
Setelah memarkirkan motornya, Maria melangkah gontai menghampiri mansion megah yang berdiri di hadapannya. Ini pertama kalinya ia tidak ingin menginjakkan kakinya di bangunan megah itu.
"Nona muda, kenapa bengong?"
Terdengar suara Lea dari belakang tubuh Maria. Lea bingung ketika melihat Maria yang terdiam sambil memperhatikan bangunan megah tersebut. Maria segera berbalik dan menatap gadis yang berusia 2 tahun lebih tua darinya.
"Lea."
Maria mengedarkan pandangannya ke sekeliling mansion dan juga kediaman Joe yang berdiri megah di samping kanan mansion milik Daddynya.
"Shht, Lea. Kan sudah kubilang, kalo Om Joe tidak ada, tidak usah panggil aku Nona Muda. Kita 'kan teman, masa manggilnya begitu? Nah, terkecuali jika ada Om Joe, baru kamu panggil aku dengan sebutan itu," ucap Maria sambil memasang wajah masam.
"Bukan begitu, Nona Muda. Aku takut kepeleset, ntar pas ada Daddyku, aku malah main sebut nama. Bisa-bisa mata Daddy keluar," sahut Lea sambil terkekeh pelan.
Maria membuang napas berat. "Sebaiknya aku masuk dulu ya, Lea. Aku yakin Daddy dan Mommyku pasti sudah menunggu kedatanganku."
Maria melanjutkan langkahnya memasuki mansion dan meninggalkan Lea yang masih kebingungan melihat gelagat Maria yang tidak seperti biasanya.
Apa yang dipikirkan oleh Maria ternyata benar. Kedua orang tuanya sudah berkumpul di ruang utama sambil menunggu kedatangannya.
"Maria," panggil Marcello.
Maria memperhatikan ekspresi kedua orang tuanya. Yang satu nampak sedih dan yang satunya masih menatapnya dengan tatapan dingin.
"Ya, Dad."
Maria berjalan menghampiri kedua orang tuanya, Marcello dan Marissa. Kemudian ia duduk di sofa yang ada di ruangan itu dengan jarak yang lumayan jauh dari pasangan tersebut.
Sebelum bicara, Marcello membuang napas berat sambil memperhatikan Maria tanpa berkedip sedikitpun.
"Maria, keberuntungan masih berpihak padamu kali ini. Kepala Sekolah menemukan sebuah video rekaman yang terjadi antara kamu dan teman-teman yang sudah mengganggumu. Dan Kepala Sekolah bersedia memaafkanmu dan memberikanmu kesempatan untuk kembali mengikuti pelajaran di sekolah itu."
__ADS_1
Maria menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa sambil menekuk wajahnya. "Sekarang Daddy dan Mommy percaya 'kan bahwa selama ini Maria tidak salah? Maria itu memang nakal, tapi bukan tanpa sebab, Dad. Merekalah yang suka jahilin Maria dengan alasan yang tidak masuk akal," keluh Maria.
Marissa menggeser tubuhnya dan menghampiri Maria. "Ya, maafkan Mommy dan Daddy, ya."
Maria menatap Marissa lekat kemudian menganggukkan kepalanya perlahan. "Ya, Mom."
Malam menjelang.
Setelah selesai makan malam, Marcello memerintahkan ketiga anak-anaknya berkumpul di ruang utama.
"Kenapa Daddy memerintahkan kita berkumpul di saat-saat seperti ini, ya?" tanya Melvin kepada Marvel yang berjalan di depannya.
"Entahlah," jawab Marvel sambil terus melangkahkan kakinya menuju ruang utama, dimana Marcello dan Marissa sudah menunggu kehadiran mereka.
Setibanya di ruangan itu ternyata bukan hanya Mommy dan Daddy mereka yang ada di ruangan itu, tetapi Joe pun ikut duduk disana dengan wajah serius.
"Duduklah, Tuan Muda."
Joe mempersilakan Marvel dan Melvin duduk di sofa kemudian setelah kedua lelaki tampan itu duduk, Joe pun kembali ke posisinya semula.
Marcello mengedarkan pandangannya, tetapi gadis itu masih belum kelihatan batang hidungnya.
"Mungkin masih di kamarnya, Dad," sahut Melvin.
Tidak berselang lama gadis itu akhirnya muncul dengan menggunakan piyama tidur bermotif Hello Kitty. Tidak lupa, sandal bulu-bulu yang juga dengan motif yang sama.
"Ada apa sih, Dad? Maria 'kan sudah ngantuk," ucapnya sambil menjatuhkan diri di samping Melvin kemudian memeluk lengan lelaki itu.
"Katanya Daddy ingin segera menikahkan dirimu dengan seseorang, Maria," goda Melvin sambil terkekeh pelan.
Mata Maria yang tinggal 5 watt itu tiba-tiba saja terang benderang karena saking terkejutnya. "Apa, menikah?!" pekik Maria.
__ADS_1
Padahal Melvin hanya bercanda saat mengatakan hal itu. Namun ia tidak menyangka bahwa apa yang diucapkannya adalah benar.
"Apa yang dikatakan oleh Kakakmu Melvin benar. Daddy berencana menikahkanmu dengan anak seorang pengusaha, yang merupakan rekan bisnis Daddy," sambung Marcello.
"Loh, bukankah tadi siang Daddy bilang Maria boleh bersekolah lagi, kenapa sekarang malah jadi begini?" protes Maria yang tidak terima bahwa dirinya harus dinikahkan dengan seseorang yang tidak ia kenal sebelumnya.
"Ya, memang benar. Tapi, apa kamu sudah lupa bahwa sekolahmu hanya tinggal beberapa bulan lagi? Setelah ujian akhir, kita akan segera melangsungkan pernikahanmu," sahut Marcello.
"Ah, tidak-tidak! Maria tidak mau."
"Keputusan Daddy sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat!"
"Huaaa!!!"
Maria menagis histeris sambil memeluk Melvin. Sedangkan Kakak lelakinya itu malah terkekeh sambil mengelus puncak kepala Maria.
"Sabar, sabar ...."
"Dan untuk kalian berdua, Daddy pun sudah mempersiapkan seseorang untuk kalian."
"Apa, kami juga?!" pekik Melvin.
"Ya, dan sama seperti Maria, keputusan Daddy tidak bisa di ganggu gugat!"
"Oh, Tuhan!" gumam Melvin.
Maria yang tadinya menangis histeris, malah tergelak setelah mendengar keputusan sang Daddy.
"Kena batunya kamu, Kak!"
"Hush!"
__ADS_1
Melvin menekuk wajahnya sedangkan Marvel hanya diam tanpa bicara sepatah katapun. Namun, lelaki pendiam itu nampak berpikir keras sambil menatap sang Daddy.
...***...