
"Sudah puas, Nona?"
"Ya!" sahut Maria dengan cepat.
"Sebaiknya kita pulang. Bukankah malam ini aku harus menemui Tuan Marcello untuk membicarakan masalah hubungan kita? Jika aku terus disini menemanimu, kapan aku bisa bersiap-siap, Nona Maria?" tutur Dylan.
Lelaki itu berjalan dengan kepala terangkat. Ia tidak peduli orang-orang di Mall tersebut menatapnya dengan tatapan aneh. Begitupula Maria, ia tetap tersenyum sembari memeluk lengan kekar Dylan.
"Ah ya, hampir saja Maria lupa! Om benar, sebaiknya kita pulang karena Maria yakin Mommy dan Daddy pun sudah bersiap menyambut kedatangan Om malam ini," jawab Maria.
Dylan pun segera menuntun Maria keluar dari Mall tersebut. Namun, baru beberapa langkah mereka menjejakkan kaki mereka di halaman parkir, seorang wanita menghampiri mereka dengan wajah heran.
"Tuan Dy--?"
"Hai, Nona Mita! Apa kabar?" Dylan mengulurkan tangan kepada Sekretaris cantik itu sambil tersenyum hangat.
Tentu saja Mita kebingungan dengan sikap Dylan saat itu. Selain penampilan aneh sang Boss yang terlihat lebih unyu dan menggemaskan, lelaki itu juga memanggilnya dengan sebutan Nona.
"Oh ya, Nona Maria ... kenalkan ini Nona Mita. Sekretaris Tuan Dylan," ucap Dylan sembari memperkenalkan Mita kepada gadis itu.
Maria segera mengulurkan tangannya tanpa merasa curiga sedikitpun. Begitupula Mita, walaupun ia kebingungan setingkat dewa, tetapi ia tidak berani bertanya lebih jauh lagi kepada Big Bossnya itu.
"Maaf, Nona Mita. Kami tidak bisa berlama-lama di sini, kami harus segera pulang. Permisi," ucap Dylan setelah Maria dan Mita selesai bersalaman.
Dylan mendorong pelan tubuh Maria menuju mobil. Sedangkan Mita masih terbengong-bengong menatap Dylan dan Maria yang berjalan menjauhinya.
"Dia bukan mantan kamu 'kan, Om?" tanya Maria penuh selidik.
"Ya, tentu saja bukanlah, Nona," jawab Dylan sambil terkekeh pelan karena sepertinya Maria tengah cemburu padanya.
Setelah Maria masuk ke dalam mobil, Dylan pun segera melajukan benda tersebut menuju mansion milik Marcello.
"Aku mengantarkanmu hingga di depan gerbang saja ya, Nona. Aku tidak ikut masuk karena aku harus segera bersiap-siap," ucap Dylan.
__ADS_1
"Ok, sipp! Aku tunggu kedatanganmu ya, Om."
. . .
Sementara itu di mansion.
Setelah mendapat kabar dari Maria bahwa Om Udin kesayangan gadis itu akan berkunjung malam ini, mereka pun nampak bersiap-siap untuk menyambutnya.
Shakila pun tidak tinggal diam. Ia ikut membantu Marissa menyiapkan segala sesuatunya.
"Oh ya, Kila sayang. Bisa bantu Mommy panggilkan Kak Marvel? Sepertinya dia masih berada di dalam kamarnya. Ada yang ingin Mommy bicarakan padanya," ucap Marissa.
"Ya, Mom. Tentu saja," sahut Shakila cepat.
Ia segera melangkahkan kaki menaiki anak tangga dan menuju kamar lelaki pujaannya itu. Walaupun sebenarnya saat itu ia benar-benar gugup, tetapi sebisa mungkin ia mencoba menyembunyikan kegugupannya.
Setibanya di depan pintu kamar Marvel, Shakila sempat terdiam sambil menatap pintu ruangan itu dengan seksama. Setelah menghembuskan napas dalam, Shakila mencoba mengetuk pintu kamar lelaki itu.
"Masuklah! Pintunya tidak di kunci." Terdengar suara berat Marvel dari dalam kamar.
Perlahan Shakila meraih gagang pintu dan membuka pintu tersebut sambil memperhatikan situasi di dalam ruangan itu. Namun, hingga matanya menyapu bersih ruangan itu, ia tidak melihat adanya sosok lelaki tampan yang selama ini mengisi hatinya tersebut.
"Tuan Marvel? Kamu dimana?" tanya Shakila sembari melangkahkan kakinya dengan perlahan menyusuri ruangan itu.
Marvel yang kini berdiri tepat di belakang gadis itu, hanya bisa tersenyum sambil memperhatikan Shakila yang sedang kebingungan mencari keberadaannya.
"Ada apa, Shakila?"
Shakila terperanjat. Ia langsung berbalik dan menoleh ke arah Marvel. Namun, hanya beberapa detik saja, setelahnya ia menutup matanya dengan kedua tangan sambil menjerit.
"Maafkan aku, Tuan Marvel! Aku sudah lancang, tapi aku berani bersumpah aku tidak melihatnya!" pekik Shakila.
Ya, saat itu Marvel baru saja selesai melakukan ritual mandinya. Ia bertelanjangg dada dan hanya menggunakan handuk kecil yang melilit di pinggang untuk menutupi sesuatu miliknya.
__ADS_1
"Memangnya apa yang ingin kamu lihat, Shakila?"
"Tidak ada, Tuan Marvel. Sumpah!"
Shakila melangkahkan kakinya dengan mata yang masih tertutup rapat. Ia meraba-raba apa yang ada di hadapannya seperti orang buta dan berharap bisa menemukan pintu kemudian pergi secepatnya dari ruangan itu.
Marvel masih penasaran dan ia mengikuti gadis itu hingga akhirnya ia berdiri tepat di hadapannya. Shakila yang masih berjalan dengan mata tertutup akhirnya menabrak tubuh kekar Marvel yang sedang tidak berpakaian.
Lagi-lagi Shakila terperanjat dan wajahnya nampak memerah. "Aduh, maafkan aku sekali lagi, Tuan! Aku tidak sengaja."
"Bukalah matamu, Shakila. Kamu tenang saja, aku aman! Percayalah," ucap Marvel sambil tertawa pelan karena melihat tingkah Shakila yang terlihat lucu.
"Tapi ...."
"Percayalah, setidaknya aku tidak sedang telanjangg sekarang ini," sahut Marvel.
"Ba-baiklah."
Perlahan Shakila memberanikan diri untuk membuka matanya. Ia mengangkat kepalanya dan hanya berani menatap wajah tampan itu, tanpa berani menundukkan kepalanya sedikitpun.
"Memangnya ada apa, Shakila?"
"Mommy Icha memintaku memanggil Tuan. Katanya ada sesuatu yang ingin Mommy bicarakan padamu," jawab Shakila.
"Baiklah, aku akan segera menemuinya."
Dengan cepat, Shakila melangkahkan kakinya menuju pintu kamar dan ingin segera pergi dari ruangan itu. Entah mengapa ia merasa ruangan itu terasa sangat panas, padahal ia tahu bahwa AC di ruangan itu masih dalam keadaan On.
"Shakila, setelah bicara dengan Mommy, aku ingin bicara denganmu. Dan apa yang ingin ku bicarakan ini juga tidak kalah pentingnya," ucap Marvel.
Shakila sempat terdiam sejenak kemudian menganggukkan kepalanya. "Baik, Tuan."
...***...
__ADS_1