
Setelah masuk kedalam mobil, Marissa kembali menangis di dalam pelukan Marcello. Marcello mencoba tegar, ia tidak ingin menampakkan kesedihannya di hadapan Marissa. Berkali-kali Marcello mencium puncak kepala wanita itu dan mencoba menenangkannya.
"Tidak apa, Sayang. Kita berdoa saja, semoga apa yang dikatakan oleh Dokter itu salah. Dan jika seandainya itu benar, kita harus menerimanya dengan ikhlas. Biar bagaimanapun dia adalah anak kita, anugerah terindah yang diberikan oleh Tuhan kepada kita," ucap Marcello sambil mengusap kepala Marissa.
Marissa tidak menjawab, tangisnya semakin pecah dan ia pun semakin mempererat pelukannya di tubuh Marcello.
Tidak berselang lama, mereka pun tiba di halaman depan Mansion. Marcello segera menuntun Marissa dan membawanya menuju kamar mereka.
"Sebaiknya kamu istirahat, Cha. Dan jangan terlalu mencemaskan hal itu. Dokter juga manusia, merekapun bisa salah."
Ketika melewati ruang utama, mereka berpapasan dengan Dian yang ingin menuju halaman depan. Ia begitu terkejut ketika melihat wajah sendu Marissa. Apalagi buliran bening itu masih terlihat jelas dikedua sudut matanya.
"Marissa sayang, kamu kenapa, Nak?" tanya Dian sembari menghampiri Marissa.
Marissa menghambur ke pelukan sang Ibu dan kembali terisak didalam pelukannya. Dian menatap heran kepada Marcello dan meminta penjelasan. Namun, Marcello tetap diam, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Dian memperhatikan wajah Marcello saat itu dan ekspresinya pun sama, terlihat sedih dan tidak bersemangat.
"Duduklah, Marissa. Kemudian ceritakan kepada Ibu apa yang sebenarnya terjadi? Jangan buat Ibu khawatir," ucap Dian semakin panik karena Marissa tak kunjung menghentikan tangisnya.
Dian menuntun Marissa menuju sofa dan mendudukkan anak perempuannya itu di sana. Marcello yang sejak tadi berdiri di belakang Dian, segera menghampiri Marissa kemudian bicara padanya.
"Aku tinggal sebentar ya, Sayang. Ada yang harus aku kerjakan. Aku janji tidak akan lama. Aku akan kembali dan menemuimu disini," tutur Marcello sambil menatap kedua bola mata Marissa.
__ADS_1
Setelah Marissa menganggukkan kepalanya, Marcello pun segera pergi dan membiarkan Dian menemaninya di ruangan itu.
"Marissa, ceritakan sama Ibu. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Dian lagi.
Dengan terbata-bata, Marissa menceritakan hasil pemeriksaan Dokter tentang janin kembarnya. Dian membulatkan matanya setelah mendengar penuturan Marissa. Dian pun tidak kalah shok. Ia dapat merasakan apa yang dirasakan oleh anak perempuannya itu.
Semantara itu.
Kini Marcello berada di ruang pribadinya bersama Joe. Walaupun ia seorang lelaki berkuasa, tetapi ia tetap seorang manusia. Ia butuh teman untuk menceritakan keluh kesah dan kesedihannya.
Marcello menceritakan hasil pemeriksaan kandungan Marissa kepada Joe dengan mata berkaca-kaca. Walaupun Joe belum menikah, apalagi memiliki seorang anak, tetapi ia tahu bagaimana perasaan Marcello saat itu.
"Kita bisa memeriksakan kandungan Nona Marissa ke tempat lain, Tuan. Siapa tahu Dokter itu salah," ucap Joe.
Setelah mengeluarkan keluh kesahnya bersama Joe, Marcello mulai merasa tenang. Ia pun kembali menuju ruang utama dan berniat menemui Istrinya disana.
Namun, ketika Marcello berada di ruangan itu, Marissa dan Dian sudah tidak ada di sana. Dian sudah membawa Marissa kembali ke kamar mereka dan membiarkan Marissa beristirahat.
Marcello bergegas menuju kamarnya. Perlahan ia membuka pintu kamarnya dan melihat Dian masih duduk di samping tempat tidur sambil mengelus puncak kepala Marissa.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Marcello sembari menghampiri tempat tidur.
__ADS_1
"Dia tertidur setelah kelelahan akibat terus menangis," sahut Dian dengan mata yang masih berair.
"Bu Dian, saat ini Marissa sangat membutuhkan semangat dan dukungan dari kita semua. Terutama Ibu sebagai orang tuanya. Terus support dia dan jangan biarkan dia terus larut dalam kesedihannya," lirih Marcello.
"Tentu saja, Marcello. Aku akan melakukan apapun untuk Marissa."
. . .
Dengan setia, Marcello terus menemani Marissa yang masih tertidur akibat kelelahan. Hingga mata indah itupun terbuka. Ia menatap sendu kepada Marcello yang duduk di sampingnya.
"Aku berharap, aku baru saja terbangun
dari mimpi burukku. Dan apa yang ku dengar dari Dokter tadi, bukanlah sebuah kenyataan."
"Cha, dengarkan aku. Sekarang ada dua nyawa yang sangat membutuhkan dirimu. Jika kamu terus berlarut dalam kesedihan ini, bagaimana dengan nasib mereka, Cha? Mereka butuh dirimu, mereka butuh semangatmu! Ayolah, Cha. Bangkit, demi kedua bayi kita," ucap Marcello sembari mengelus perut Marissa.
Buliran bening itupun kembali meluncur dari kedua sudut matanya. Ia menggenggam tangan Marcello erat kemudian menciuminya.
"Terus support Icha, Dad. Icha sangat membutuhkannya," lirih Marissa.
"Ya, pasti! Tapi, berjanjilah untuk tidak berlarut dalam kesedihan ini. Lagipula apa yang dikatakan oleh Dokter itu belum tentu benar," ucap Marcello.
__ADS_1
...***...