
"Tuan."
Seorang lelaki menepuk pundak Tuan Felix yang masih asyik menggeleng-gelengkan kepala mengikuti hentakan musik sambil memperhatikan Akira yang masih menari dengan panasnya di ruangan itu.
"Ya?"
Anak buah Tuan Felix membungkuk kemudian berbicara di samping telinga lelaki itu dengan suara lebih keras agar terdengar olehnya.
"Sahabat Anda baru saja tiba, apa Anda tidak ingin menemuinya?"
"Benarkah?"
"Ya." Lelaki itu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku akan segera kesana," sahut Tuan Felix sembari bangkit dari tempat duduknya.
Tuan Felix menghampiri Melvin yang mematung. Sejak tadi ia hanya terdiam sambil memperhatikan wanita bertopeng yang sepertinya sangat ia kenali.
"Tuan Melvin, maaf aku harus meninggalkanmu disini. Sahabatku baru saja tiba dan aku harus segera menemuinya."
Tuan Felix juga berbicara dengan cara yang sama, mendekatkan wajahnya kepada Melvin kemudian bicara dengan keras agar suaranya terdengar jelas oleh Melvin.
"Ya, Tuan," jawab Melvin sembari menganggukkan kepalanya.
"Nikmatilah pestanya. Karena ini kupersembahkan khusus untukmu, Tuan Melvin."
Tuan Felik menepuk pundak Melvin sambil tersenyum kemudian ia pun segera pergi dari ruangan itu. Kini hanya tinggal Melvin dan wanita penari erotis yang masih melenggak-lenggok di hadapannya.
__ADS_1
Karena saking penasarannya, Melvin pun memberanikan diri menghampiri wanita itu. Perlahan Melvin melangkahkan kakinya dan akhirnya ia berdiri tepat di hadapan Penari bertopeng tersebut.
Setelah berada dengan jarak yang sangat dekat, Melvin merasakan bahwa firasatnya benar. Wanita itu adalah seorang gadis yang begitu ia kenali.
"Syakila!"
Tanpa aba-aba, Melvin menarik topeng yang dikenakan oleh penari itu dengan cepat, hingga topeng tersebut terlepas dari wajah cantik wanita itu. Mata Melvin membulat dengan sempurna setelah wajah Penari tersebut terpampang jelas di hadapannya.
Sontak saja, gadis itu menghentikan tariannya. Ia terkejut karena Melvin sudah berani mengambil topengnya dan memperlihatkan wajah aslinya. Melvin yang sudah termakan emosi, menarik tangan wanita itu dengan kasar dan juga mencengkeramnya dengan erat.
"Syakila! Apa yang kamu lakukan disini?! D-dan apa ini? Kenapa kamu melakukan pekerjaan seperti ini?! Aku benar-benar tidak menyangka, Shakila. Ternyata kamu--"
"Shakila? Siapa Shakila?!" pekik gadis itu dengan mata menohok tajam membalas tatapan Melvin.
Gadis itu mencoba melepaskan cengkeraman tangan Melvin, tetapi tidak bisa. Hingga akhirnya gadis itu berteriak memanggil seseorang.
"Bodyguard!!!"
"Lepaskan Nona kami!" titah salah seorang Bodyguard sambil mencengkeram leher Melvin. "Apakah Anda lupa, peraturan pertama? Anda tidak boleh menyentuh Nona kami," lanjut Bodyguard tersebut.
Sedangkan salah satu Bodyguardnya yang lain bertugas mengamankan gadis itu dan memberikan sebuah jubah untuk menutupi tubuh seksinya gadis penari tersebut.
Gadis cantik berbalut pakaian seksi itu segera pergi meninggalkan ruangan sembari mengenakan kembali topeng dan juga jubah yang diberikan oleh Bodyguard kepadanya.
Ia tidak peduli bagaimana ekspresi Melvin saat itu. Sedangkan kedua Bodyguard bertubuh tambun tersebut mengikuti langkah Sang wanita penari dari belakang.
"Siapa gadis itu? Apa benar dia Shakila?" gumam Melvin sambil memperhatikan ketiga orang tersebut hingga mereka menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
"Aku harus tahu siapa wanita itu, harus!"
Melvin bergegas pergi dari ruangan itu kemudian mencari keberadaan wanita penari dan kedua Bodyguardnya. Hingga akhirnya ia menemukan mereka bertiga dan mulai membututi dari belakang tanpa sepengetahuan ketiga orang tersebut.
"Itu dia," gumam Melvin sembari meraih ponselnya. Ia membuka daftar kontaknya kemudian mencoba menghubungi nomor ponsel Shakila.
Sementara itu,
Shakila sudah hampir larut ke alam mimpinya, tetapi tiba-tiba saja ponsel yang ia letakkan di atas nakas, bergetar hingga hampir terjatuh dari nakas tersebut.
Shakila yang sudah kelelahan, hampir tidak dapat membuka matanya lagi. Ia meraba-raba atas nakasnya dengan mata terpejam kemudian mengambil ponsel tersebut.
"Ya hallo, siapa ini?"
"Shakila?" pekik Melvin dengan mata membulat.
"Kalau yang bicara denganku adalah Shakila, lalu siapa gadis itu?" gumam Melvin sambil memperhatikan Wanita Penari dengan kedua bodyguardnya.
"Tuan Melvin?" pekik Shakila setelah sadar bahwa yang sedang bicara dengannya adalah lelaki yang selama ini suka menggangunya.
"Kamu sedang apa, Shakila?" tanya Melvin yang begitu penasaran.
"Aku sudah bersiap untuk tidur, Tuan Muda. Mataku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Sebaiknya kita sambung pembicaraan kita besok pagi saja, ya."
Ponsel milik Shakila jatuh di samping kepalanya karena gadis itu benar-benar sudah larut ke alam mimpinya.
Melvin terus mengikuti ketiga orang tersebut hingga ke areal parkir. Wanita penari dan dua Bodyguard menghampiri salah satu mobil mewah yang terparkir disana kemudian memasukinya. Tidak berselang lama, mobil mewah tersebut bergerak maju kemudian melaju meninggalkan arel parkir dan menghilang di tengah keramaian kota.
__ADS_1
***
Tidak ada adegan jebak-menjebak kan, readers 😄😄😄 Anak-anak Marcello aman, kok. Cukup Daddy-nya yang pernah celap-celup. Mereka mah aman kek emaknya, Marissa hahaha.