
Dengan langkah cepat, Marissa meninggalkan Mansion milik Marcello.
"Cepat, cepat, cepat! Sebelum ada yang menyadari kepergianku," gumamnya sambil terus melangkah.
Setelah ia berhasil keluar dari kawasan elit tersebut, Marissa menemukan seorang tukang ojek yang bisa mengantarkan dirinya menemui seseorang yang dapat membantu pelariannya dari Tuan Marcello.
Fattan, hanya nama itu yang ada didalam benaknya saat ini. Marissa berharap lelaki itu bisa membantunya pergi dan menghilang dari kehidupan Marcello.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan bersama si Tukang Ojek, iapun tiba didepan gerbang kampusnya.
"Terima kasih, Pak," ucap Marissa seraya menyerahkan uang kepada Tukang Ojek tersebut.
"Sama-sama, Neng geulis," sahut si Tukang Ojek sambil tersenyum konyol kepada Marissa sebelum lelaki itu berlalu dari hadapannya.
Baru beberapa menit setelah Tukang Ojek itu pergi, sebuah mobil berwarna hitam mendekat kearah pintu gerbang kampus. Marissa mengenali mobil itu, yang tidak lain adalah milik Fattan, Dosen paling tampan yang mengajar di Universitas tersebut.
"Pak Fattan! Pak Fattan!!!" panggil Marissa sambil berlari kecil menghampiri mobil milik Fattan.
"Marissa?!" pekik Fattan.
Fattan segera menghentikan mobilnya kemudian membuka kaca mobil yang berada disampingnya.
"Marissa? Kamu mau kemana?" tanya Fattan sambil memperhatikan penampilan Marissa yang nampak kacau.
"Ehm, ceritanya panjang, Pak! Bolehkah Marissa masuk?!" sahutnya.
"Iya, tentu saja boleh!"
Fattan bergegas membukakan pintu mobilnya dan mempersilakan Gadis itu duduk bersebelahan dengannya.
__ADS_1
"Sebaiknya kita bicara sambil jalan, ya," ucap Fattan.
Marissa pun menganggukkan kepalanya.
Fattan terus melajukan mobilnya dan sesekali ia menoleh kepada Marissa yang sedang duduk disampingnya.
"Sebenarnya ada apa, Marissa? Kenapa wajahmu terlihat murung?" tanya Fattan.
"Huft!" Marissa menghembuskan napas berat.
Marissa meremass kedua tangannya secara bergantian. Ia bingung harus bagaimana menceritakan hal itu kepada Fattan. Dan ia sudah tidak punya pilihan lain, selain meminta tolong kepada Lelaki itu.
"Sebenarnya aku kabur Tuan Marcello, Pak. Dan sekarang, aku tidak tahu lagi harus kemana dan meminta tolong pada siapa," tutur Marissa dengan wajah tertunduk.
"Apa, kabur? Ta-tapi kenapa?!" tanya Fattan yang begitu shok mendengar ucapan gadis itu.
Marissa mengangkat kepalanya kemudian menatap wajah Fattan dengan tatapan sendu. "Bisakah Bapak membawaku ketempat yang aman untuk sementara? Hanya sebentar saja, setelah aku mendapatkan bantuan dari temanku, maka aku akan segera pergi," ucap Marissa
Tanpa pikir panjang, Fattan menaikkan kecepatan mobilnya dan melaju memecah jalan raya menuju kediamannya yang sangat sederhana. Jika dibandingkan dengan Mansion mewah milik Marcello, rumah milik Fattan sama sekali tidak ada apa-apanya.
Setelah beberapa saat, merekapun tiba di halaman depan rumah Fattan.
"Masuklah, Marissa."
Fattan membukakan pintu rumahnya dan mempersilakan Marissa untuk masuk kedalam. Ia juga mengajak Gadis itu untuk duduk di sofa miliknya.
"Sekarang apa kamu ingin menceritakan semuanya kepadaku?" tanya Fattan.
"Tadi pagi, aku tidak sengaja mendengar perdebatan antara Tuan Marcello dan Nona Sarrah. Saat itu mereka sedang memperdebatkan tentang diriku dan juga masa laluku,"
__ADS_1
Marissa menarik napas dalam sebelum ia melanjutkan ucapannya. Sedangkan Fattan masih setia menunggu cerita dari Gadis itu
"Aku dengar Sarrah berteriak dan mengatakan bahwa aku bukanlah anak kandung dari Tuan Marcello dan juga Nyonya Melinda." Airmata Marissa kembali tumpah, bahunya kembali bergetar dan dadanya terasa sangat sesak.
"Ternyata aku hanyalah anak Adopsi mereka, yang mereka ambil dari salah satu Panti Asuhan. Orang tuaku bahkan tidak diketahui asal-usulnya. Ya, Tuhan!" Marissa zmenutup wajah cantiknya dengan kedua tangan.
"Benarkah? Pantas saja aku merasa agak aneh melihat perhatian yang diberikan oleh Tuan Marcello kepadamu," sahut Fattan.
Marissa menyeka air matanya kemudian menatap Fattan dengan tatapan heran. "Maksudmu?"
"Apa kamu tidak sadar, Marissa? Kalau menurutku, Tuan Marcello itu jatuh cinta padamu," tutur Fattan.
Marissa masih sempatnya terkekeh mendengar ucapan lelaki itu. Padahal ia sedang bersedih dan berada dititik terendah dalam hidupnya.
"Mencintaiku? Yang benar saja, aku bahkan sudah menanyakan hal itu langsung kepadanya dan ia bilang, ia hanya menganggapku sebagai Anak, tidak lebih dari itu."
Fattan terdiam, tetapi ia masih yakin akan perasaan lelaki itu. Hanya saja, Tuan Marcello mencoba mengelaknya atau memang lelaki itu tidak menyadari bahwa ia sudah jatuh cinta pada Marissa.
"Pak Fattan, bolehkan aku meminta tolong padamu?" lirih Marissa sembari menangkupkan kedua tangannya di hadapan lelaki itu.
"Ya, Marissa! Katakan saja!"
"Sebenarnya aku sangat malu, Pak. Tetapi aku sudah tidak punya pilihan lain selain meminta tolong kepada Pak Fattan. Aku butuh uang untuk pergi menjauh dari kehidupan Tuan Marcello. Dan aku harap Pak Fattan bersedia memberikan aku pinjaman untuk sementara. Nanti jika aku sudah punya uang, maka aku akan segera menggantinya." tutur Marissa.
Fattan tersenyum kemudian meraih tangan Marissa yang terasa sangat dingin.
"Apa kamu serius ingin pergi jauh dari lelaki itu?" tanya Fattan. Fattan begitu bersemangat setelah mendengar niat Marissa yang ingin pergi jauh dari Marcello yang menyebalkan itu.
Marissa menganggukkan kepalanya dengan cepat. Dan wajah cantik Marissa kini mulai nampak bersemangat karena Fattan bersedia membantunya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan membantumu, Marissa. Bahkan tidak hanya meminjamkan kamu uang, aku akan membawamu ketempat dimana Marcello tidak akan pernah menemukan dirimu," tutur Fattan.
...***...