Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 133


__ADS_3

"Huh ... hah ... huh ... hah!"


Dengan nafas terengah-engah, Sofia tiba di Mansion milik Marcello. Ia memarkirkan sepeda yang baru diberikan oleh Asisten Joe ke tempat parkir untuk para pekerja di Mansion.


Seperti biasa, Joe sudah berada di halaman depan Mansion untuk berolahraga dan berlari mengelilingi halaman tersebut. Dari kejauhan, Joe memperhatikan gadis itu dan berjalan menghampirinya.


"Eh, selamat pagi, Tuan Joe!" sapa Sofia sambil tersenyum manis menatap Joe yang terlihat berbeda.


Lelaki itu hanya menggunakan baju kaos berwarna putih dan memperlihatkan otot-otot tubuhnya dengan sangat jelas.


Joe melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian kembali menatap gadis itu dengan tatapan dinginnya.


"Tidak bisakah kamu datang lebih awal? Coba lihatlah, semua pelayan disini sudah memulai pekerjaan mereka. Sedangkan kamu baru saja tiba disini," ucap Joe dingin.


Sofia menghembuskan napas berat dan kini ekspresi wajahnya berubah menjadi sendu.


"Tuan, jarak antara Mansion dan rumahku sangatlah jauh. Padahal aku sudah berusaha untuk datang lebih awal, bahkan aku berangkat dari rumahku disaat hari masih gelap, Tuan," tutur Sofia sambil menyeka keringatnya yang bercucuran.


"Alasan!" ucap Joe sembari melenggang pergi meninggalkan Sofia ditempat itu.


Sofia tidak terlalu memikirkan apa yang dikatakan oleh lelaki itu. Ia bergegas memasuki Mansion kemudian mengganti pakaiannya dengan seragam pelayan, sama seperti pelayan lainnya.


Setelah mengganti pakaiannya, Sofia meraih peralatan bersih-bersih kemudian membawanya ke depan Mansion karena ia mendapatkan tugas disana.


Ketika Sofia membersihkan kaca diruangan itu, ia melihat Joe yang sedang menunjukkan kekuatannya dihadapan para Bodyguard. Joe mengangkat Dumbell yang beratnya sekitar 30 kilogram dan membuat otot-otot tangannya menyembul.


"Huwahhh!!!"

__ADS_1


Mata Sofia membulat sempurna. Sofia terpesona melihat kekuatan dan kesempurnaan tubuh lelaki yang usianya dua kali lipat dari usia Sofia.


"Ya, Tuhan! Lihat bodynya!!!" pekik Sofia.


"Body siapa?"


"Body Tuan Joe lah, siapa lagi?" jawab Sofia yang masih fokus pada pemandangan indah di depan matanya.


"Oh, memangnya kamu suka ya, sama Asisten Joe?"


"Hehe, mana mau dia sama aku. Aku cuma pelayan disini,"


Tiba-tiba saja Sofia tersadar. Ada seseorang yang sedang mengajaknya bicara dan ia tidak tahu siapa yang sedang bicara dengannya. Dengan wajah pucat, Sofia memalingkan wajahnya perlahan dan menatap seseorang yang sedang berdiri di depannya.


"No-Nona Marissa?" ucap Sofia terbata-bata.


"Maafkan saya, Nona Marissa. Saya berjanji tidak akan melakukan ini lagi! Potonglah gaji saya, tapi saya mohon jangan pecat saya," lirih Sofia dengan mata berkaca-kaca menatap Marissa sambil menangkupkan kedua tangannya.


Marissa terkekeh setelah mendengar ucapan gadis itu. Ia menghampiri Sofia kemudian menepuk pundaknya dengan lembut.


"Yang pengen memecat kamu siapa, Sofia. Tapi serius deh, kamu beneran suka ya sama Assisten Joe?" tanya Marissa sembari mengintip lelaki itu dari balik kaca depan Mansion.


Sofia sedikit tenang setelah mendengar jawaban dari Marissa bahwa ia tidak akan dipecat. Namun, masalahnya sekarang adalah rasa malu yang kini mendominasi hatinya. Ia benar-benar malu karena mulutnya terlalu bocor, mengakui hal yang tidak-tidak.


"Sebenarnya aku itu ngomongnya suka asal-asalan, Nona. Jangan dianggap serius, ya." Sofia menggulung-gulung ujung bajunya sambil memperhatikan Marissa yang masih mengintip Joe dari balik kaca.


Ehem!!!

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara lelaki yang sedang berdehem dari belakang kedua wanita itu. Marissa dan Sofia segera berbalik dan ternyata Marcello sudah berdiri di belakang mereka. Ia menatap kedua wanita itu dengan tatapan heran.


"Sedang apa kamu di sini, Cha? Mengintip Joe?" tanya Marcello penuh selidik.


Marissa tergelak setelah mendengar ucapan Marcello yang terdengar begitu lucu baginya.


"Mengintip Om Joe? Kayak yang gak ada kerjaan aja," jawab Marissa.


Marissa menghampiri Marcello kemudian memeluknya dengan erat. Sofia merasa kehadirannya hanya mengganggu kemesraan pasangan itu. Ia bergegas membawa peralatan bersih-bersihnya dan membersihkan sudut lain di ruangan itu.


"Trus kalau bukan mengintip, apa itu namanya?" tanya Marcello sambil mencubit dagu Marissa.


"Sebenarnya bukan begitu, Daddy. Tadi itu aku menangkap basah Sofia sedang mengintip Om Joe sambil berdecak kagum. Sepertinya Sofia itu menyukai Om Joe, deh."


"Sofia? Siapa itu?"


"Ya Tuhan, Daddy! Itu, Pelayan baru kita. Yang barusan bicara sama Icha," jawab Marissa.


"Pelayan tadi?"


"Ya! Dan Icha punya ide, bagaimana jika kita jodohkan saja mereka berdua. Supaya Om Joe tidak menjadi pria kesepian lagi, ya 'kan?!"


Marcello menautkan kedua alisnya. Sudah cukup baginya menjadi 'Mak Comblang' untuk Riyadh dan Dian. Dan dia tidak ingin menjadi 'Mak Comblang' yang kedua kalinya untuk Joe dan Pelayan itu.


"Tidak, tidak! Aku tidak mau."


"Oh, ayolah Daddy sayang!!!" rengek Marissa.

__ADS_1


...***...


__ADS_2