Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 218


__ADS_3

Di perjalanan pulang menuju kediaman Dylan.


Dylan masih galau memikirkan saran Mac. Di tengah-tengah kegalauannya, tanpa ia sadari bahwa saat itu Dylan sedang melewati sekolah Maria.


Seorang gadis cantik baru saja keluar dari gerbang sekolahnya sambil mengendarai scooter matic berwarna pink dengan wajah lelah. Dan sekarang gadis itu melaju tepat di hadapan mobil yang sedang dikemudian oleh Mac.


Dylan yang baru menyadari keberadaan gadis itu sontak terkejut. "Mac, awas! Jangan cari masalah dengan gadis di depan itu. Untuk hari ini aku tidak ingin berurusan dengannya," ucap Dylan dengan wajah panik sembari menunjuk seorang gadis yang sedang melaju dengan scooter matic berstiker Hello Kitty tersebut.


"Memangnya siapa gadis itu, Tuan?" tanya Mac heran.


"Dia Maria, gadis yang aku ceritakan padamu dulu. Anak bungsu dari pasangan Tuan Marcello dan Nyonya Marissa."


"Benarkah? Bolehkah aku bermain-main dengannya, Tuan Dylan? Ya, hitung-hitung balas dendam karena dia sudah mengerjai Anda tempo hari," ucap Mac sambil menyeringai.


Sontak saja Dylan mengeluarkan jurus sentilan mautnya ke kepala Mac.


Pletak!


"Aw!" pekik Mac sambil mengusap kepalanya yang kena sentil oleh Dylan.


"Kurang asem kamu, Mac! Kamu akan berurusan denganku jika berani menyentuhnya. Ingat, hanya aku yang boleh menyentuh gadis itu," geram Dylan dengan wajah kesal menatap punggung Mac yang kini malah terkekeh setelah mendapatkan sentilan maut dari Dylan.


"Maafkan saya, Tuan. Saya hanya bercanda."


Mobil yang dikemudikan oleh Mac masih melaju di belakang Maria. Mac tetap menjaga jarak aman dengan gadis itu hingga beberapa meter jauhnya.

__ADS_1


"Mac, apa kamu tidak curiga pada motor yang melaju di samping gadis itu? Entah mengapa aku merasa gelagat mereka terlihat mencurigakan," ucap Dylan sambil memperhatikan dua orang laki-laki yang sedang mengendarai sebuah motor dengan berboncengan tak jauh dari motor Maria.


"Ya, saya juga merasa curiga, Tuan. Sepertinya mereka sedang membuntuti gadis itu."


Ternyata firasat Dylan benar. Setelah merasa agak sepi, kedua orang itu memepet motor yang sedang dikendarai oleh Maria. Maria terperanjat dan beruntung dia bisa mengontrol laju motornya dan berhenti tanpa cidera sedikitpun.


"Mau apa kalian?" pekik Maria dengan wajah memucat ketika kedua lelaki itu menghampirinya.


"Sini, mana kunci motormu! Serahkan padaku, cepat!" titah salah satu dari kedua lelaki itu dengan mata membulat menatap Maria.


"Aku tidak mau!" ucap Maria sembari menarik kunci motor maticnya kemudian menggenggamnya dengan erat.


"Ayo, cepat ambil! Keburu ada orang," titah salah satu lelaki lainnya.


Lelaki yang sedang mengancam Maria mengeluarkan sebuah pisau lipat kemudian mengacungkannya kepada gadis itu. Tubuh Maria bergetar hebat dan wajah cantik gadis itu nampak memucat.


"Jangan banyak bacot, Neng cantik. Lah, masih mending Abang cuma minta kunci motornya doang. Lah, kalo Abang minta sama Neng-nya sekalian, gimana ayo?"


Dylan yang sudah tidak bisa menahan emosinya segera keluar dari mobil dan menghampiri kedua lelaki itu.


"Aku pastikan tangan kalian akan patah menjadi dua jika berani menyentuh gadis itu," ancam Dylan sambil menyeringai.


Karena gugup dan ketakutan, kedua lelaki itu segera menyerang Dylan secara brutal. Dengan hanya bermodal nekat tanpa basic ilmu bela diri sedikitpun, kedua lelaki itu mencoba meninju dan menendang Dylan.


Namun, mereka tidak tahu bahwa Dylan dulunya pernah menjadi juara karate tingkat internasional saat masih SMA. Serangan membabi buta dari kedua lelaki itu sama sekali bukan masalah untuk seorang Dylan.

__ADS_1


Mac terpelongo di dalam mobil sambil memperhatikan perkelahian Dylan dengan kedua lelaki yang terlihat konyol tersebut.


"Sebenarnya Anda kenapa, Tuan Dylan? Katanya tidak suka sama gadis ingusan itu, tapi kenapa malah menolongnya? Kenapa tidak dibiarkan saja kedua orang itu mengerjainya," gumam Mac sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Hanya dalam hitungan detik, kedua lelaki itu sempoyongan dan kemudian ambruk di tempat. Salah satu dari lelaki itu jatuh di samping kaki Maria. Maria yang masih kesal, melepaskan sepatunya kemudian memukul lelaki yang sudah tidak berdaya itu.


Bukk ... bukk ... bukk ...


"Rasakan ini! Rasakan ini!" gumamnya.


Dylan menghampiri mobilnya kemudian melepaskan dasi, jas serta rompi yang sedang dikenakannya.


"Sepertinya aku kembali terperangkap bersama gadis ini, Mac. Sebaiknya kamu pulang duluan, biar nanti aku minta jemput sama Pak Udin," ucap Dylan sembari menyerahkan dasi, rompi serta jas mahal yang tadi melekat di tubuhnya kepada Mac.


"Apa Anda yakin, Tuan?" tanya Mac seraya meraih pakaian milik Dylan.


"Ya, pergilah."


Setelah Mac pergi, Dylan kembali menghampiri Maria yang kini menatapnya sambil tersenyum lebar. Gadis itu nampak sangat bahagia melihat kehadiran Dylan di tempat itu.


"Om Udin!" seru Maria sembari berlari kecil kemudian memeluk tubuh besar Dylan dengan erat.


"Terima kasih, Om karena sudah membantu Maria."


"Ini tidak gratis, Nona Maria. Aku minta bayaran satu milyar untuk jasaku kali ini," ucap Dylan sembari melerai pelukan gadis mungil itu.

__ADS_1


"Apa?!" pekik Maria sambil menekuk wajahnya.


...***...


__ADS_2