Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 183


__ADS_3

"Sementara Joe mengajak Bu Kepala Panti bicara, membicarakan masalah bayi perempuan tersebut, Sofia membawa bayi tersebut kepada Marissa yang sedang melepas penat di salah satu tempat duduk yang ada di ruangan itu. Marissa kelelahan karena ball gown yang ia kenakan membuatnya ribet dan geraknya pun menjadi terbatas.


"Nona Marissa," sapa Sofia sembari duduk di samping wanita itu.


"Eh, Sofia." Marissa tersenyum kemudian perhatiannya teralih kepada bayi mungil yang sedang di gendong oleh Sofia.


"Bayi siapa ini, Sofia?" tanya Marissa sembari memperhatikan bayi perempuan cantik yang sedang tertidur pulas dalam pelukan Sofia.


Sofia tersenyum dan wajahnya nampak berseri-seri saat itu. "Bayi ini adalah salah satu penghuni baru Panti Asuhan, Nona. Dia sudah tidak memiliki sesiapapun lagi. Kata Suamiku, bayi ini dibuang oleh seseorang di pinggir jalan raya, kemudian di temukan oleh warga dan diserahkan ke Panti Asuhan. Aku berencana ingin--"


Belum habis Sofia mengucapkan kalimatnya, Marissa tiba-tiba saja menyela pembicaraan Sofia. Wanita itu meraih bayi mungil tersebut dari pelukan Sofia kemudian menggendongnya.


"Sini, biar aku menggendongnya, Sofia." Marissa memperhatikan bayi cantik itu sambil tersenyum. Melihat bayi mungil tersebut, membuat Marissa teringat akan masa lalunya. Dimana ia pun pernah merasakan berada di posisi bayi tersebut.


"Sebentar ya, Sofia."


Marissa bangkit kemudian membawa bayi mungil itu kepada Tuan Marcello yang sedang menemani si kembar Marvel dan Melvin. Kedua bayi kembar tersebut sedang bermain dengan mainan baru mereka di salah satu sudut ruangan.


"Daddy," panggil Marissa.


Marcello segera berbalik dan menatap Marissa yang sedang berjalan mendekatinya dengan membawa seorang bayi mungil didalam pelukan wanita itu. Marcello menautkan kedua alisnya, ia bingung bayi siapa yang sedang digendong oleh istri kecilnya itu.


"Marissa?"


"Lihatlah bayi ini, Dad. Dia sangat menggemaskan, bukan?" tanya Marissa sembari memperlihatkan bayi mungil yang sedang tertidur pulas dengan bibir kecil yang terbuka.

__ADS_1


"Ya, dia sangat menggemaskan. lihat bibir mungilnya itu. Tapi-- bayi mungil siapa ini?" tanya Marcello kebingungan.


"Bayi mungil kita. Boleh aku memilikinya, Dad? Aku mau," lirih Marissa dengan mata penuh harap menatap Marcello.


"A-apa maksudmu, Cha? Aku tidak mengerti," sahut Marcello.


"Kemarilah."


Marissa menarik tangan Marcello kemudian mengajaknya duduk di salah satu kursi yang berada tak jauh dari mereka. Marcello pun menurut saja. Ia duduk di sofa tersebut sambil terus memperhatikan Marissa yang nampak begitu bahagia.


"Bayi ini merupakan penghuni baru di Panti Asuhan, Dad. Melihat nasib bayi ini, seakan melihat diriku sendiri. Nasibku dan bayi mungil ini sama, kami sama-sama dibuang. Aku merasa iba padanya, Dad. Ya, mungkin suatu saat nanti akan ada yang mengadopsinya, tetapi aku ragu dia akan mendapatkan keluarga yang baik, yang tulus menyayanginya. Bagaimana jika kita saja yang mengadopsinya? Pliss, Dad! Ya?" bujuk Marissa.


Marcello meraih bayi mungil tersebut dari pelukan Marissa dan menggendongnya. "Sini, biar aku yang menggendongnya."


Marcello memperhatikan bayi mungil tersebut dengan seksama. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia pun merasa sangat iba. Marcello menghembuskan napas berat kemudian bertanya dengan serius kepada istri kecilnya itu.


Marissa menganggukkan kepalanya dengan cepat sambil melemparkan sebuah senyuman bahagia di wajah cantiknya.


"Ya, Daddy. Aku sangat serius."


"Bagaimana jika suatu saat nanti kamu juga memiliki bayi perempuan? Apa kamu masih bisa bersikap adil kepada bayi mungil ini? Membagi kasih sayang antara anak kandung dan anak adopsimu?"


Marissa terdiam sejenak sambil terus memperhatikan mata elang milik Marcello. "Ya, aku berjanji akan bersikap adil antara anak kandung kita dan juga bayi mungil ini," jawab Marissa yakin.


"Baiklah kalau begitu, aku akan perintahkan Joe untuk mengurus surat-menyuratnya."

__ADS_1


"Yang cepat ya, Dad! Jangan lama-lama, nanti keburu di ambil orang," sahut Marissa.


"Ya, ya!"


Dari kejauhan, Sofia memperhatikan gelagat Marissa saat itu dan entah mengapa ia merasakan bahwa Marissa juga menginginkan bayi mungil tersebut.


"Apa mungkin Nona Marissa juga menginginkan bayi mungil tersebut, ya?" gumam Sofia.


Sofia menghampiri pasangan Marcello dan Marissa kemudian ikut duduk ditempat itu bersama mereka.


"Sofia, aku ingin mengadopsi bayi ini," ucap Marissa sambil tersenyum hangat kepada Sofia.


Duaarrr ....


Serasa di tembak petir di siang bolong, Sofia begitu terkejut mendengar penuturan wanita itu.


"Mengadosinya, Nona?" tanya Sofia cemas sambil memperhatikan ekspresi wajah Marissa dengan seksama.


"Ya," sahut Marissa mantap.


Wajah Sofia tertunduk lesu menghadap lantai. Ia bingung bagaimana cara memberitahu kepada Marissa bahwa dirinya pun berniat mengadopsi bayi mungil tersebut.


"Nona, sebenarnya aku-- "


Marissa menautkan kedua alisnya sembari menatap wajah Sofia. "Sebenarnya apa, Sofia? Katakanlah, jangan buat aku penasaran," ucap Marissa.

__ADS_1


...***...


__ADS_2