Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 206


__ADS_3

Maria baru saja tiba di sekolahnya. Bukannya memarkirkan motornya di parkiran sekolahnya, Maria malah meninggalkan motor kesayangan di depan sebuah mini market yang berada tidak jauh dari sekolahnya. Untuk apa, untuk mempermudahkannya melarikan diri dari sekolah tentunya.


Baru saja Maria tiba di depan kelasnya, kedatangannya sudah oleh 'Trio Judes' yang suka sekali mengganggunya. Ketiga gadis itu menyilangkan tangan ke dada sambil tersenyum sinis menatap Maria.


"Lihatlah, anak gadis kesayangan Daddy sudah tiba. Kita taruhan, kira-kira berapa jam gadis ini akan bertahan disini? Satu jam, dua jam atau-- malah hanya beberapa menit saja," ucap dari seorang gadis yang menjadi ketua geng mereka.


"Satu jam!"


"Gak, paling cuma lima belas menit doang!"


Kedua anggota geng Judes itu mengeluarkan pendapat mereka masing-masing. Maria tidak membalas celotehan ketiga gadis itu. Ia terus melangkahkan kakinya memasuki ruangan kelas kemudian duduk di kursinya.


Ini bukan sekali, dua kali, Trio Judes tersebut mengganggunya. Entah apa alasan ketiga gadis itu hingga mereka begitu membenci sosok Maria. Maria sudah sering mengalah dan memilih kabur dari sekolahnya hanya untuk menghindari perselisihan dengan mereka. Namun semakin dihindari, kelakuan ketiga gadis Itu malah semakin mengesalkan.


"Eh, tumben. Dia gak langsung kabur, loh!" ucap ketua Trio Judes tersebut sambil tersenyum licik.


"Lah, iya. Biasanya 'kan kalau kita gangguin kayak gini, dia udah main kabur aja," sahut yang lainnya.


"Kalian bisa diam gak, sih? Hari ini moodku sedang tidak baik dan aku tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Jadi, kumohon pergilah dari sini dan tinggalkan aku sendiri," ucap Maria sambil menatap ketiga gadis yang sedang berdiri di sekeliling mejanya secara bergantian.


"Bagaimana kalau kami tidak mau? Kamu mau apa, memukul kami? Memangnya kamu berani!" tantang gadis itu.


"Aku yakin kalian pasti tidak tahu apa alasan mereka mengeluarkan aku dari sekolah lamaku, kan? Jadi, ku harap kalian tidak usah lah mencari perkara denganku," sahut Maria yang sudah sangat kesal.


"Ciyee, lihat gadis manja ini teman-teman. Dia sudah mulai berani menantang kita," ucap Sang Ketua sambil tergelak.


"Bagaimana kalau kita coba gangguin dia, apa benar dia berani melawan kita?"


"Baiklah."

__ADS_1


Kedua gadis itu mulai memegangi kedua belah tangan Maria dan membawanya kesalah satu sudut ruang kelas. Maria terlihat panik dan mencoba melepaskan cengkeraman mereka dari tangannya.


"Mau apa kalian?"


"Bermain denganmu."


Ketua geng Trio Judes itu mengambil botol air mineral milik siswa lain kemudian membawanya kepada Maria. Padahal di ruangan itu banyak sekali siswa-siswi yang berkumpul hanya untuk menonton Trio Judes membully Maria.


Namun, tidak satupun di antara mereka yang bersedia membantu Maria ataupun hanya sekedar melerai mereka. Bahkan Clara pun tidak berani bergerak dari tempat duduknya.


"Aku rasa gadis kesayangan Daddy belum mandi, deh. Bagaimana kalau kita mandiin dia sekarang?"


"Ya, aku setuju!" sahut kedua anggotanya.


"Baiklah kalau begitu." Gadis itu membuka tutup botol minuman tersebut kemudian mengguyurnya ke atas kepala Maria.


Kepala Maria basah dan wajah Maria mulai memerah. Ia sangat marah dan kemarahannya sudah tidak dapat ia tahan lagi. Maria menarik tangannya dengan keras hingga terlepas dari cengkeraman kedua gadis itu.


"Bukankah sudah kukatakan jangan pernah menggangguku!" bentak Maria dengan setengah berteriak, meneriaki gadis yang sudah berani menyiramnya.


"Ho ho ho, lihatlah! Dia murka," ucap gadis itu sambil tergelak.


"Maafkan aku, Daddy! Aku sudah tidak sanggup menahannya lagi," gumam Maria sambil mengepalkan tangannya dengan erat.


Tiba-tiba saja Maria menerjang gadis yang sudah menyiramnya hingga terjatuh ke lantai ruangan kelas.


Plak ...


Plak ...

__ADS_1


Plak ...


Maria yang sudah tidak dapat menahan emosinya akhirnya memberikan pelajaran kepada gadis itu. Gadis yang sok hebat itu kewalahan mendapatkan serangan bertubi-tubi dari Maria bahkan wajahnya sudah memerah akibat pukulan Maria.


"Ampunn! Tolong aku," lirih gadis itu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan untuk menghindari serangan Maria. Saat itu Maria duduk di atas tubuhnya yang sudah tidak berdaya di lantai ruang kelas.


Salah satu dari mereka melaporkan perkelahian itu kepada Kepala Sekolah dan membuat Kepala Sekolah menggelengkan kepalanya.


"Gadis itu lagi," ucap Kepala Sekolah sembari melangkahkan kakinya menuju kelas Maria.


Di saat Kepala Sekolah tiba di ruang kelas itu, Maria masih berada di atas tubuh gadis yang sudah mengganggunya. Kepala Sekolah membulatkan matanya sambil berteriak, meneriaki Maria.


"Cukup, Maria!"


Maria menghentikan aksinya kemudian bangkit dan berdiri sambil memperhatikan Pak Kepala Sekolah yang kini berjalan menghampirinya.


"Pantas saja kamu dikeluarkan dari sekolahmu yang lamamu, Maria. Ternyata seperti inilah kelakuanmu." Kepala Sekolah menatap lekat Maria sambil menggelengkan kepalanya.


"Saya tidak pernah mengganggu siapapun, Pak. Merekalah yang suka mengganggu saya," sahut Maria yang kini mulai pasrah akan nasibnya.


"Bohong, Pak. Bapak lihat sendiri 'kan bagaimana dia menghajarku," lirih gadis itu sambil mengelus pipinya yang memerah.


"Kau, kau, kau dan kau, ikuti Bapak ke kantor!" titah Kepala Sekolah.


"Kawin, kawin, kawin!" gumam Maria sambil memijit pelipisnya.


"Apa katamu?" tanya Kepala Sekolah.


"Eh, bukan apa-apa, Pak."

__ADS_1


...***...


__ADS_2