Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 277


__ADS_3

"Tuan Hardy?" Joe kembali menyapa lelaki yang terlihat kebingungan tersebut.


"Ah, iya. Tentu saja, Tuan Joe. Aira adalah putri kandung kami. Memangnya kenapa, Tuan? Apa ada masalah?" sahut Tuan Hadry dengan wajah yang masih terlihat panik.


Joe memijit pelipisnya. Ia merasa curiga bahwa Tuan Hardy sudah berkata bohong.


"Begini, Tuan Hardy. Aku ingin berkata jujur kepadamu. Shakila bukanlah anak kandungku. Aku mengadopsi Shakila dari panti asuhan saat ia masih bayi. Dan yang jadi pertanyaan dalam kepalaku saat ini, apakah mungkin Shakila dan Aira saudara kembar? Mungkin saja Aira adalah salah satu bayi kalian."


Nyonya Lisa menggenggam tangan suaminya dengan erat dan mata wanita itu terlihat berkaca-kaca saat menatap sang suami. Tuan Hardy membalas tatapan Nyonya Lisa kemudian mengelus punggungnya dengan lembut agar istrinya bisa sedikit lebih tenang.


"Sebenarnya ...." Kepala Tuan Hardy tertunduk lesu menghadap lantai untuk beberapa saat dan setelah itu, ia pun kembali fokus pada lelaki yang sedang duduk di hadapannya.


"Sebenarnya Aira bukanlah putri kami, Tuan Joe. Sama seperti Anda, kami pun mengadopsi Aira sejak ia ditemukan oleh warga desa. Kebetulan kami memang tidak ditakdirkan untuk memiliki keturunan dan kami menawarkan diri untuk merawatnya," lirih Tuan Hardy.


Prankkk ....


Terdengar sebuah gelas kaca yang terjatuh ke lantai. Sontak saja ketiga orang yang sedang berbincang di ruangan itu segera menoleh ke arah asal suara. Mereka semua terkejut setelah menyaksikan Aira sedang berdiri dengan wajah murung. Air mata gadis itu bahkan mulai merembes dari kedua sudut matanya.


"Ja-jadi ... selama ini Aira hanyalah anak angkat kalian?" tanya Aira dengan terbata-bata.


"A-Aira ... anakku!" Nyonya Lisa segera bangkit dari posisi duduknya kemudian menghampiri Aira yang masih mematung di tempatnya berdiri.


"Maafkan Mommy, Nak!"


Nyonya Lisa memeluk Aira yang masih terdiam dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya. Aira benar-benar shok setelah mengetahui bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari pasangan yang selama ini ia yakini sebagai kedua orang tua kandungnya.

__ADS_1


"Jika Aira bukanlah anak kandung kalian, lalu ... siapakah orang tua kandung Aira yang sebenarnya?"


Nyonya Lisa menuntun Aira ke sofa dan mendudukkan gadis itu tepat di sampingnya. "Aira, kalau soal itu kami sama sekali tidak tahu. Dan Mommy mohon dengan sangat, Nak ... jangan benci kami. Kami memang bukan orang tua kandungmu, tetapi rasa cinta dan kasih sayang kami begitu besar kepadamu."


Aira menatap sedih kepada Nyonya Lisa. Namun, ia tidak bisa berkata apapun lagi. Hati dan pikirannya benar-benar sedang kacau saat ini.


"Aira, Om janji akan membantumu menemukan kedua orang tuamu, tapi untuk saat ini bolehkah Om minta batuanmu?" ucap Joe.


Aira mengangkat kepalanya dan menatap Tuan Joe dengan tatapan sendu. "Bantuan apa itu, Om?"


"Bersediakah kamu melakukan tes DNA bersama Shakila? Karena Om yakin sekali bahwa kamu dan Shakila memang saudara kembar yang terpisah saat kalian di lahirkan."


Aira mengerutkan kedua alisnya. "Ja-jadi Shakila ...."


"Ya, Aira. Shakila pun sama, dia bukanlah anak kandung kami. Kami mengambilnya dari panti asuhan dan merawatnya hingga sekarang. Tapi, percayalah pada Tuan dan Nyonya Barnard, apa yang mereka rasakan terhadapmu, seperti itupula perasaanku terhadap Shakila," tutur Joe.


"Kami juga, Aira," sahut Tuan dan Nyonya Barnard sembari memeluk tubuh Aira dengan penuh haru.


Setelah melerai pelukan mereka bertiga, Aira pun kembali berbicara dengan Tuan Joe.


"Baiklah, aku bersedia. Dan jika benar Shakila adalah saudari kembarku maka aku akan sangat bahagia karena artinya aku tidak sendiri di dunia ini."


"Terima kasih, Aira." Joe tersenyum puas karena ternyata Aira bisa bersikap dewasa menghadapi permasalahannya saat ini.


Setelah beberapa saat, akhirnya Joe pun mohon diri dan berpamitan kepada keluarga Tuan Barnard.

__ADS_1


"Terima kasih, Tuan Hardy. Terima kasih atas semuanya," ucap Joe sebelum ia melajukan mobilnya.


"Sama-sama, Tuan Joe."


Joe pun segera melaju menuju mansion dan sekarang giliran Joe untuk berterus terang kepada Shakila. Joe berharap, Shakila bisa bersikap dewasa sama seperti Aira.


"Semoga Shakila tidak kecewa. Aku harap dia bisa menerima semua ini dengan lapang dada," gumam Joe sambil terus fokus pada jalan raya yang membentang di hadapannya.


Setelah beberapa saat, mobil yang,dikemudikan oleh Joe pun tiba di halaman depan mansion. Setelah memarkirkan mobilnya, ia pun segera memasuki rumah dan mencari keberadaan Shakila.


"Lea, dimana Shakila?" tanya Joe kepada anak gadisnya, Lea yang sedang asik bermain ponsel sambil berbaring di sofa.


"Di kamarnya, Dad," sahut Lea tanpa menoleh sedikitpun kepada sang Daddy.


Joe bergegas menuju kamar gadis itu. Kamar yang terletak di lantai dua, di samping kamar Lea dan Leo.


"Shakila, kamu di dalam?"


"Ya sebentar, Dad! Kila sedang berpakaian." Terdengar teriakan halus dari dalam kamar gadis itu.


"Shakila, Daddy ingin bicara padamu dan ini sangatlah penting. Daddy tunggu di ruang kerja Daddy," ucap Joe.


"Baiklah, Dad. Nanti Kila susul," sahutnya.


Setelah mendengar jawaban dari Shakila, Joe pun segera menuju ruang kerjanya. Ruang yang paling aman dan nyaman bagi Joe untuk membicarakan masalah penting seperti sekarang ini.

__ADS_1


...***...


__ADS_2