Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 158


__ADS_3

Perlahan Joe memasukkan senjatanya ke dalam area pribadi Sofia. Gadis itu membulatkan matanya dengan sempurna. Ia tidak menyangka bahwa ternyata 'membuka segel' itu rasanya sangat sakit.


Baru saja Joe menghentakkan tubuhnya, Sofia sudah memekik kesakitan sambil menggigit selimut. Air matanya bahkan sampai keluar. Joe yang tadinya begitu bersemangat tiba-tiba saja menjadi iba dan menghentikan aksinya. Padahal senjata andalannya baru masuk separuh.


"Maafkan aku, Sofia. Sebaiknya kita hentikan saja," lirih Joe.


Di saat Joe ingin menarik senjatanya, Sofia menggelengkan kepalanya dengan cepat sembari melarang lelaki itu melepaskan apa yang sudah menyatu di bawah sana.


"Jangan, Mas! Lanjutkan saja, aku pasti bisa melewatinya, kok!" jawab Sofia dengan wajah yakin walaupun ketakutan itu masih terlihat jelas di sana.


"Kamu yakin?!"


"Sangat yakin!"


"Baiklah kalau begitu. Tahan sedikit lagi, ya!"


Sofia bersiap menerima serangan terakhir dari lelaki itu sambil memejamkan matanya. Tanpa aba-aba, Joe menghentakkan tubuhnya dengan cepat agar senjatanya bisa masuk dengan sempurna.


Tubuh Sofia gemetar dan darah segar pun mengalir di bawah sana. Perlahan Joe menarik benda pusakanya kemudian memasukkannya lagi. Walaupun masih terasa sakit, Sofia tetap menahannya agar Joe tidak kecewa.


Perlahan-lahan, rasa sakit yang dirasakan oleh Sofia pun mulai berkurang. Sedangkan Joe, karena pengaruh obat yang diminumnya, ia menjadi lelaki yang sangat 'hot' malam ini.


"Uh ... akh ...!"


Semakin cepat Joe memompa tubuhnya semakin sering pula dessahan keluar dari bibir Sofia. Tentu saja hal itu membuat Joe senang dan bersemangat melakukan yang terbaik agar tidak mempermalukan dirinya.


"Tidak sia-sia Nona memberikan obat itu padaku," gumam Sofia sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


"Hah?! Obat apa?!" pekik Joe tanpa menghentikan aksi liarnya di atas tubuh Sofia.


"Entahlah obat apa namanya, yang pasti obat itu membuat kamu seperti cacing kepanasan," sahut Sofia sambil merasakan kenikmatan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Joe memasang wajah malas, sekarang ia tahu siapa yang sudah mengajari hal-hal aneh pada istri polosnya itu. Namun, Joe tidak marah. Ia bahkan senang karena akhirnya mereka berhasil melewati malam pertama mereka sama seperti pengantin lainnya.


"Pantas saja aku merasa aneh pada tubuhku dan senjataku pun ikut-ikutan bangkit tak terkendali. Ternyata ini adalah rencanamu dan Nona Marissa. Maka dari itu rasakanlah serangan dariku, Sofia," sahut Joe yang kembali menyeringai kepada Istri kecilnya yang sedang menikmati permainan panas mereka.


Joe semakin liar bermain di atas tubuh gadis kecilnya. Sofia bahkan sampai 'merem-melek' karena senjata keramat milik Joe yang berukuran jumbo tersebut terus mengobok-obok sarangnya yang masih sempit dengan sangat liar. Joe benar-benar seperti singa jantan yang baru saja terbangun dari hibernasinya, sangat liar dan garang.


Hingga akhirnya, Joe merasakan dirinya sudah berada di puncak kenikmatan yang tiada tara. Singa jantan itu mengerang dan calon-calon Joe Junior pun keluar dari senjata keramat milik Joe dan berlarian menuju tempat persemayaman mereka.


Begitupula Sofia, ia juga merasakan puncak kenikmatannya. Sofia mencengkeram punggung kekar Joe dengan erat sambil melepaskan kenikmatannya.


Dengan napas terengah-engah, Joe menjatuhkan dirinya di samping Sofia kemudian melabuhkan ciuman di seluruh wajah istri kecilnya itu.


"Terima kasih, Sofia karena sudah bersedia menjadi istriku," ucap Joe.


. . .


Keesokan harinya.


"Aku penasaran, apakah Om Joe sudah berhasil membobol gawang Sofia tadi malam," ucap Marissa kepada Marcello sambil membantu lelaki itu merapikan pakaiannya.


"Itu urusan mereka. Jangan sampai kamu bertanya macam-macam soal malam pertama mereka kepada Sofia, ya!" ucap Marcello sembari mengingatkan istrinya itu.


"Tapi, aku 'kan penasaran," lirih Marissa sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


"Ya, sudah! Mari kita sarapan, aku sudah lapar," ajak Marcello.


Marcello menuntun Marissa keluar kamar mereka dan menuju ruang makan. Di saat padangan itu ingin memasuki ruang makan, tiba-tiba saja mata Marissa tertuju pada Sofia dari kejauhan.


"Daddy duluan aja, ya! Nanti aku susul! Aku berjanji hanya lima menit saja," ucap Marissa sambil mengelus wajah Marcello dengan lembut.


Marcello menatap curiga kepada Marissa dan dari kejauhan ia melihat Sofia sedang berjalan menuju dapur dengan tertatih-tatih.


"Lima menit!"


"Ya, hanya lima menit," sahut Marissa yang kemudian melabuhkan ciuman hangatnya di pipi suaminya itu.


Setelah Marissa melenggang pergi, Marcello hanya bisa menggelengkan kepalanya. Entah mengapa ia merasa Marissa sudah terlalu 'Kepo' dengan urusan pasangan pengantin baru itu.


Marissa menghampiri Sofia yang masih melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia memnaggil Nyonya Joe itu sambil memperhatikan cara berjalannya.


"Sofia, kenapa jalanmu begitu?!" tanya Marissa sambil terkekeh pelan.


"Aduh, Nona! Saya kapok," sahut Sofia sambil meringis.


"Loh, kenapa?" tanya Marissa penasaran.


"Bagaimana tidak, Tuan Joe seperti singa jantan yang mengamuk karena tidurnya terusik olehku. Hampir semalam aku di ajaknya bergelut dan ia bilang itu semua karena obat yang Nona kasihkan," keluh Sofia.


"Loh, kok begitu?! Memangnya obat yang aku kasih kemarin, kamu kasih semua ke Om Joe?!"


"Ya," sahut Sofia sambil menganggukkan kepalanya dengan cepat.

__ADS_1


Marissa menepuk jidatnya sendiri. Ia benar-benar lupa memberitahu Sofia bahwa cukup satu biji untuk Joe dan satunya untuk gadis itu.


...***...


__ADS_2