Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 223


__ADS_3

Setelah puas berceloteh ria melalui ponselnya, akhirnya panggilan itu diakhiri oleh Maria sendiri. Dylan menyerahkan ponsel milik Pak Udin dan lelaki paruh baya itupun segera pamit setelah mendapatkan ponselnya kembali.


"Kenapa Tuan tidak kasih nomor ponsel Anda sendiri ke Nona Maria? Ya, setidaknya gadis itu tidak akan merasa kesal lagi karena panggilannya di abaikan oleh Anda," tanya Mac.


"Aku tidak mau. Yang ada nantinya aku bakal kerepotan sendiri. Untuk sekarang biarlah Pak Udin yang kerepotan menghadapi panggilan gadis itu," sahut Dylan sambil terkekeh pelan.


"Maafkan saya, Tuan. Tapi saya masih belum mengerti kenapa Tuan masih betah mengaku bahwa Anda adalah seorang sopir, apa tidak sebaiknya Anda akui saja siapa Anda sebenarnya. Ya, mungkin saja setelah gadis itu mengetahuinya, dia akan berhenti mengganggu Anda."


"Halah, kamu tidak tau saja, Mac. Gadis itu kecil-kecil sudah mata duitan. Aku yang hanya seorang sopir ini saja masih dimanfaatkan olehnya. Apalagi jika aku mengaku sebagai seorang Boss, bisa-bisa tiap hari dia menggangguku," sahut Dylan.


. . .


Hari itu, setelah selesai berbincang bersama Dylan, Mac pun segera pamit. Mac melajukan mobilnya menuju sebuah Rumah Sakit Jiwa, dimana Kakak Dylan dirawat selama ini. Dengan dibantu oleh Dokter dan Perawat yang selama ini merawat wanita itu, Mac pun membawanya kembali ke kediaman Dylan.


Sementara itu Dylan masih sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan sang Kakak. Ia bersama para Pelayan yang bekerja di kediamannya sedang mengatur sebuah kamar khusus untuk Sang Kakak.


Tidak berselang lama, Mac tiba di halaman depan bersama Kakak perempuan Dylan. Perlahan Mac menuntun wanita itu memasuki bangunan megah tersebut dengan dibantu oleh dua orang Perawat yang bertugas menjaga wanita tersebut.


"Selamat datang kembali, Kak."


Dengan mata berkaca-kaca, Dylan menghampiri wanita itu kemudian memeluknya dengan erat.


"Dylan, kita sedang berada dimana?"


"Ini rumah Dylan, Kak. Itu artinya rumah Kakak juga," jawab Dylan dengan wajah sendu menatap sang Kakak.


Wanita itu nampak kebingungan padahal dia sudah pernah tinggal di tempat ini sebelum insiden menyakiti diri sendiri itu terjadi. Hingga akhirnya Dylan memutuskan untuk menitipkan saudara perempuannya itu ke Rumah Sakit Jiwa.


"Sus, sebaiknya bawa dia ke kamarnya untuk beristirahat," titah Dylan kepada kedua Perawat.


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Sementara itu di kediaman Tuan Marcello.


"Bagaimana Kak Alifa, apa Kakak sudah mengutarakan isi hati Kakak sama Om Zaid?" tanya Maria saat Alifa ingin beranjak dari mansion mewah itu.


"Ya Tuhan, Maria! Om kamu itu nyebelin!" kesal Alifa sembari membuka pintu mobilnya.


Maria terkekeh pelan melihat reaksi Alifa saat itu. "Memangnya Om Zaid bilang apa?"


"Masih seperti biasanya, 'Eh, bocah ingusan. Bersihkan dulu ingusmu, nanti kalau sudah bersih, baru datang lagi sama Om'. Nyebelin banget 'kan? Aku tuh sudah 21 tahun, Maria. Tapi entah mengapa Om Duda ganteng itu selalu menganggapku seperti bocah yang baru berusia beberapa tahun," kesal Alifa sambil menekuk wajahnya.


"Masa sih, Om Zaid bilang gitu?"


"Iya, Maria sayang. Ya, sudah. Kakak mau pulang dulu, mau istirahat. Bye, Maria."


Maria tersenyum getir sambil memperhatikan Alifa yang bersiap meluncur dengan mobil kesayangannya. "Bye, Kak Alifa. Jangan putus asa ya, Kak."


"Iya!" Alifa pun melaju bersama mobilnya meninggalkan mansion.


Setelah Alifa pulang, Maria masuk ke dalam mansion dan berkumpul bersama sanak saudaranya yang lain.


. . .


Marvel yang sejak tadi mencari keberadaan Shakila, akhirnya menemukan gadis itu sedang membantu para Pelayan. Meletakkan kembali berbagai macam peralatan makan yang baru saja dibersihkan ke tempatnya semula.


Perlahan Marvel menghampiri gadis itu dan mengajaknya bicara. "Shakila, bisakah kita bicara sebentar?"


Shakila segera berbalik kemudian berdiri dengan posisi saling berhadapan bersama Marvel.


"Ya, Tuan Muda Marvel, ada apa?" tanya Shakila sambil tersenyum hangat menyambut lelaki itu.


"Ikutlah denganku!"

__ADS_1


Marvel meraih tangan Shakila kemudian menuntunnya ke suatu tempat. Tangan dingin Marvel menggenggam erat pergelangan tangan gadis itu sambil terus melangkahkan kaki jenjangnya.


Shakila nampak kesusahan ketika mengikuti langkah kaki Marvel dengan setengah berlari. Langkah kaki Marvel yang panjang membuat Shakila kesulitan mensejajarkan langkahnya bersama lelaki itu.


Marvel menuju sebuah ruangan yang tidak ada seseorang pun di sana. Hanya dia dan gadis itu, Shakila.


"A-ada apa, Tuan?" tanya Shakila dengan terbata-bata.


"Shakila, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu dan kuharap kamu bisa berkata jujur padaku," ucap Marvel sembari menatap lekat kedua bola mata indah milik Shakila.


"Ba-baiklah, Tuan."


Huft!


Terdengar Marvel menghembuskan napas beratnya, masih menatap lekat gadis yang sedang berdiri di hadapannya dengan wajah cemas.


"Aku ingin bertanya tentang Melvin padamu, Shakila. Apa benar selama ini Melvin menyukaimu?"


Shakila terdiam sejenak dengan mata fokus menatap lelaki yang ia kenal pendiam itu.


"Se-sebenarnya aku tidak tahu, Tuan. Mungkin Tuan Melvin sering mengatakan bahwa dia menyukaiku tapi aku tidak yakin itu benar. Mungkin dia hanya sekedar main-main saja," sahut Shakila.


Marvel tersenyum getir sambil memperhatikan wajah cemas Shakila saat itu. "Dan kamu? Apakah kamu juga menyukainya?"


Shakila menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, Tuan. Aku tidak berani," jawabnya.


"Pertanyaanku, kamu menyukainya atau tidak?" Marvel memegang kedua pundak gadis itu dengan sorotan tajam menatap kedua netra indah milik Shakila.


"Tidak," sahut Shakila mantap.


...***...

__ADS_1


__ADS_2