Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 67


__ADS_3

Setelah Marissa selesai berkemas, ia dan Marcello pun segera berpamitan kepada Bu Nilam dan Fattan.


"Sering-sering main kesini ya, Nak." Bu Nilam dengan mata berkaca-kaca memeluk dan juga menciumi puncak kepala gadis itu.


"Tentu saja, Bu. Marissa janji akan main-main lagi kesini." Marissa melerai pelukannya sambil tersenyum hangat kemudian melirik Marcello yang berdiri disampingnya. "Benar 'kan, Dad."


"Ya, Bu Nilam. Kami pasti akan berkunjung lagi ke desa ini," sahut Marcello.


Setelah berpamitan kepada Bu Nilam dan Fattan merekapun segera berangkat. Bu Nilam melambaikan tangannya hingga rombongan mobil Marcello menghilang dari pandangannya.


"Sudahlah, Bu. Jangan sedih, masih ada Fattan dan Erika di sini," ucap Fattan sembari menuntun Bu Nilam memasuki kediamannya.


"Tapi, besok 'kan kalian bakal pulang juga, itu artinya Ibu sendirian lagi." Bu Nilam terisak sambil melangkahkan kakinya.


Erika dan Fattan saling bertatap mata dengan tatapan sendu. Mereka merasa iba kepada Bu Nilam setelah mendengar penuturan wanita paruh baya itu.


Sementara itu di dalam mobil Marcello.


"Sekarang aku harus memanggilmu dengan sebutan apa? Tetap Daddy atau ada sebutan baru untukmu?" tanya Marissa tanpa menoleh sedikitpun kepada lelaki itu.

__ADS_1


Marcello tersenyum tipis sambil memperhatikan gadis itu. "Daddy bingung, Cha, dengan status kita sekarang. Saat ini Daddy masih belum bisa menganggapmu sebagai Istri Daddy sepenuhnya. Karena bagi Daddy kamu itu tetap gadis kecilnya Daddy," jawabnya seraya mengelus rambut Marissa yang tergerai panjang.


Marissa menyeringai licik. "Benarkah? Kita lihat saja nanti, saat tiba di Mansion. Apa masih bisa kamu bicara seperti itu, Tuan Marcello!" ucap Marissa dalam hati.


Berbagai rencana nakal mulai berkeliaran di dalam kepala Marissa. Ia ingin membuktikan apakah omongan Marcello itu benar, atau lelaki itu hanya mencoba menyangkal perasaan yang sesungguhnya terhadap Marissa.


Marissa menoleh kepada Marcello kemudian menyandarkan kepalanya ke pundak lelaki itu. "Tapi, bagiku, Daddy adalah suamiku sekarang. Jadi--" Marissa menggigit bibir bawahnya dengan gaya sensual sembari meletakkan tangannya ke atas paha Marcello kemudian mengelusnya dengan lembut.


Marcello menegang menatap gadis kecilnya yang sudah berani nakal. Ia menelan saliva dengan susah payah sembari menahan hasratnya sebagai seorang laki-laki.


"Jadi?!" tanya Marcello yang setengah mati menahan senjatanya agar tidak bangun. Apalagi saat ini, tangan gadis itu dengan sengaja menyenggol-nyenggol benda keramatnya.


"Jadi ...." Marissa mendekatkan bibirnya ke telinga lelaki itu. "Bolehkan sekali-sekali aku minta hakku sebagai seorang Istri?!" sambungnya sembari menyentuh ujung dan telinga Marcello dengan lidahnya.


"Nanti, Cha. Jika Daddy sudah siap untuk melakukannya bersamamu," jawabnya.


Marissa berpaling dari Marcello sambil menekuk wajahnya. Ia sangat kesal mendengar jawaban lelaki itu.


Suasana di mobil itu menjadi hening ketika Marissa dan Marcello memutuskan untuk tidak bicara sepatah katapun lagi. Hanya suara deru mobil yang terdengar, hingga akhirnya pengantin baru itupun tertidur dengan posisi saling bersandar. Marissa bersandar di pundak Marcello, sedangkan lelaki itu bersandar di sandaran jok mobilnya.

__ADS_1


Tak terasa, pagi pun menjelang. Mobil yang membawa Marissa dan Marcello sudah tiba di kota tempat tinggal lelaki itu.


"Kita sudah sampai dimana, Joe?" tanya Marcello pelan sambil mengucek matanya. Ia tersenyum melihat Marissa yang masih tertidur nyenyak di pundaknya.


"Sebentar lagi kita tiba di Mansion, Tuan," sahut Joe.


"Syukurlah, aku sudah lelah dan ingin segera berendam di Bath up kesayanganku."


Tak berselang lama, gadis itupun terbangun dari tidurnya. Ia merentangkan tangan untuk merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku karena duduk dengan posisi yang sama dalam jangka waktu yang lumayan lama. Marissa memperhatikan sekeliling jalan dan ia tahu bahwa sekarang ia sudah berada ke kota.


"Akh, akhirnya!" seru Marissa.


. . .


Kembali ke desa, dimana Fattan bersiap-siap untuk kembali ke kota dan mengantarkan Erika kembali ke rumah orang tuanya. Mereka sengaja memilih pulang di siang hari, agar tadi malam mereka bisa beristirahat dengan tenang. Fattan tidak ingin mengambil resiko kelelahan seperti pasangan Marissa dan Marcello.


Baru saja Fattan selesai meletakkan barang-barang bawaan Erika kedalam bagasi mobilnya.Tiba-tiba saja sebuah mobil mewah berwarna putih berhenti tepat di depannya. Fattan memperhatikan mobil itu dengan seksama. Ia begitu penasaran, mobil milik siapa itu.


Tak menunggu lama, pintu mobil itupun terbuka dan nampaklah seorang laki-laki paruh baya dengan mengenakan setelan jas berwarna hitam. Lelaki itu mengulurkan tangannya kepada seorang wanita yang masih duduk di dalam mobil. Ia membantu wanita yang merupakan Istrinya, keluar dari mobil tersebut.

__ADS_1


Pasangan itu menghampiri Fattan dengan wajah masam. "Dimana kamu sembunyikan Erika!!!" tanya lelaki paruh baya tersebut kepada Fattan.


...***...


__ADS_2