhatikan sepanjang jalan yang ia lewati. Ia melihat jejeran warung makan yang berjejer dipinggir jalan. Tiba-tiba saja Marissa mencium aroma sup ayam yang begitu menggugah seleranya. Ia bahkan meneguk ari liurnya hanya dengan membayangkan rasa sup ayam tersebut.


"Dad, aku lapar!" ucapnya tiba-tiba.


Marcello tersenyum seraya menoleh kepada Marissa yang masih memperhatikan jalan.


"Baiklah, kita makan di restoran favoritku. Tahan sebentar ya, tempatnya tidak jauh dari sini, kok."

__ADS_1


"Ehm, bukan-bukan!!!" Marissa menghadap kearah Marcello sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Berhenti, Om Joe!" titah Marissa sambil menepuk jok mobil yang diduduki oleh Joe.


Joe menepikan mobilnya kemudian berhenti disana.


"Tiba-tiba aku ingin makan sup ayam, Dad. Dan aroma wanginya sampai memenuhi seluruh penciuman Icha sekarang," ucap Marissa sambil mengendus-endus aroma sup ayam yang terus menggodanya.


Marcello dan Joe saling tatap. Mereka kebingungan melihat perilaku Marissa saat itu.


"Apa kamu mencium aroma sup ayam, Joe?" tanya Marcello sambil mencari-cari aroma sup ayam yang dimaksud oleh Marissa.


Joe menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan."


"Ada! Mungkin hidung kalian lagi mampet," gerutu Marissa karena kedua orang itu menatapnya dengan tatapan aneh.


Marissa keluar dari mobil dan mencari warung yang menjual sup ayam tersebut. Marcello mengikuti wanita itu dari belakang sambil memasang wajah masam.


"Cha, apa tidak sebaiknya kita makan sup ayamnya di restoran saja?" ajak Marcello.


"Tidak mau, Icha yakin rasanya pasti berbeda," sahut Marissa sambil terus melangkahkan kakinya melewati deretan warung pinggir jalan. Hingga akhirnya langkahnya terhenti pada sebuah warung yang menjual sup ayam tersebut.


"Nah, ini dia!" seru Marissa.


Marissa meraih tangan Marcello kemudian memasuki warung kecil tersebut dan mengajak lelaki itu untuk duduk disebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu.


Dengan sangat terpaksa, Marcello pun duduk disana sambil memasang wajah masam.


"Kamu tidak sedang mempermainkan Daddy 'kan, Cha?" kesalnya.

__ADS_1


"Tidak, Dad. Aku serius dan aku ingin makan di tempat ini," ucapnya dengan wajah semringah.


...***...


__ADS_2