Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 192


__ADS_3

"Ya, Tuan." Joe membuang napas berat.


Marcello terdiam sambil terus memperhatikan Joe dengan seksama. Ekspresi wajah Marcello berubah. Kini wajahnya terlihat sendu.


"Apa ada sesuatu yang mengganggumu, Joe? Apa kamu sudah tidak nyaman tinggal bersama kami?" lirih Marcello.


Bukan hanya Marcello, Marissa pun nampak shok mendengar penuturan Joe yang ingin pergi dari mansion.


"Sebenarnya bukan seperti itu, Tuan."


"Lalu?" tanya Marcello lagi.


"Sama seperti pasangan lain, kami pun ingin merasakan memiliki rumah sendiri, Tuan Marcello. Tetapi saya berjanji, saya akan selalu ada untuk Anda dan keluarga Anda," jawab Joe.


"Lalu bagaimana dengan Shakila? Kalian pasti membawanya bersama kalian, 'kan? Kenapa kalian tega memisahkan si Kembar dengan Shakila?" lirih Marissa.


Joe tidak menjawab, kepalanya tertunduk menatap lantai. Ia pun sebenarnya tidak ingin berada di posisi seperti ini.


"Bolehkah aku meminta waktu untuk memikirkannya, Joe?" tanya Marcello.


Joe mengangkat wajahnya dan menatap Marcello sambil menganggukkan kepalanya pelan.


"Tentu saja, Tuan."


Marcello segera bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkah menuju kamar utama. Begitupula Marissa, ia pun bangkit kemudian menyusul suaminya.


Sebelum meninggalkan ruangan itu, Marissa sempat bersitatap mata bersama Joe dan terlihat jelas kekecewaan di raut wajah cantik wanita itu.


"Daddy."


Marissa menghampiri Marcello yang duduk di tepian tempat tidur mewah mereka. Wajah Marcello terlihat sendu dan matanya pun terlihat berkaca-kaca. Marissa mengusap lembut pundak Marcello kemudian duduk di samping lelaki itu.

__ADS_1


"Aku tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya, Cha. Aku tidak pernah menyangka bahwa Joe akan berpikir meninggalkan aku. Aku kira dia bahagia tinggal disini, tetapi ternyata aku salah."


"Lalu bagaimana selanjutnya? Apa Daddy mengabulkan permintaan Om Joe?" tanya Marissa sembari menyandarkan kepalanya ke pundak lelaki itu.


"Mau bagaimana lagi?! Sepertinya aku memang harus mengizinkannya. Aku tidak berhak melarang Joe pindah dari sini," jawab Marcello.


"Lalu bagaimana Shakila? Aku pasti akan sangat merindukannya, Daddy. Selama ini aku sudah menganggap bayi mungil itu seperti anakku sendiri. Begitupula Marvel dan Melvin, mereka sangat menyayangi Shakila."


Marcello nampak berpikir sejenak dan tidak butuh waktu lama, tersungging sebuah senyuman licik di wajah Marcello.


"Kamu tenang saja, Marissa. Joe dan keluarga kecilnya memang akan pergi dari mansion ini. Tetapi kamu tenang saja, kamu dan kedua jagoan kita masih bisa menemui Shakila," jawabnya.


"Benarkah? Bagaimana caranya?!" tanya Marissa heran.


"Lihat saja besok," jawab Marcello lagi sambil tertawa licik.


Sementara itu di kamar Joe.


"Sudah," jawab Joe yang juga terlihat sendu sama seperti Marcello.


Sofia menuntun tubuh besar Joe menuju tempat tidur mewah mereka kemudian mendudukkannya disana. Setelah Joe duduk, Sofia pun turut menjatuhkan dirinya disamping lelaki itu.


"Lalu apa jawabannya?" Sofia menatap lekat wajah sendu Joe.


"Tuan Marcello meminta waktu untuk memikirkannya."


Sofia menghembuskan napas panjang. "Huft! Semoga saja Tuan Marcello mengizinkannya, ya."


"Semoga saja," jawab Joe.


Keesokan harinya.

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Marcello sudah memerintahkan Joe dan Sofia berkumpul di ruang utama. Dengan hati berdebar-debar, Joe dan Sofia melangkahkan kaki mereka menuju ruangan itu.


Setibanya di sana, ternyata Tuan Marcello dan keluarga kecilnya sudah menunggu kedatangan mereka. Marissa meraih si kecil Shakila dari pelukan Joe kemudian mendudukkan bayi mungil itu di samping tubuhnya.


Marvel dan Melvin saling sikut. Mereka memperebutkan ruang kosong di samping Baby Shakila. Baby Shakila tergelak saat melihat tingkah konyol kedua saudara itu. Ia bahkan mengeluarkan suara gelak tawanya yang terdengar sangat menggemaskan.


"Duduklah, Joe."


Marcello tersenyum hangat menyambut kedatangan Joe dan Sofia kemudian mempersilakan pasangan itu untuk duduk bersamanya.


"Terima kasih, Tuan." Joe dan Sofia duduk berdampingan sambil terus menatap wajah cerah Marcello saat itu.


"Joe, hari ini aku akan menjawab permintaanmu kemarin," ucapnya.


"Benarkah, Tuan?"


"Ya dan aku mengijinkan kamu pergi dari mansion ini tapi ada syaratnya," ucap Marcello sambil menyeringai licik.


Melihat seringaian licik yang mengambang di wajah tampan Marcello, Joe yakin ada rencana konyol yang sudah dipersiapkan oleh lelaki itu siapkan untuknya.


"Apa syaratnya, Tuan?" tanya Joe ragu-ragu.


"Kamu boleh pergi dari mansion ini, tetapi syaratnya kamu harus membangun rumah barumu di lingkungan mansion ini juga."


Joe memijit pelipisnya setelah mendengar jawaban dari majikannya tersebut. "Benar 'kan feelingku!" gumam Joe.


"Di samping kanan dan kiri mansion ini masih banyak lahan kosong. Kamu bisa membangun rumah barumu disana tanpa bayaran sedikitpun. Kurang baik apa coba? Tapi, biaya membangun rumahnya, kamu tanggung sendiri."


Sofia menatap Joe sambil tersenyum kecut. Sedangkan Marissa tersenyum puas mendengar jawaban konyol suaminya. Terdengar Konyol tetapi ide brilian bagi Marissa karena permasalahannya selesai dan Joe tidak bisa berkutik lagi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2