Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 52


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang terjadi padaku! Setelah kepergian gadis itu, aku seperti orang bodoh, bahkan otakku pun sudah tidak bisa berpikir dengan jernih!" batin Marcello.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Sarrah ketika menyaksikan Marcello yang terdiam didepan cermin sambil menatap bayangannya sendiri.


Sarrah berjalan menghampiri Marcello kemudian memeluknya dari samping. Ia memperhatikan bayangan dirinya dan lelaki itu didalam cermin. Mereka terlihat sangat cocok dan serasi. Yang satu tampan dan yang satunya cantik juga seksi.


"Lepaskan aku, Sarrah. Sebaiknya tinggalkan aku, aku ingin sendiri."


Marcello melerai pelukan Sarrah, kemudian melangkah menghampiri tempat tidur. Ia duduk disana sambil bersandar. Sarrah tidak akan pernah menyerah begitu saja, ia kembali menghampiri lelaki itu dan duduk di sampingnya.


Sarrah meraih tangan Marcello kemudian meletakkan tangan kekar itu diatas perutnya. Marcello menoleh kepada wanita itu dengan wajah malas. Ia kesal karena Sarrah masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya barusan.


"Tidakkah kamu ingin bermain bersama Putra pewarismu, Sayang?" ucap Sarrah.


"Heh!" Marcello terkekeh pelan sambil menarik tangannya dari perut Sarrah.  "Pewarisku? Apa kamu benar-benar yakin bahwa anak itu adalah milikku, Sarrah?"


Seketika wajah Sarrah memerah, ia sangat kesal ketika Marcello mengucapkan hal itu. "Jadi, kamu masih belum bisa mempercayai kata-kataku, Marcello?!" tanya Sarrah dengan wajah kesal.


"Tentu saja, Sarrah. Selama ini aku selalu bermain aman bersamamu. Dan secara tiba-tiba kamu menyatakan bahwa dirimu sedang hamil! Itu benar-benar tidak lucu," ungkapnya.


Marcello bangkit dari tempat itu dan meninggalkan Sarrah yang masih kesal kepadanya. Sambil terus menggerutu, Marcello berjalan menuju ruangan pribadinya. Hingga ia bertemu dengan Joe yang memang sedang mencari-cari keberadaannya.


"Tuan Marcello, kebetulan sekali."


Joe membukakan pintu ruangan pribadi Marcello dan membiarkan Big Bossnya itu masuk terlebih dahulu.


"Bagaimana?" tanya Marcello sembari duduk di kursi kesayangannya.


Joe tersenyum puas kemudian menyerahkan sebuah ponsel yang berisi hasil rekaman percakapannya bersama Keke kepada lelaki berkuasa itu.


"Apa ini?" tanya Marcello sembari melirik Joe yang masih berdiri didepan meja kerjanya.

__ADS_1


"Coba saja Tuan dengarkan," ucap Joe.


Marcello pun segera memutar hasil rekaman itu kemudian mendengarkan dengan seksama percakapan yang terjadi antara Joe dan Keke di ponsel tersebut.


Sekarang giliran Marcello yang tersenyum puas karena feelingnya tentang kehamilan Sarrah adalah benar. Sarrah hanya ingin menjebaknya agar ia segera menikahi wanita itu.


"God job, Joe! Aku benar-benar puas dengan hasil kerjamu," tuturnya.


"Tapi, ..."


Ucapan Joe terhenti, ia tidak sanggup jikalau harus mengatakannya secara langsung kepada Marcello. Ia meraih ponsel yang tadi ia serahkan kepada lelaki itu dan memperlihatkan sebuah video yang selama ini tidak pernah mereka ketahui.


"Coba lihatlah ini, Tuan."


Marcello pun kembali fokus pada layar ponsel tersebut. Tiba-tiba saja wajah Marcello berubah menjadi merah padam. Ia sangat marah karena merasa dipermainkan oleh wanita itu.


"Apa-apaan ini, Joe!" geramnya.


"Maafkan saya, Tuan. Saya hanya ingin Anda tahu siapa Nona Sarrah sebenarnya," sahut Joe.


"Dia adalah seorang Produser, dimana Nona Sarrah pernah bekerjasama dengannya."


Marcello mengacak rambutnya dengan kasar. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Sarrah adalah wanita yang rela melakukan apa saja untuk kepentingan dirinya sendiri.


"Panggil wanita itu dan perintahkan para Pelayan untuk mengemasi barang-barangnya!" titahnya.


"Baik, Tuan."


Joe beranjak dari ruangan itu menuju kamar Marcello, dimana Sarrah masih berada diruangan itu. Ketika Joe membuka pintu kamar tersebut, nampak Sarrah dengan wajah frustrasi diatas tempat tidur. Bantal dan guling berserak di lantai kamar. Ternyata wanita itu meluapkan kekesalannya dengan melemparkan barang-barang yang ada disampingnya.


"Mau apa kamu kesini!" tanya Sarrah dengan kasar.

__ADS_1


"Nona Sarrah, Tuan Marcello ingin Anda segera menemuinya," sahut Joe.


"Benarkah?"


Sarrah memicingkan matanya sambil memikirkan apa yang akan dibahas oleh lelaki itu. Dan entah mengapa feelingnya mengatakan bahwa ini bukanlah kabar baik untuknya.


"Sebaiknya Anda segera menyusulnya, Nona."


Sarrah pun segera bangkit dari tempat tidur kemudian berjalan menuju ruangan pribadi Marcello dengan langkah gontai. Sedangkan Joe segera memerintahkan para Pelayan untuk mengemasi barang-barang milik Sarrah.


Setibanya didepan ruangan itu, perlahan Sarrah mulai membuka pintu dan menyaksikan Marcello yang sedang duduk di kursi kesayangannya dengan wajah memerah.


"Sayang," sapa Sarrah sembari masuk kedalam ruangan itu kemudian duduk tepat dihadapan Marcello. Ia menyunggingkan sebuah senyuman manis agar lelaki itu luluh padanya.


Namun, semanis apapun senyuman itu, tidak akan bisa meluluhkan hatinya untuk saat ini.


"Aku sudah tahu semuanya, Sarrah. Sebenarnya saat ini kamu tidak sedang mengandung dan test pack itu bukanlah milikmu, melainkan milik sahabatmu, benar, 'kan?!"


"A-apa? Bicara apa kamu, Sayang?! Saat ini aku memang sedang mengandung anakmu dan test pack itu adalah milikku. Percayalah ..."


Wajah Sarrah panik dan ia bahkan tidak bisa menyembunyikan kepanikannya dari Marcello.


"Tidak usah mengelak, Sarrah. Akui saja, dengan begitu kamu tidak perlu mempermalukan dirimu lebih jauh lagi," tutur Marcello.


"Demi Tuhan, Sayang! Aku ..."


"Dengarkan ini!"


Marcello melemparkan ponsel milik Joe yang berisi percakapan antara Asistennya itu dan Keke keatas meja dan kini ponsel itu berada tepat didepan Sarrah. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel itu kemudian mendengarkan isi rekaman itu.


"Keke ... "

__ADS_1


Air mata Sarrah meluncur dikedua belah sudut matanya. Dan sekarang ia tidak bisa berkilah lagi kepada lelaki di hadapannya.


...***...


__ADS_2