
Beberapa hari kemudian.
"Tuan Joe, bagaimana keadaanmu?" tanya Dian yang baru saja tiba di ruangan Joe dengan membawa buah-buahan untuk lelaki itu.
Joe yang biasanya selalu memasang wajah dingin, kini menyunggingkan sebuah senyuman hangat untuk Dian.
"Sudah lumayan."
"Syukurlah," jawab Dian.
Dian meraih beberapa macam buah yang ia bawa tadi kemudian membawanya ke westafel untuk dicuci sebelum diserahkan kepada Joe. Setelah selesai mencuci buah tersebut, dian meletakkannya ke atas nakas lalu ia pun duduk di samping tempat tidur Tuan Joe.
Senyuman hangat Joe kembali tersungging di wajahnya. Dia menatap lekat Dian yang kini duduk di sampingnya.
"Dian,"
"Tuan Joe,"
Mereka mengucapkannya dengan waktu yang bersamaan dan membuat mereka terkekeh pelan.
"Kamu dulu," ucap Joe.
Dian menghela napas panjang sambil tersenyum. "Tuan Joe, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak atas semua yang Anda lakukan untuk saya hari itu. Jika saja saat itu Anda tidak menarik tubuh saya, mungkin saja saya sudah tidak ada lagi di dunia ini," lirih Dian dengan mata berkaca-kaca menatap Joe.
"Tidak masalah, Nyonya Dian. Itu sudah menjadi tugas saya. Tugas saya adalah memastikan keselamatan untuk seluruh keluarga Tuan Marcello, termasuk Anda," jawab Joe.
Untuk sejenak, ruangan itu menjadi hening. Baik Joe maupun Dian terdiam dengan bibir yang terkunci rapat. Hingga akhirnya pintu ruangan itu terbuka, Marcello dan Marissa tiba dengan wajah semringah menghampiri kedua orang itu.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu, Joe?" tanya Marcello sembari menepuk pelan pundak lelaki itu.
"Baik, Tuan. Terima kasih," sahut Joe sambil melemparkan sebuah senyuman hangat untuk Marcello.
Marcello meraih sebuah kursi dan menuntun Marissa untuk duduk disana, disamping bed pasien yang sedang Joe tempati.
"Benarkan apa kataku, Cha. Joe itu tidak akan menyerah hanya dengan satu tembakan saja," ucapnya sambil tergelak.
"Ish, Daddy."
"Tapi itu benar. Ya 'kan, Joe? Mereka tidak percaya bahwa kamu adalah lelaki kuat yang tidak akan mati hanya dengan satu peluru saja," lanjutnya.
Joe hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Sementara itu di kediaman Riyadh.
"Zaid, setelah Papa dan Mamamu resmi bercerai, Papa berencana ingin melamar Tante Dian. Bagaimana menurutmu?" tanya Riyadh kepada Zaid saat mereka sedang menikmati waktu senggang mereka.
Riyadh tersenyum puas mendengar jawaban dari Zaid. Ia senang karena akhirnya apa yang ia inginkan selama ini akhirnya mendapatkan restu dari sang Anak.
"Terima kasih, Zaid karena sudah mengerti keadaan Papa. Dan kamu benar soal Marissa. Ia membutuhkan kejelasan statusnya, dia membutuhkan nama Papa di belakang namanya."
. . .
Setelah mendapatkan restu dari Zaid, Riyadh pun segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk melamar Dian. Tidak tanggung-tanggung, Riyadh meminta seorang Designer Perhiasan terkenal di negaranya, membuatkan cincin khusus untuk Dian.
Hingga akhirnya hari itupun tiba, dimana ia berkunjung ke kediaman Marcello dan berencana memberikan kejutan untuk Dian. Riyadh ingin melamar Dian tepat di depan Marcello dan Marissa.
__ADS_1
"Hai, Riyadh. Apa kabar? Tumben, biasanya jika ingin berkunjung ke sini kamu selalu memberitahuku sebelumnya," ucap Marcello sembari memeluk tubuh sahabatnya itu.
Sekarang Dian sudah mulai terbiasa dengan kehadiran lelaki itu di Mansion mewah Marcel. Ia tidak lagi merasa canggung ataupun ketakutan ketika bertemu dengan laki-laki itu.
"Sebenarnya ada sesuatu yang harus aku katakan kepada kalian hari ini," sahut Riyadh sembari melirik Dian yang kini berdiri di samping Marissa.
Marissa sudah mulai curiga dengan lirikan maut sang Ayah kepada Ibunya. Ia menghampiri Tuan Riyadh kemudian memeluk lengan kekar lelaki itu sambil menyandarkan kepalanya.
"Apa ini ada hubungannya dengan Ibu, Ayah? Karena kecurigaanku seperti itu," goda Marissa yang kini ikut-ikutan melirik sang Ibu.
Riyadh mengulum senyum, sedangkan wajah Dian terlihat merona. Ia benar-benar malu karena anak perempuannya itu suka sekali usil padanya.
"Marissa!" seru Dian.
"Ya, Marissa sayang. Apa yang kamu katakan itu benar. Ini semua ada hubungannya dengan Ibumu, Dian Maharani."
"Sebentar,"
Riyadh meminta Marissa untuk melepaskan tangannya kemudian lelaki itu meraih sebuah benda berbentuk kotak berwarna gold dari saku celananya. Sambil terus melemparkan senyumannya, Riyadh menghampiri Dian kemudian berdiri tepat dihadapan wanita itu.
"Maukah kamu menikah denganku, Dian?" ucapnya sembari memperlihatkan isi dari kotak cantik berwarna gold tersebut.
Semua mata membulat setelah mendengar dan melihat apa isi dari kotak tersebut. Sebuah cincin bertahtakan berlian yang akan menjadi pengikat antara dirinya dan Dian.
Marissa bahkan sampai melompat-lompat kegirangan sambil memeluk tubuh Marcello. Hingga membuat Marcello kelabakan melihat tingkah Istri kecilnya itu.
"Cha! Cha! Hentikan, hentikan! Ingat kandunganmu, apa kamu ingin sesuatu terjadi pada bayi mungil kita, ha?!" kesal Marcello dengan wajah panik menahan tubuh Marissa agar tidak melompat-lompat seperti tadi.
__ADS_1
"Ehm, maafkan aku, Dad. Aku lagi senang soalnya," jawab Marissa sambil tersenyum kecut.
...***...