Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 53


__ADS_3

"Apa kamu masih ingin mengelak, Sarrah?"


Sarrah terdiam, ia tidak bisa lagi berkata apa-apa. Kebohongannya sudah terbongkar dan ia sadar, nasib cintanya kepada lelaki itu sudah berada di ujung tanduk.


"Dan aku punya satu kejutan lagi untukmu, Sarrah."


Marcello meraih ponsel itu kembali kemudian membuka video mesum Sarrah bersama seorang laki-laki yang diketahui berprofesi sebagai Produser tersebut.


Sarrah masih terdiam dan memperhatikan gerak-gerik lelaki yang kini seperti orang asing baginya, padahal selama ini dialah yang menjadi tumpuan hidupnya.


"Coba kamu lihat ini dan jelaskan kapan dan dimana tepatnya, kejadian ini terjadi," ucap Marcello sambil melemparkan kembali ponsel itu ke hadapan Sarrah.


Perhatian Sarrah kembali tertuju pada benda pipih tersebut, dimana video permainan panasnya bersama seorang Produser sedang diputar.


"Oh, Tuhan!!!" seru Sarrah.


Wanita itu membulatkan matanya dan mulutnya pun ikut terbuka lebar ketika sadar bahwa video tersebut adalah video dirinya dengan seorang


Produser tempatnya bekerja sedang melakukan permainan panas.


"Bagaimana kamu ...."

__ADS_1


"Tidak usah bertanya dari mana aku menemukan video itu. Jawab saja pertanyaanku, Sarrah."


Sarrah ketakutan, dibawah meja, ia meremass kedua tangannya secara bergantian. Keringat dingin mengucur disamping pelipisnya. Mengelak pun rasanya sudah tidak berguna, rahasia yang selama ini ia tutup rapat-rapat, akhirnya terbongkar. Dan siap tidak siap, Sarrah harus siap menerima nasibnya setelah ini.


"Itu ...."


"Ini terjadi disaat kita sudah bersama 'kan, Sarrah? Sebenarnya kurang apa aku sama kamu selama ini? Kamu minta ini, aku kasih, kamu minta itu, aku kasih! Tapi, kamu malah bermain dibelakangku," tutur Marcello.


Tiba-tiba, kenangan masa lalu terlintas dipikirkannya. Ia teringat ketika ia dan Bella melakukan hubungan terlarang dibelakang Melinda. Dan kejadian hari ini membuat ia sadar bahwa karma pasti berlaku. Ya, Marcello mendapatkan karma atas perbuatan terlarangnya bersama Bella.


"Ya, Tuhan!"


Marcello menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasa bersalah itu kembali menyeruak dalam hatinya. Padahal selama ini dia sudah berusaha dengan keras untuk bisa melupakan kesalahannya kepada Melinda, mendiang istrinya.


"Sarrah, maafkan aku. Sepertinya hubungan kita cukup sampai disini, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini lebih jauh lagi. Sekali lagi, maafkan aku," tutur Marcello.


Sarrah mengangkat kepalanya kemudian menatap lelaki yang selama ini menguasai hatinya dengan mata berkaca-kaca. Wajahnya memelas dan berharap Marcello bisa mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hubungan mereka.


"Jangan berkata seperti itu, Marcel! Aku mohon, maafkan aku! Kejadian ini sudah lama sekali dan itu terjadi sebelum kita menjadi sepasang kekasih. Dan setelah kita resmi berpacaran, aku tidak pernah lagi berhubungan dengannya. Ku mohon percayalah kepadaku dan berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," lirih Sarrah.


"Maafkan aku, Sarrah. Tapi aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita."

__ADS_1


Tepat disaat itu, Joe dan para Pelayan masuk kedalam ruangan itu dengan membawa beberapa buah koper yang berisi pakaian serta barang-barang milik Sarrah.


Kedatangan Joe dengan membawa koper membuat Sarrah tersadar bahwa dirinya akan segera diusir dari Mansion megah itu. Ia panik kemudian menghampiri Marcello dan bertekuk lutut sambil memeluk kaki lelaki itu.


"Marcello, aku mohon, jangan usir aku! Aku berjanji akan menjadi wanita yang sesuai dengan keinginanmu. Jika kamu ingin aku berbaikan dengan Marissa, ya, aku akan melakukannya. Tapi, jangan usir aku ...," isak Sarrah dengan air mata bercucuran membasahi kedua pipinya.


Marcello meraih tubuh Sarrah dan sekarang posisi mereka saling berhadapan. Marcello menatap kedua bola mata yang berair itu dengan tatapan sendu. Ia membelai pipi Sarrah kemudian berucap.


"Pergilah, Sarrah. Dan aku berjanji tidak akan pernah mengambil apapun yang sudah aku berikan kepadamu, termasuk Apartemen itu. Sekarang kamu bisa tinggal disana dan ku mohon jangan pernah ganggu hidupku lagi," ucap Marcello.


"Tidak! Tidak! Ku mohon, Marcello, jangan!"


Sarrah menangis histeris setelah mendengar ucapan dari lelaki itu. Ia tidak ingin kehilangan lelaki itu dan juga kehidupan mewahnya.


Joe menghampiri Sarrah kemudian membawanya keluar dari ruangan itu, bersama para Pelayan yang berjalan mengikutinya dari belakang dengan membawa koper yang berisi barang-barang milik wanita itu.


"Marcello, aku mohon!!!"


Teriakan Sarrah masih terdengar jelas di telinga Marcello walaupun wanita itu sudah jauh dari ruangannya. Sarrah terus berteriak sambil mencoba melepaskan tangan Joe yang mencengkeram lengannya dengan sangat erat, bahkan kulitnya terlihat memerah.


"Lepaskan aku, Joe! Aku adalah Nona di Mansion ini dan jangan pernah macam-macam padaku!" hardiknya.

__ADS_1


Joe terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya ketika mendengar ucapan Sarrah. Ia merasa lucu karena Sarrah masih berani mengancamnya padahal sudah jelas bahwa dirinya akan segera diusir dari tempat itu.


"Bicaralah sesuka hati Anda, Nona Sarrah. Tapi hal itu tidak akan mengubah takdir Anda hari ini," sahut Joe.


__ADS_2