Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 231


__ADS_3

"Bagaimana bisa?"


Dylan benar-benar shok mendengar penuturan Maria. Ia tidak menyangka bahwa apa yang diucapkan oleh Maria waktu lalu ternyata benar adanya.


"Ya, bisalah, Om. Bukankah Maria sudah bilang bahwa apa yang diucapkan oleh Daddy itu bukanlah main-main. Jika Daddy sudah bilang A, ya A!" kesal Maria.


"Kenapa aku sangat kesal setelah mendengar gadis ini bertunangan, ya?" gumam Dylan perlahan dan hanya terdengar samar-samar di telinga Maria.


"Kenapa, Om?" tanya Maria heran.


"Bukan apa-apa. Sekarang aku tanya sama kamu, Nona Maria? Apa kamu menyukai lelaki itu?" tanya Dylan dengan tatapan serius menatap Maria.


Maria menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak."


"Kalau kamu tidak menyukai lelaki itu, kenapa tidak kamu tolak saja pertunangan kalian?"


"Aduh, Om Udin itu pelupa atau bagaimana sih? Kan, Maria sudah bilang kalau perintah Daddy itu tidak bisa di tolak," jawab Maria dengan kesal. 


Dylan terdiam sejenak sambil berpikir bagaimana caranya membatalkan pertunangan Maria dengan lelaki itu.


"Tunggulah beberapa hari lagi, aku akan membantumu lepas dari pertunangan itu," ucap Dylan.


"Benarkah? Bagaimana caranya, Om?" tanya Maria yang terlihat sangat antusias karena akhirnya ada seseorang yang bersedia menyelamatkan dirinya dari perjodohan itu.


"Nanti akan ku pikirkan. Setelah aku mendapatkan caranya, aku pasti akan memberitahumu," ucap Dylan.


Maria memutarkan bola matanya. "Ya'elah, Om. Maria kira Om sudah punya ide untuk menyelamatkan Maria."


"Aku cuma minta waktu beberapa hari untuk memikirkannya dengan matang, Nona Maria."


"Ah, terserah Om aja lah. Maria sudah pasrah," lirih Maria sambilel menundukkan kepalanya menghadap tanah.


Dylan meraih wajah Maria yang tertunduk dan akhirnya mereka pun saling bertatap mata.

__ADS_1


"Hei, Nona Maria, putri kesayangan Daddy Marcello. Jangan bersedih seperti itu, nanti tambah jelek."


"Ih, Om!"


"Sini, mana kunci motormu?"


Dylan mengulurkan tangannya kepada Maria sambil tersenyum hangat.


"Buat apa, Om?"


"Hari ini aku punya waktu luang dan waktu luangku akan ku persembahkan untuk Nona Maria Silvana Alexander, putri kesayangan Daddy Marcello Alexander yang sedang galau akibat dijodoh-jodohkan oleh Daddynya sendiri," ucap Dylan sambil terkekeh pelan.


"Ish, Om meledek Maria, ya?"


"Maaf, aku hanya bercanda." Dylan bangkit dari tempat duduknya kemudian kembali mengulurkan tangannya kepada gadis itu.


"Sini, mana kuncimu?"


"Nih, Om."


Setelah mendapatkan kunci motor tersebut, Dylan meraih tangan mungil Maria kemudian menuntunnya menuju tempat, dimana Maria memarkirkan motor kesayangannya itu.


Maria tersenyum saat melihat tangan kekar Dylan yang kini menggenggam erat tangannya. Ia seolah lupa dengan permasalahan yang sedang ia hadapi.


Setibanya di tempat itu, Dylan melepaskan tangan Maria kemudian membuka box, tempat penyimpanan helm. Dylan meraih helm tersebut kemudian mengenakannya.


Entah karena sudah terbiasa atau memang mukanya sudah mulai kebal, Dylan memasang helm bermotif Hello Kitty tersebut ke atas kepalanya tanpa protes ataupun bergumam sama seperti biasanya.


"Mari, Nona!" ajak Dylan sembari memasangkan helm satunya ke kepala Maria.


Maria kembali terpesona melihat sikap Dylan yang begitu manis. Ia bahkan tidak hentinya menyunggingkan sebuah senyuman manis di wajahnya.


Maria segera duduk di belakang Dylan kemudian melingkarkan tangannya ke perut six pack lelaki itu. Di saat Maria merasa bahagia karena sikap Dylan yang berubah menjadi sangat manis, tiba-tiba saja ia teringat akan status lelaki itu.

__ADS_1


"Eh, Om Udin. Kalau Istri Om Udin melihat kita jalan berdua seperti ini, apa Istri Om tidak akan marah padaku?" tanya Maria cemas dan mulai merenggangkan pelukannya dari perut six pack Dylan.


Dylan terkekeh pelan kemudian menarik lengan Maria, agar gadis itu kembali mempererat pelukannya.


"Tidak akan ada yang marah," jawabnya.


"Loh, kok bisa begitu?! Ih, jangan-jangan apa yang dikatakan oleh Clara itu benar lagi," pekik Maria.


Bukannya mempererat pelukannya, Maria malah semakin menjaga jarak dari lelaki itu. Ia mundur beberapa centi ke belakang dan menciptakan jarak antara dirinya dan Dylan.


"Memangnya apa yang dikatakan oleh sahabatmu itu tentangku?" tanya Dylan sambil menautkan kedua alisnya.


"Kata Clara, Istri Om itu lebih dari satu, mungkin ada dua, tiga atau empat. Itu artinya Om Udin memang Playboy 'kan? Dan jangan-jangan aku adalah targetmu yang berikutnya! Oh, tidak!" pekik Maria dengan mata membulat.


"Hush! Kenapa kalian menggosipkan aku sejelek itu? Memangnya aku punya tampang beristri dua, tiga, empat atau lima, begitu?! Jangankan dua, tiga, empat dan lima, satu aja belum!" kesal Dylan.


"Hah? Ta-tapi, dulu Om bilang kalau Om sudah menikah dan punya tiga anak?" pekik Maria.


"Maafkan aku karena sudah membohongimu," ucap Dylan sambil terkekeh.


"Beneran, Om serius?!"


"Ya,"


"Sini, mana KTP-nya? Maria tidak percaya!" Maria mengulurkan tangannya kepada Dylan.


"Heh, Nona. Kalau kita berdebat terus disini, kapan kita jalan?!"


"Hhhh, iya! Baiklah,"


Maria pun pasrah, kemudian kembali mendekatkan tubuhnya kepada Dylan dan memeluk lelaki itu dengan erat.


...***...

__ADS_1


__ADS_2