Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 93


__ADS_3

"Lalu bagaimana reaksi istrinya?" tanya Marcello penasaran. Bukan hanya Marcello, Marissa dan Joe pun begitu penasaran.


"Dia marah besar, Tuan. Dia tidak bisa menerimanya, walaupun Tuan Abraham sudah menjelaskan bahwa kejadian itu tidaklah disengaja. Bahkan diantara aku dan Tuan Abraham tidak memiliki perasaan apapun. Wanita itu tidak memberikan izin kepada suaminya untuk menikah lagi. Dan lebih parahnya, ia memerintahkan dua orang laki-laki untuk menyingkirkan aku setelah ia tahu bahwa aku sedang mengandung anak dari suaminya. Malam itu aku diseret dan di paksa ikut kedua lelaki itu. Mereka ingin melenyapkan aku dan bayi dalam kandunganku. Beruntung Tuhan masih sayang padaku, aku berhasil menyelamatkan diri dari mereka. Disaat aku kabur, aku bertemu dengan seseorang yang bersedia membantuku serta membawaku kembali ke negara ini. Seandainya malam itu mereka berhasil menyingkirkan aku, mungkin kamu pun tidak akan pernah terlahir dari Ibumu yang hina ini, Marissa," ucap Bi Ani sambil terisak.


Tangis Marissa pun ikut pecah. Ia memeluk tubuh Bi Ani dengan erat. "Jangan berkata seperti itu, Bu. Maafkan Marissa karena sudah menduga yang bukan-bukan tentang, Ibu."


Marcello menatap dua orang wanita beda generasi yang sedang berpelukan di hadapannya. Ia pun merasa iba kepada Bi Ani setelah mengetahui masa lalunya yang begitu kelam. Ia menghembuskan napas panjang kemudian berucap.


"Lalu apa rancana kamu selanjutnya? Apakah kamu tidak ingin memberitahu lelaki itu tentang Marissa?" tanya Marcello.


"Tidak, Tuan. Jangan!!!" sahut Bi Ani dengan wajah panik.


Marissa dan Marcello menatap heran kepada Bi Ani, mereka bingung kenapa Bi Ani ingin menyembunyikan tentang keberadaan Marissa dari Ayah kandungnya.


"Aku tidak ingin berhubungan dengan keluarga mereka lagi karena aku takut Istri Tuan Abraham melakukan hal yang akan mengancam keselamatan Marissa," ucapnya dengan wajah cemas menatap Marcello.


"Kamu tenang saja, aku yang akan menjamin keselamatan kalian. Mereka tidak akan berani macam-macam pada kalian selama aku masih hidup," ucap Marcello.


"Tapi," sela Bi Ani.

__ADS_1


Marissa memeluk tubuh Bi Ani dan mencoba meyakinkan wanita itu. "Percayakan semuanya pada Tuan Marcello, Bu."


Setelah pertemuan itu selesai, Bi Ani kembali ke kamarnya untuk beristirahat dan menenangkan diri. Sedangkan Marcello, Marissa dan Joe masih berdiskusi di ruangan itu. Marcello berencana ingin mempertemukan Marissa dengan Tuan Abraham, yang diyakini sebagai Ayah kandungnya.


"Sebenarnya aku takut, Dad. Bagaimana jika Tuan Abraham tidak mau mengakui Marissa sebagai anak kandungnya?"


"Tidak mungkin. Aku yakin sekali dia pasti mau mengakuimu sebagai anaknya, tetapi jika ia masih tetap tidak percaya. Tinggal kita tes DNA, dengan begitu dia tidak akan bisa mengelak lagi," sahutnya.


"Kamu benar, Dad," lirih Marissa.


Marcello bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkah mendekati jendela di ruangan itu. Ia menatap kearah luar jendela, dimana sekelilingnya terlihat gelap gulita.


"Aku benar-benar penasaran siapakah Tuan Abraham itu," ucapnya.


Karena waktu pernikahan mereka yang sudah mepet, Marcello memutuskan menemui Tuan Abraham setelah hari pernikahan mereka. (Jangan tanyakan tentang wali nikah ya, Readers. Soalnya Tuan Abraham dan Bi Ani belum sempat menikah sebelumnya. Jadi, Tuan Abraham tidak berhak menjadi wali nikah untuk Marissa 🙏 setahu Author sih seperti itu, Maaf jika salah kata 🙏🙏🙏)


Hari pernikahan pun tiba.


Dimana Marissa dan Marcello sudah siap mengesahkan pernikahan mereka baik secara agama maupun negara. Pasangan itu nampak sangat serasi dengan balutan busana pengantin yang memiliki warna senada.

__ADS_1


Marissa pun begitu cantik dengan riasan yang sangat memesona. Bold eyed makeup, glowing skin dan metalic nude lipstik membuat kecantikannya semakin terpancar sempurna. Ditambah dengan sebuah tiara yang begitu cantik menghiasi puncak kepala Marissa, membuat dirinya menjadi seorang ratu yang sesungguhnya.


Begitupula lelaki berusia 39 tahun tersebut. Penampilannya kini jauh lebih muda dari usianya yang sebenarnya. Semua orang yang melihatnya, pasti tidak akan menyangka bahwa usianya sudah hampir mendekati kepala empat.


Semua tamu undangan sudah mulai berdatangan. Mulai dari kerabat dekat, hingga tamu undangan yang didominasi oleh rekan bisnis Tuan Marcello. Termasuk Tuan Riyadh bersama sang Istri, Nyonya Ismika Hanif. Pasangan itu segera menghampiri Marcello dan Marissa yang sedang menyambut para tamu.


"Selamat ya, Marcello. Akhirnya kamu berhasil melepaskan status single-mu," goda Riyadh sambil terkekeh pelan.


"Terima kasih, Riyadh," jawab Marcello.


Saat itu kepala Marissa terasa sangat berat. Bahkan pandangannya pun sudah mulai kabur. Namun, ia tetap mencoba bertahan karena ini adalah hari istimewanya bersama sang suami. Marissa terus melemparkan senyumannya kepada semua tamu undangan.


Termasuk untuk Tuan Riyadh dan sang Istri, Ismika Hanif. Nyonya Ismika memperhatikan wajah cantik Marissa dan ia tahu bahwa ada yang salah pada Marissa saat itu.


"Kamu tidak apa-apa 'kan, Nak?"


"Ehm, saya baik-baik saja kok, Nyonya. Terima kasih," jawab Marissa.


Marcello sontak menoleh dan memperhatikan wajah Istri kecilnya. "Kamu kenapa, Cha? Kamu sakit?!" tanya Marcello panik.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Dad. Icha baik-baik saja, percayalah."


...***...


__ADS_2