Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 160


__ADS_3

Sore menjelang, Marcello dan Joe kembali dari kantornya. Marcello bergegas menuju kamarnya begitupula Joe, ia pun sudah tidak sabar ingin menemui istri kecilnya.


Perlahan Joe membuka pintu kamarnya dan ternyata kamarnya kosong. Joe memasuki ruangan itu sambil memperhatikan sekelilingnya.


"Kemana dia?" gumam Joe sembari melonggarkan dasinya.


Sembari mencari keberadaan istri kecilnya, Joe melepaskan satu persatu pakaiannya kemudian meletakkannya ke dalam keranjang pakaian kotor. Hingga Joe selesai melepaskan seluruh pakaiannya dan hanya menyisakan celana andalan laki-laki, celana boxer, Joe tidak juga menemukan Sofia dimana-mana.


"Ya ampun, dimana gadis itu? Apa mungkin dia sedang berada di dapur?"


Joe melangkah menuju kamar mandi dan berniat melakukan ritual mandinya disana. Ketika Joe membuka pintu ruangan itu, tiba-tiba saja terdengar suara seorang wanita menjerit ketakutan.


"Aaakkhh!!!"


"Sofia!" pekik Joe sembari berlari menghampiri Sofia.


"Kamu kenapa Sofia?" tanya Joe.


Saat itu Sofia memejamkan matanya rapat sembari menutupi kedua bulatan kenyalnya dengan kedua tangan. Setelah mendengar suara Joe, ia pun segera membuka matanya.


"Eh, ternyata Mas, ya," ucap Sofia dengan wajah tersipu malu.


Joe menautkan kedua alisnya sambil memperhatikan tubuh polos istri kecilnya itu.


"Ya, aku lah. Memangnya kamu pikir siapa, Bodyguard?!"


"Ya, Sofia 'kan tidak tahu kalau Mas Joe sudah pulang."


Joe meraih tangan Sofia yang masih menutupi dua aset kenyalnya sambil menyeringai.

__ADS_1


"Bagaimana si 'itu', udah baikan? Apakah malam ini aku bisa menjenguknya lagi?" tanya Joe sembari menjamah dua aset kenyal milik Sofia.


Sofia kembali tersipu dan memukul dada bidang Joe dengan lembut. "Sepertinya sih sudah tidak apa-apa lagi, Mas. Mas bisa menjenguknya lagi, kok malam ini, tapi ada syaratnya!"


Joe menatap heran kepada wanita mungil itu. "Apa syaratnya?!"


"Jangan garang seperti tadi malam, ya! Bisa-bisa besok Sofia gak bisa jalan lagi. Kan memalukan tiap hari jalannya harus ngangkang terus," ucap Sofia sambil menekuk wajahnya karena kesal.


Joe tergelak setelah mendengar penuturan Sofia dan hal itu membuat Sofia semakin kesal.


"Baiklah, baiklah. Aku berjanji tidak akan menjadi singa garang lagi. Lagipula aku menjadi singa garang 'kan karena obat yang kamu berikan. Jadi, yang terjadi tadi malam, bukan karena kesalahanku," kilah Joe tidak mau kalah.


"Benar juga, sih."


"Kamu tahu, cerita tentang obat itu sudah aku kasih tau ke Tuan Marcello dan malam ini aku yakin sekali Nona Marissa akan mendapatkan hukuman yang setimpal karena ke'isengannya," ucap Joe sambil terkekeh.


Joe kembali terkekeh meliat ekspresi Sofia saat itu. Joe mencubit pelan hidung Sofia sambil menatap lekat kedua bola mata Sofia yang masih membulat.


"Memangnya kamu pikir si Kucing Kecil itu sanggup menyakiti Macan Buntingnya apa? Paling-paling hukumannya tidak jauh dari yang namanya tempat tidur," jawab Joe.


"Kucing Kecil? Macan Buting?!" Sofia kebingungan sampai-sampai wanita itu menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


"Kucing Kecil itu Tuan Marcello dan Macan Bunting itu Nona Marissa, itu panggilan sayang mereka berdua. Lucu, 'kan?!"


"Benarkah? Wah, mereka pasangan yang lucu. Lalu kita? Panggilan sayang kita apa, Mas? Aku juga ingin punya panggilan sayang seperti mereka," ucap Sofia sambil bergelayut manja di lengan kekar Joe.


"Hhhh, tidak akan! Memalukan," gumam Joe sembari menghampiri shower kemudian mengguyur tubuhnya disana.


Sofia kembali menekuk wajahnya sembari memperhatikan tubuh polos Joe dari ujung kepala hingga ujung kaki.

__ADS_1


Sementara itu di kamar utama.


Marcello terus saja menyeringai kepada Marissa sejak ia baru tiba hingga sekarang. Lelaki itu hanya mengenakan handuk kecil yang menutupi King Cobranya. Ia bersandar di sandaran tempat tidur sambil terus memperhatikan Marissa yang sedang memoles bibirnya dengan liptint berwarna pink, senada dengan warna bibirnya.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu, Dad?" tanya Marissa yang mulai curiga dengan seringaian licik lelaki itu.


"Joe sudah menceritakan semuanya padaku dan sepertinya kamu harus mendapatkan hukuman dariku malam ini," sahutnya sambil mengangkat sebelah alisnya ketika membalas tatapan Marissa.


Sontak saja Marissa terperanjat setelah mendengar penuturan lelaki itu. Ia bergegas menghampiri Marcello dan mulai memasang wajah memelas.


"Maafkan Icha, Dad! Setelah ini Icha berjanji tidak akan mencampuri urusan mereka lagi walau apapun yang terjadi. Tapi tolong jangan hukum Icha, ya!" lirih Marissa.


Marcello menyeringai kemudian memperlihatkan kepada Marissa sebuah pil yang ada di atas telapak tangannya. Pil yang sama seperti yang diberikan oleh Marissa kepada Sofia kemarin siang.


"I-itu 'kan?"


Marcello meraih gelas minumannya kemudian menenggak pil tersebut dengan air putih. Mata Marissa membulat sempurna ketika menyaksikan Marcello meneguk pil tersebut.


"Hukumanmu ringan Ichaku sayang. Hanya satu biji saja, bukan dua. Jadi kamu tidak akan kesusahan berjalan sama seperti Sofia tadi pagi," ucap Marcello.


Lelaki itu meraih lingerie favoritnya, lingerie lucu berbentuk macan milik Marissa kemudian melemparnya dengan pelan ke arah wanita itu sambil terkekeh.


"Kenakanlah, Macan Buntingku dan jangan lupa, bando dan cambuk kecilmu sekalian."


"Lihatlah Daddy kalian, Daddy kalian jahat sama Mommy," lirih Marissa sembari mengelus perutnya dengan lembut.


"Sudah, tidak usah mencari alasan. Lagipula Si Kembar tidak akan kenapa-napa selama aku bermain dengan lembut, benar 'kan?" Marcello kembali menyeringai licik dan hal itu membuat Marissa sangat kesal.


...***...

__ADS_1


__ADS_2