
"Kittyku sudah dibalikin sama Tuan Aidan, belum?" tanya Maria kepada salah satu Bodyguard yang berjaga di depan mansionnya.
"Sudah, Nona. Tuh, mesinnya lagi dipanasin," jawab Bodyguard tersebut.
Maria menghampiri motor kesayangannya itu kemudian memperhatikan benda tersebut dengan seksama. Bahkan bagian-bagian terkecilnya pun tak luput dari perhatian Maria.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Gadis Daddy?" tanya Marissa yang kebingungan melihat gelagat aneh Maria.
"Hanya ingin memastikan bahwa tidak ada yang aneh pada motor Maria, Mom. Ya, siapa tahu 'kan motor Maria sudah dijampe-jampe sama Tuan Aidan agar Maria tergila-gila padanya," ucap Maria masih memperhatikan motor kesayangannya itu.
Marissa tergelak setelah mendengar penuturan gadis itu. "Memang bisa seperti itu, ya?" tanya Marissa di sela gelak tawanya.
"Ya, siapa tahu?!"
Maria menoleh ke arah Bodyguard kemudian berteriak kepada mereka. "Om! Sebaiknya motorku ini dicuci dulu deh sampe bersih. Kalo perlu mandiin sama bunga tujuh rupa sekalian, ya!" titahnya.
"Baik, Nona!" sahut salah satu dari mereka sambil mengacungkan jempolnya kepala gadis itu.
"Terus, kamu berangkat sekolahnya sama siapa?" tanya Marissa.
"Minta antar sama Pak Sopir lah, Mom."
"Ehm, kirain dijemput sama Abang Udin yang ganteng," sahut Marissa sambil terkekeh pelan.
"Eh, Iya ya? Kenapa gak kepikiran?!"
Maria bergegas meraih ponselnya kemudian mencoba menghubungi Om Udin KW alias Dylan yang saat ini sedang menikmati sarapan paginya.
Dreett ... dreett ....
"Astaga, kaget aku!" pekik Dylan yang terkaget-kaget karena ponsel yang ia letakkan di dalam saku jasnya bergetar. Ia mengelus dadanya beberapa kali kemudian menerima panggilan dari gadis itu.
__ADS_1
"Ya, Nona Maria?"
"Om Udin jemputin Maria, mau ya? Soalnya motor Maria lagi dibersihkan."
Dylan menggaruk pelipisnya perlahan. Padahal rencananya hari ini Dylan ingin berangkat lebih awal. Namun, karena permintaan gadis itu, Dylan terpaksa kembali mengurungkan niatnya.
"Baiklah, Nona. Tunggu aku di depan mansionmu," ucap Dylan sembari mengelap bibirnya dengan tissue.
"Yess! Maria tunggu ya, Om!" pekik gadis itu.
"Ya."
Setelah Maria memutuskan panggilannya, Dylan pun mengembalikan benda pipih tersebut ke dalam saku jas yang sedang ia kenakan.
"Mac, sebaiknya kamu berangkat saja duluan. Aku harus kembali menjadi Om Udin dan menjemput gadis itu," ucap Dylan.
"Siap, Tuan!" jawab Mac sambil tersenyum lebar.
Tinn ... tinn ... tin ....
Maria segera berlari kecil menuju mobil Dylan yang kini sudah berada di depan gerbang mansion. Lelaki itu tersenyum hangat menyambut Maria yang datang menghampirinya.
Sementara itu di dalam mansion, tepatnya di lantai dua. Marissa tengah mengintip anak gadisnya yang baru saja di jemput oleh laki-laki yang bernama Udin tersebut di balik tirai jendela kaca.
"Apa yang kamu lakukan disitu, Cha?" tanya Marcello yang kebetulan melihat istrinya sedang mengintip sesuatu di balik jendelanya.
"Ah, kebetulan sekali. Kemarilah, Dad! Mau lihat calon mantumu tidak?!" pekik Marissa sambil meminta Marcello untuk mendekat padanya.
Marcello pun mendekat kemudian ikut mengintip di balik tirai jendela di samping Marissa.
"Memangnya itu siapa?" tanya Marcello sambil memfokuskan matanya ke arah mobil mewah berwarna hitam yang sedang berhenti di depan gerbang mansionnya.
__ADS_1
"Ah, gunakan ini!" Marissa menyerahkan sebuah teropong yang berada tak jauh darinya kepada Marcello.
Marcello meraih teropong tersebut kemudian menggunakannya untuk melihat ke depan gerbang mansion.
"Itu siapa? Si Udin?"
"Ya, iyalah, Dad! Siapa lagi?" jawab Marissa.
"Heh, ini seperti penghinaan buatku!" gumam Marcello sembari memperhatikan penampilan Dylan dari belakang. Ya, karena saat itu Dylan memang berdiri dengan posisi membelakangi mansion.
"Apa maksudmu, Daddy?"
"Apa kamu tidak lihat kemeja yang dikenakan olehnya? Kemejanya sama seperti kemeja yang sering aku kenakan!" kesalnya.
"Kan sudah dikasih tau sama Maria kalau Tuan Dylan itu sangat baik hingga penampilan sopirnya aja diperhatikan," jelas Marissa.
"Tapi rasanya tetap tidak mungkin, Cha. Aku curiga, apa jangan-jangan Udin itu adalah Dylan yang berpura-pura menjadi seorang sopir untuk mengetes anak gadis kita? Apa kamu ingat dengan kata-kata Marvel tadi malam? Dan jika itu benar, maka aku akan ikuti permainannya," tutur Marcello sambil menyeringai.
Tak terasa mobil yang dikemudikan oleh Dylan tiba di depan gerbang sekolah gadis itu.
"Nona Maria, ini gelangmu."
Dylan memperlihatkan gelang couple milik Maria yang kemarin ia temukan teronggok di lantai Mall. Ia meraih tangan Maria kemudian memasangkan gelang tersebut ke pergelangan tangan gadis itu sambil tersenyum hangat.
"Aku juga masih menggunakannya, lihatlah."
Dylan menyingsing lengan kemejanya kemudian memperlihatkan gelang couple miliknya kepada Maria.
"Oh ya, Tuhan! Om Udin manis sekali!"
Tanpa mereka sadari, seseorang sedang memperhatikan mereka dengan wajah kesal dan kedua tangan yang mengepal sempurna.
__ADS_1
...***...