
"Ini tidak gratis, kamu harus tetap membayarnya, Sofia." Joe menyeringai licik menatap Sofia.
Sofia sempat memasang wajah malas, tetapi hanya sebentar. Setelah itu ia pun kembali tersenyum hangat kepada lelaki itu. Sofia tahu, Assisten Joe ini memang menyebalkan, tetapi pada dasarnya lelaki itu baik. Buktinya, Assisten Joe rela memboyong pasangan Big Bossnya ke tempat kumuh hanya untuk membantu dirinya.
"Apapun itu, Tuan Joe. Yang penting kamu tidak memintaku menggantinya dengan sejumlah uang. Karena saat ini aku bahkan tidak memiliki uang sepeser pun."
"Hah, kalau bukan dengan uang, memangnya kamu mau membayarnya dengan apa?" tanya Joe penasaran.
"Aku akan mengabdikan hidupku untukmu, Tuan Joe. Itupun jika kamu mengizinkannya," sahut Sofia mantap.
Joe menyunggingkan sebuah senyuman tipis di wajah dinginnya. Setelah itu ia pun segera berbalik dan meninggalkan Sofia di tempat itu.
Sofia mengikutinya dari belakang dan kini mereka menuju tempat, dimana Marissa dan Marcello jadi tontonan para warga sekitar.
"Bagaimana, Bu Sri? Apa Ibu setuju?" tanya Marcello kepada Bu Sri yang duduk tak jauh darinya.
Bu Sri menganggukkan kepalanya dengan cepat dan senyuman kebahagiaan itu akhirnya terpancar di wajahnya yang memucat.
"Ya, Tuan. Tentu saja saya setuju. Terima kasih, Tuan. Terima kasih banyak," jawabnya dengan berkaca-kaca.
Sofia dan Joe yang baru saja tiba di tempat itu segera menghampiri mereka. Joe berdiri tak jauh dari Tuan nya, sedang Sofia duduk di samping Ibunya.
"Sofia, Tuan Marsmellow baik sekali, Nak. Dia mengizinkan kita tinggal di rumahnya yang besar itu untuk sementara," ucap Bu Sri dengan sangat antusias mengatakannya. Sampai-sampai ia tidak sadar bahwa ia sudah salah sebut nama Marcello.
"Tuan Marcello, Bu."
Sofia benar-benar malu ketika Ibunya salah mengucapkan nama sang majikan. Ia sempat melirik ke arah pasangan itu dan juga Joe. Ia takut mereka marah kepada Ibunya. Ternyata ia salah, baik Marissa maupun Marcello sama sekali tidak marah, malah terkekeh pelan.
__ADS_1
Hanya Joe yang tidak bisa ditebak apa yang ada di dalam pikirannya sekarang. Wajah lelaki dingin itu tetap saja datar ketika membalas tatapan Sofia saat itu.
"Iya, maafkan Ibu."
Wajah Bu Sri memerah menahan malu, begitupula Sofia.
"Maafkan Ibu saya ya, Tuan."
"Tidak apa-apa, tenang saja," jawab Marcello, masih dengan senyuman yang terus mengambang di wajah tampannya.
"Terima kasih banyak, Tuan."
"Kalian bisa kembali lagi ke sini setelah rumah kalian selesai di bangun. Rumah yang lebih bagus dan lebih kokoh daripada sebelumnya," lanjut Marcello.
Sofia menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangan. Ia tidak menyangka bahwa bantuan yang ia dapatkan dari Tuan Marcello jauh melebihi harapannya. Matanya berkaca-kaca ketika menatap wajah pasangan itu.
Marcello melirik jam tangan mewahnya. Ternyata mereka sudah lumayan lama berada di tempat itu.
"Sebaiknya kita pulang, Cha. Lagipula aku masih harus kembali ke kantor," ucap Marcello kepada Marissa.
"Baiklah, aku juga ingin beristirahat, Dad."
Pasangan itupun segera pamit kepada Sofia, Bu Sri dan warga sekitar yang masih mengerumuni mereka. Setelah kepergian Tuan Marcello, Sofia mempersiapkan barang-barang yang akan dia bawa ke mansion nantinya bersama Sang Ibu, sebelum anak buah Joe datang menjemput mereka.
"Mungkin ini sudah janji Sofia ya, Bu. Sofia akan terus mengabdi pada keluarga mereka. Lihatlah yang mereka lakukan untuk keluarga kita, lebih dari harapan kita sebelumnya," ucap Sofia kepada sang Ibu yang sedang merapikan pakaian yang masih bisa mereka gunakan.
"Bekerjalah yang baik disana, Sofia. Jangan sampai mengecewakan mereka. Ibu pun akan membantu pekerjaanmu semampu Ibu," sahut Bu Sri dengan mata berkaca-kaca menatap Sofia.
__ADS_1
Mengingat kondisinya yang sudah tidak bisa lagi melakukan pekerjaan berat dan penyakit ginjalnya semakin hari semakin parah. Hanya saja ia tidak pernah memberitahukan masalah ini kepada Sofia. Ia tidak ingin anak gadisnya itu semakin khawatir. Apalagi selama ini hidupnya hanya bergantung pada gadis itu.
"Ya, Bu."
Tidak berselang lama, merekapun selesai berkemas dan tepat di saat itu, sebuah mobil berhenti di halaman rumah tetangga mereka. Seorang Bodyguard keluar dari mobil tersebut kemudian membantu mengangkat barang bawaan Sofia dan Bu Sri dan memasukkannya ke dalam mobil.
Setelah semuanya siap, Bodyguard itupun segera membawa Sofia dan Bu Sri menuju mansion.
"Selamat datang, Bu Sri. Semoga kalian betah tinggal disini." Marissa menyambut kedatangan kedua wanita beda usia itu dengan wajah semringah.
"Terima kasih banyak, Nona."
Sofia tidak sanggup untuk tidak memeluk Marissa. Ia memeluk bumil itu sambil terisak.
"Semoga Tuhan membalas semua kebaikan Tuan dan Nona," ucap Sofia disela isak tangisnya.
"Kamu juga bisa membalas kebaikan kami, Sofia," tutur Marissa sambil mengulum senyum.
"Benarkah? Dengan cara apa, Nona? Sebutkan lah,"
"Benar kamu ingin tahu?" tanya Marissa sambil menatap lekat kedua bola mata Sofia.
"Ya, Nona!" jawab Sofia dengan sangat antusias.
"Nantilah, aku kasih tau. Sebaiknya kita masuk dulu," ajak Marissa sembari merengkuh pundak Sofia dan membawanya memasuki Mansion.
...***...
__ADS_1