
"Apa yang mereka lakukan disana, Joe!" tanya Marcello sembari memukul jok depan dimana Joe duduk di depan setirnya.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak tahu apa yang mereka lakukan didalam sana," sahut Joe.
"Dasar! Asisten tidak berguna, ditanya selalu saja jawabannya tidak tahu," gerutu Marcello sembari keluar dari dalam mobilnya. Tidak cukup sampai disitu, Marcello juga membating pintu mobilnya dengan sangat keras.
Joe hanya bisa terkekeh mendengar umpatan Bossnya itu. Iapun segera keluar dari mobil kemudian mengikuti langkah kaki Marcello menuju mobil yang ditumpangi Marissa.
Saat itu Fattan masih membalut luka Marissa dan tanpa mereka duga, Marcello sudah berdiri tepat disamping mobil Fattan.
"Heh, buka pintunya!" titah Marcello sembari mengetuk kaca mobil Fattan dengan keras.
"Daddy!" pekik Marissa sambil membulatkan matanya.
Bukan hanya Marissa, Fattan pun tidak kalah terkejutnya. Setelah selesai membalut luka Marissa, Fattan segera membukakan pintu mobilnya.
"Tuan Marcello?!" sapa Fattan.
"Mau kau ajak kemana Putriku?" kesal Marcello dengan wajah memerah menatap Fattan.
"Saya hanya ingin mengantar Marissa pulang, Tuan. Kebetulan jalan yang saya lalui searah dengan kediaman Anda," sahut Fattan sambil tersenyum menatap Tuan Marcello.
Senyuman yang dilemparkan oleh Fattan membuat Marcello semakin kesal. Marcello mengepalkan tangannya dengan sempurna dan rahangnya terlihat mengeras ketika bersitatap dengan lelaki itu.
__ADS_1
Marissa bergegas keluar dari mobil kemudian menghampiri Marcello. "Dad, sudahlah! Apa yang dikatakan oleh Pak Fattan itu benar, dia hanya ingin mengantarkan Icha pulang, itu saja!" sela Marissa sembari memeluk lengan Marcello dengan erat agar lelaki itu tidak melakukan hal-hal aneh kepada Dosennya.
"Kamu juga sama! Bukankah kamu sudah terbiasa diantar jemput oleh Joe, kenapa sekarang malah ikut bersama Pria ini!" ucap Marcello sembari mendengus kesal.
Marissa menautkan kedua alisnya sambil menatap heran kepada Marcello. "Loh, memangnya salah ya, jika Icha numpang pulang bersama Pak Fattan?"
"Salah!" jawab Marcello dengan tegas.
Marcello menarik tangan Marissa kemudian memasukkan gadis itu dengan paksa kedalam mobilnya. Setelah Marissa masuk, Marcello pun segera menyusulnya.
"Joe, cepat jalan!" titah Marcello kepada Joe yang sudah bersiap melajukan mobilnya.
"Baik, Tuan!" Joe segera melajukan mobil itu dan meninggalkan Fattan yang masih kebingungan melihat aksi Marcello barusan.
"Sudah Daddy bilang jangan dekat-dekat sama Dosen itu. Daddy sangat yakin, Dosen itu hanya ingin memanfaatkan kepolosanmu!" sahut Marcello.
Jawaban Marcello membuat Marissa kembali mengernyitkan keningnya. "Kenapa Daddy bisa berkata seperti itu?!"
"Sudah, jangan banyak protes! Ikuti saja kata Daddy, jika Daddy bilang tidak, itu artinya tidak!!!"
Marissa tidak ingin memperpanjang masalahnya dengan Marcello. Ia lebih memilih diam sambil menatap kearah luar dengan wajah menekuk.
Marcello masih penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Marissa bersama Fattan didalam mobil lelaki itu. Marcello melirik Marissa yang masih cemberut kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada Gadis itu.
__ADS_1
"Cha, sebenarnya apa yang kalian lakukan didalam mobilnya? Apakah kalian melakukan hal yang tidak senonoh? Jawab yang jujur," ucap Marcello sembari membuang muka.
Marissa kembali menoleh kepada Marcello. "Melakukan apa, Dad? Kami tidak melakukan apapun. Pak Fattan hanya menggantikan perban luka ditangan Icha, itu saja?!" kesal Marissa.
"Luka? Kenapa dengan lukamu?" Marcello panik dan melupakan rasa cemburunya. Lelaki itu segera meraih tangan Marissa kemudian memperhatikan luka tersebut. Dan apa yang dikatakan oleh Marissa ternyata benar, perban yang membalut luka Marissa terlihat masih baru.
"Entahlah, lukanya kembali mengeluarkan darah dan perban yang sebelumnya sudah terlihat kotor. Pak Fattan hanya membantuku menggantikan perbannya dengan yang baru," tutur Marissa.
Marcello menghembuskan napas berat seraya menatap Marissa dengan lekat. "Maafkan Daddy, Cha. Daddy hanya tidak ingin kamu kenapa-napa. Daddy tidak percaya, baik kepada Dosen itu maupun lelaki manapun yang mencoba mendekatimu," Lirih Marcello sambil mengelus tangan Marissa yang terluka.
"Icha bisa jaga diri kok, Dad! Daddy tenang saja, tidak akan ada yang berani macam-macam kepadaku," sahut Marissa tegas.
"Kemarilah,"
Marcello meraih tubuh Marissa kedalam pelukannya. Joe melirik kedua orang itu dari kaca spion sambil menggelengkan kepalanya.
Sikap posesif yang ditampakkan oleh Marcello sudah jelas, bukan sikap seorang Ayah yang mengkhawatirkan anak gadisnya. Namun, lebih mengarah kepada sikap seorang laki-laki terhadap wanita yang dicintainya.
"Daddy, lain kali jangan permalukan Icha seperti ini lagi, ya. Icha benar-benar malu dan sekarang, Icha bahkan tidak tahu bagaimana caranya meminta maaf kepada Pak Fattan!" ucap Marissa yang masih kesal kepada Marcello.
"Tidak perlu meminta maaf padanya karena kamu akan Daddy pindahkan ke Universitas lain," sahut Marcello tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Apa?!" pekik Marissa.
__ADS_1
...***...