
"Sepertinya untuk yang satu itu, saya tidak bisa menceritakannya, Tuan Marcello. Biarkan hanya saya yang tahu," ucap Dian dengan wajah tertunduk.
"Tapi, biar bagaimanapun Marissa berhak tau siapa Ayah biologisnya, Dian," sahut Marcello dengan wajah kesal karena wanita itu tidak bersedia menceritakan siapa Ayah kandung Marissa yang sebenarnya.
"Saya akan menceritakannya, jika saya sudah siap."
Marcello memijit pelipisnya dengan mata terpejam. Biar bagaimanapun, itu merupakan hak Dian untuk tidak menceritakan kisah masa lalunya kepada siapapun, termasuk dirinya. Dian bangkit dari posisi duduknya, ia menghampiri kursi Marcello kemudian bertekuk lutut disana.
"Tuan Marcello, hari ini saya meminta belas kasihan dari Anda. Saya mohon untuk sekarang, jangan ceritakan hal ini kepada Marissa. Saya belum siap jika Marissa harus membenci saya karena perbuatan masa lalu saya, Tuan!" lirihnya sambil menangkupkan kedua tangannya ke dada. Ia juga tidak hentinya menangis, meminta belas kasihan dari Marcello.
"Lalu, kapan kamu menceritakan yang sebenarnya kepada Marissa, Dian? Tidak mungkin 'kan, kamu akan menyembunyikan hal ini terus menerus darinya?"
"Seperti yang saya ucapkan tadi. Saya akan menceritakan semuanya ketika saya sudah siap dengan konsekuensi yang akan saya terima setelahnya," jawab Dian.
"Tapi, pernikahan kami hanya tinggal seminggu lagi. Aku harap kamu sudah menceritakan yang sebenarnya kepada Marissa sebelum hari pernikahan kami dilaksanakan, Dian."
Dian kembali terdiam dan memikirkan apakah ia sanggup menceritakan hal itu kepada Marissa sebelum hari pernikahan mereka dilaksanakan.
Tepat disaat itu Marissa masuk kedalam ruangan itu sambil memperhatikan sekelilingnya. Ia merasa heran karena Bi Ani dengan mata sembab, bertekuk lutut di hadapan Marcello.
"Ada apa ini?" tanya Marissa heran sembari menghampiri Bi Ani dan membantu wanita itu berdiri.
"Ehm, bukan apa-apa. Kami hanya mengobrol biasa saja. Ya 'kan, Bi Ani?" sahut Marcello panik sambil melirik Bi Ani.
__ADS_1
Marcello memutar kembali layar laptopnya kemudian menutupnya agar Marissa tidak dapat melihat video tersebut.
"Ya, Nak. Apa yang dikatakan oleh Tuan Marcello itu benar," sambung Bi Ani sambil menyeka air matanya.
Marissa masih tidak percaya. Apalagi setelah melihat pemandangan yang tidak biasa, seperti yang ia lihat barusan. Ia menatap wajah-wajah para lelaki sangar yang sedang berdiri tak jauh darinya. Kemudian beralih pada Marcello yang terlihat serba salah. Lelaki itu terus mengelus tengkuknya sambil tersenyum kecut menatap dirinya.
"Kamu mencurigakan, Tuan Marcello!" ucap Marissa sambil menyipitkan matanya menatap lelaki itu.
"Oh ayolah, Marissa. Tidak terjadi apa-apa disini, kami hanya bicara seperti biasa. Bahkan Bi Ani saja mengakuinya," kilahnya.
Marissa mengalihkan tatapannya kepada Bi Ani yang berdiri tepat di hadapannya. "Benarkah itu, Bi Ani? Mereka tidak mengancammu, 'kan?" tanya Marissa sambil melirik Joe beserta para Bodyguard sangarnya.
Bi Ani mencoba tersenyum walaupun matanya masih sembab. "Ya, Nak. Mereka tidak mengancam Bibi, kok."
Marcello meraih gelas yang berisi air minum di atas mejanya. Dengan cepat ia menumpahkan isi gelas tersebut ke karpet, dimana Bi Ani tadi bersimpuh.
"Siapa yang bilang Bi Ani bertekuk lutut? Dia sedang membersihkan air minumku yang tumpah karena tidak sengaja ia senggol. Kalau tidak percaya, lihat saja!" ucap Marcello sambil menunjuk karpet yang masih basah.
Kini tatapan Marissa tertuju pada karpet itu kemudian merengkuh tubuh Bi Ani dan mengajak wanita itu keluar dari ruangan Marcello.
Fiuhhhh!!!
Semua lelaki di ruangan itu menghembuskan napas lega setelah Marissa keluar dari sana dan tidak memperpanjang persoalan tersebut.
__ADS_1
"Kalian boleh senang, tetapi nyawaku masih terancam! Aku takut wanita itu memperpanjang persoalan kami hingga keatas tempat tidur," gumam Marcello.
Sementara itu,
Marissa menuntun wanita itu menuju kamarnya kemudian mendudukkannya di tepian tempat tidur. Marissa juga mengambilkan air minum untuk Bi Ani yang terletak di atas nakas.
"Bi, katakan sama Marissa yang sebenarnya. Apa yang sudah dilakukan oleh Tuan Marcello beserta anak buahnya kepada Bibi?" tanya Marissa yang kini berjongkok di depan kaki Bi Ani.
"Tidak ada, Nak. Apa yang dikatakan oleh Tuan Marcello itu benar. Kami hanya membicarakan masalah biasa dan tidak sengaja Bibi menyenggol gelas minumannya," lirih Bi Ani.
Marissa menghembuskan napas panjang. Ia mengalah dan memilih percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bi Ani.
"Jika mereka melakukan sesuatu kepada Bibi, jangan sungkan untuk bicara sama Marissa ya, Bi. Biar Marissa berantas mereka! Lagipula Tuan Marcello tidak akan berani macam-macam sama Marissa, kok," ucap Marissa.
Bi Ani tersenyum. Ia memperhatikan mata indah milik Marissa yang begitu mirip dengan sang Ayah. Ia mengelus lembut wajah Marissa sembari berucap.
"Semoga kami selalu bahagia, Nak. Bibi selalu mendoakan yang terbaik untukmu."
"Terima kasih, Bi." Marissa bangkit kemudian memeluk tubuh Bi Ani dengan erat.
"Ibu tidak tahu bagaimana reaksimu setelah kamu tahu bahwa Ibu adalah Ibu kandungmu, Marissa. Mungkinkah Ibu masih bisa merasakan hangatnya pelukanmu?" batin Bi Ani.
...***...
__ADS_1