
"Istirahatlah, Sayang." Joe merebahkan tubuh Sofia yang masih lemah ke atas tempat tidur mereka.
Sofia meraih tangan Joe yang kini duduk di tepian tempat tidur kemudian menggenggamnya dengan erat.
"Mas tidak marah 'kan sama Sofia?" lirih Sofia dengan mata sembab menatap Joe saat itu.
Joe tersenyum sambil mengelus puncak kepala Sofia dengan tangan satunya.
"Kenapa aku harus marah padamu, Sofia? Aku menyayangimu melebihi diriku sendiri. Bagiku, dirimu lebih utama dari pada semuanya dan soal bayi itu, mungkin Tuhan masih belum mempercayai kita untuk merawatnya. Tapi kamu tidak usah khawatir. Kamu dengar 'kan apa yang di ucapkan oleh Dokter kemarin? Kita bisa mencetaknya lagi dan lagi! Sampai berhasil," tutur Joe, mencoba menenangkan istri kecilnya itu.
"Benarkah? Mas tidak marah padaku?" tanya Sofia lagi.
Lagi-lagi Joe menggelengkan kepalanya.
"Tidak akan."
Sofia kembali terisak sambil menciumi punggung tangan Joe yang masih berada di genggamannya.
"Istirahatlah. Aku ingin menemui para Bodyguard dulu, ada yang harus aku kerjakan bersama mereka. Aku berjanji hanya sebentar saja," ucap Joe sembari melabuhkan ciuman hangat di puncak kepala Sofia.
"Sebentar saja, ya," lirih Sofia yang masih ingin di temani oleh lelaki itu.
"Ya, aku berjanji hanya sebentar."
Setelah berpamitan kepada Sofia, Joe melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan. Ruangan dimana Joe biasa menghabiskan waktunya untuk membentuk tubuh dan otot-ototnya.
Perlahan Joe memasuki ruangan tersebut kemudian menghampiri sebuah samsak yang tergantung di salah satu sudut di ruangan itu.
Joe melepaskan setelan jasnya kemudian meninju-ninju benda tersebut sambil berteriak kesal.
"Aarrgkkk!!!"
__ADS_1
Cukup lama Joe berteriak sambil meninju samsak tersebut untuk mengeluarkan rasa kesedihannya saat itu. Hingga seseorang menepuk pundaknya pelan.
"Joe."
Joe berbalik kemudian menatap seseorang yang kini sedang berdiri di hadapannya. Seorang laki-laki yang menatapnya dengan tatapan sendu.
"Tuan Marcello," lirih Joe.
Joe membungkuk hormat sembari meminta maaf kepada lelaki itu.
"Maafkan saya, Tuan."
"Keluarkan lah, Joe. Keluarkan semua beban yang ada di hatimu dan jangan di tahan," ucap Marcello sembari menepuk pundak Joe.
Tubuh Joe luruh. Ia duduk di lantai sambil memeluk kedua lututnya. Wajahnya yang selalu terlihat dingin dan datar itu kini terlihat sangat menyedihkan.
"Tuhan tidak adil padaku, Tuan. Dia memberikan harapan palsu padaku. Dia memberikan secercah kebahagiaan untuk kami, tetapi dengan sekejab ia ambil kebahagian itu dan menyisakan rasa sakit yang teramat dalam," lirih Joe dengan mata berkaca-kaca.
Joe mengusap wajahnya dengan kasar kemudian menghembuskan napas beratnya.
"Semoga saja aku bisa melakukannya, Tuan."
"Aku yakin kamu pasti bisa. Semangatlah! Paling tidak untuk Sofia, Joe. Saat ini dia sangat membutuhkan dirimu. Jika kau saja lemah seperti ini, bagaimana mungkin kamu bisa mambantu Sofia bangkit dari keterpurukannya? Mana Joe yang dulu kukenal begitu kuat dan tegar?!" tutur Marcello.
Kepala Joe kembali tertunduk. Ia mulai memikirkan apa yang dikatakan oleh Big Bossnya tersebut. Walau terkadang Marcello begitu menyebalkan, tetapi tidak bisa ia pungkiri Marcello adalah Boss sekaligus sahabat yang baik untuknya. Bahkan ia menyayangi lelaki menyebalkan itu seperti Adiknya sendiri.
"Terima kasih, Tuan. Dukungan seperti inilah yang sangat aku butuhkan untuk saat ini."
"Ya, nasib kita ini tidak jauh berbeda, Joe. Kita sama-sama lelaki yang menyedihkan," balas Marcello sembari terkekeh pelan.
"Tapi-- aku bukan lelaki menyedihkan, Tuan. Tuan saja yang seperti itu," elak Joe.
__ADS_1
Marcello kesal. Ia memukul lengan Joe sambil menekuk wajahnya.
"Heh, kamu mulai berani mengelak ucapanku, ya!"
"Tidak, Tuan. Anda benar, saya juga menyedihkan sama seperti Anda," jawab Joe.
"Nah, begitu donk."
Sementara lelaki itu saling memberi semangat satu sama lain. Di kamar Sofia, wanita itu tengah berbincang bersama Marissa yang sedang menjenguknya.
"Semoga aku dapat menyusul Anda kembali ya, Nona," ucap Sofia yang sedang duduk bersandar di sandaran tempat tidurnya sambil menyentuh perut besar Marissa.
"Pasti, Sofia. Lagipula Om Joe 'kan lelaki perkasa, sekali cetak pasti langsung jadi," sahut Marissa.
Sofia tersipu malu mendengar ucapan majikannya tersebut. Ia memperhatikan perut besar Marissa dan tepat di saat itu kedua bayi kembar Marissa sedang bergerak-gerak.
"Lihat, Nona! Mereka bergerak," ucap Sofia sambil membulatkan matanya saat melihat pergerakan di perut besar Marissa.
"Sentuhlah," titah Marissa karena Sofia begitu ingin menyentuh perut besarnya.
"Boleh?!"
"Ya!"
Sofia pun segera menyentuh perut Marissa yang agak menonjol dan setelah di sentuh, bayi-bayi itu mengubah posisinya lagi. Hal itu membuat Sofia terkekeh.
"Mereka lucu ya, Nona! Aku sudah tidak sabar ingin merasakan hal yang sama," tuturnya.
"Tentu saja, Sofia. Kamu pasti akan merasakan hal yang sama sepertiku."
...***...
__ADS_1