
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka menemukan sebuah bengkel motor sederhana. Bengkel yang jaraknya paling dekat dari tempat Maria mengalami kebocoran ban motor.
"Huft! Akhirnya," ucap Maria sembari menjatuhkan dirinya di sebuah kursi plastik yang memang disediakan untuk para pelanggan bengkel tersebut.
Bukan hanya Maria yang merasa lega, Dylan pun sama. Keringatnya yang bercucuran bahkan sudah membasahi seluruh tubuh kekarnya. Setelah menyerahkan motor Maria kepada pekerja bengkel tersebut, Dylan pun beristirahat dan duduk di samping Maria.
Maria memperhatikan wajah lelah Dylan sembari tersenyum. Gadis itu meraih tissue yang ada didalam tasnya kemudian menyerahkannya kepada lelaki itu.
"Nih, Om."
Dylan memperhatikan beberapa lembar tissue yang ada di tangan Maria kemudian perhatiannya beralih pada gadis cantik itu.
"Terima kasih."
Dylan meraih tissue tersebut kemudian menyeka keringatnya. Karena banyaknya keringat Dylan, tissue yang diserahkan oleh Maria tidak mampu menghapus seluruh keringatnya.
"Uh, kasihan Om Udin. Sini, biar Maria bantu."
Maria berdiri di hadapan Dylan kemudian membersihkan keringat yang tersisa di wajah lelaki itu dengan tissuenya. Dylan memperhatikan gadis mungil nan cantik itu dengan seksama.
Tiba-tiba saja jantungnya berdetak dengan irama yang tak beraturan. Dylan merasakan darahnya mengalir dengan sangat cepat. Telapak tangannya bahkan mengeluarkan keringat dingin.
Padahal Dylan sudah terbiasa berhadapan dengan wanita cantik, tetapi ia tidak pernah merasakan perasaan aneh seperti ini sebelumnya.
"Berhentilah, Nona Maria. Aku bisa melakukannya sendiri."
Dylan meraih tangan Maria yang masih menyeka keringatnya kemudian menuntun gadis itu untuk duduk kembali di kursinya.
"Duduklah, Nona."
Dylan meraih tissue di tangan Maria kemudian ia pun segera membersihkan wajahnya. Sementara Dylan masih sibuk dengan wajahnya, Maria malah menepuk pelan perutnya.
"Om, Maria laper."
"Memangnya kamu tidak sarapan tadi pagi?" tanya Dylan sembari membuang tissue yang sudah kotor tersebut ke dalam tempat sampah.
"Sarapan, tapi sekarang aku lapar lagi."
Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah gerobak penjual bakso yang lewat di depan bengkel tersebut. Maria yang sudah kelaparan, segera memanggil Abang tukang bakso tersebut.
"Bang, dua porsi. Tapi, satu porsi milik aku kasih sambel yang banyak, ya!" titah Maria sambil tersenyum.
__ADS_1
"Siap, Neng" sahut Abang penjual bakso tersebut.
Sementara Abang penjual bakso menyiapkan pesanannya, Maria kembali ke posisinya semula.
"Satunya buat siapa?" tanya Dylan.
"Buat Om, lah."
Dylan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Selama ini ia tidak pernah jajan sembarangan karena perutnya terlalu sensitif. Ingin menolak pun ia tidak tega pada gadis ingusan itu.
Tidak berselang lama, bakso pesanan Maria pun selesai di buat oleh penjual bakso tersebut. Sambil tersenyum lebar, Maria menyerahkan semangkuk bakso kepada Dylan dan satunya lagi untuk dirinya sendiri.
"Makanlah, Om. Jangan sungkan," ucap Maria sambil meraih suapan pertamanya.
Dengan ragu-ragu, Dylan mencoba suapan pertamanya. Saat pertama menggigit, tidak ada masalah untuk Dylan. Namun, setelah gigitan yang kesekian kalinya, tiba-tiba saja Dylan meringis sambil mencari air minum.
"Huh ... haaahhh!"
"Kenapa, Om?"
"Pedas!!!" jerit Dylan sambil melotot kepada Maria.
Maria memperhatikan mangkok bakso miliknya dan milik Dylan. Gadis itu membulatkan matanya sambil tergelak setelah tahu bahwa mangkok bakso mereka tertukar.
"Pantas saja, Om. Mangkok kita tertukar."
Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Maria malah menertawakan lelaki itu. Abang penjual bakso bergegas menyerahkan segelas air minum kepada Dylan. Tanpa berpikir panjang, Dylan menyeruput air minum yang diberikan oleh Abang penjual bakso tersebut hingga habis satu gelas penuh.
"Aku sudah selesai," ucap Dylan kesal sembari duduk di tempatnya semula.
"Seandainya bukan kamu, Gadis Matre. Mungkin sudah ku getok kepalamu sama palu!" kesal Dylan dalam hati.
"Ih, Om Udin lucu. Masa body segede gaban takutnya sama pedas," ucap Maria yang masih saja menertawakan Dylan.
"Aku tidak pernah makan pedas sebelumnya," jawab Dylan dengan wajah malas menatap Maria.
Maria terkekeh mendengar jawaban lelaki itu dan tanpa peduli bagaimana wajah Dylan saat itu, ia tetap meneruskan makannya. Selang beberapa saat, isi mangkok bakso Maria pun ludes dan motor matic kesayangannya pun juga selesai diperbaiki.
"Berapa, Bang?" tanya Maria kepada Abang tukang bakso.
"30 ribu, Neng."
__ADS_1
"Kalo biaya perbaikan motor saya berapa, Bang?" tanya Maria lagi kepada Pemilik bengkel.
"20 ribu, Mbak."
"Ehm, 30 sama 20 ribu jadinya 50 ribu. Nah, Om Udin, ayo bayar 50 ribu," ucap Maria sambil mengulurkan tangannya kepada lelaki itu.
"Kok aku yang bayar, sih?"
"Lah, iya! Memangnya siapa yang mau bayar, Maria?" balasnya.
"Dasar cewek matre!" kesal Dylan seraya menggagahi saku celananya. Ia meraih dompet miliknya kemudian memeriksa isi dompet tersebut.
"Wah, kamu memang benar-benar beruntung ya, Om Udin. Lihat, dompetmu saja barang branded, sepatumu juga! Wah, wah, hebat sekali. Daddy-ku saja tidak pernah memperhatikan sopir pribadinya sampai sedetail ini, benar-benar tajir!" gumam Maria dengan mata membulat.
"Mungkin Daddymu itu pelit," jawab Dylan sembari menyerahkan uang seratus ribu kepada pemilik bengkel.
Setelah selesai membayar biaya perbaikan ban motor serta bakso yang dimakan oleh Maria, mereka pun bersiap pulang.
"Nih, Om."
Maria menyerahkan sebuah helm kepada Dylan yang juga bermotif Hello Kitty. Dylan menekuk wajahnya sambil memperhatikan helm tersebut.
"Apa aku harus mengenakannya?"
"Ya, Om. Memangnya Om mau kita di tilang sama Pak Polisi?"
"Lalu siapa yang membawa motor ini?"
"Ya, Om lah. Masa Maria," jawab Maria sambil terkekeh.
Dylan menepuk jidatnya. Ia benar-benar merasa dikerjai oleh gadis ingusan itu.
"Kamu sudah menjatuhkan harkat dan martabatku sebagai seorang laki-laki, Nona Maria! Masa aku sekeren ini bawaannya motor matic berwarna pink dengan gambar kucing, benar-benar tidak lucu!" gumamnya dengan wajah menekuk.
"Bukan kucing, Om. Itu namanya Hello Kitty."
"Sama saja!" kesal Dylan sambil mengenakan helm bermotif Hello Kitty tersebut ke atas kepalanya.
"Tidak jelek kok, Om. Malah Om terlihat imut-imut!" seru Maria sambil tersenyum manis menatap Dylan.
...***...
__ADS_1