Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 76


__ADS_3

Karena keasyikan menikmati malam pertama mereka, Marcello tidak sadar bahwa saat ini dirinya sudah terlambat ke kantor.


Sudah berkali-kali, Joe melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia menunggu Marcello turun dari kamar utama, tetapi hingga jarum jam menunjukkan pukul 08.00, Marcello tidak juga kelihatan batang hidungnya.


"Ya ampun, Tuan Marcello. Apakah yang Anda lakukan hingga terlambat seperti ini?!" gumamnya sambil menatap kamar utama di lantai atas.


"Perlukah aku mengeceknya?"


"Sebaiknya Anda tengok saja, Tuan Joe," sahut salah satu Bodyguardnya.


"Ya, sepertinya memang harus begitu."


Joe melangkahkan kakinya menuju kamar utama dan setibanya di sana, ia segera mengetuk pintunya dan memanggil nama Marcello.


Tok ... tok ... tok ...


"Tuan Marcello, Anda didalam?" tanya Joe.


Marcello terperanjat, ia bergegas bangun dan memperhatikan jam dinding mewahnya. "Ya Tuhan, aku terlambat!" pekiknya.


"Ya, Joe! Tunggulah di luar," sahutnya dengan setengah berteriak.


Suara berat Marcello membangunkan Marissa dari tidur nyenyaknya. Marissa menggeliat dan merenggangkan otot-otot tubuhnya yang lelah setelah beberapa kali melakukan pertarungan panas bersama sang Daddy. Marcello memperhatikan Marissa sambil tersenyum hangat.


"Cha, Daddy mau ke kantor."


"Pagi ini?" sahut Marissa sambil mengucek matanya.


Tangan Marcello gatal melihat dua buah benda kenyal itu bergoyang ketika Marissa menggerakkan badannya. Ia meremass salah satunya sambil memainkan ujung bulatan itu sambil tersenyum.


"Daddy, jangan memancing!" ucap Marissa dengan wajah serius.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Apa kamu mau memperkosaku lagi seperti tadi malam?" goda Marcello sembari mengedipkan matanya kepada Marissa.


Marissa terkekeh, ia bangkit lalu meraih tubuh Marcello dan mengajaknya kembali berbaring seperti semula.


"Yah!" ucapnya.


Marissa kembali menaiki tubuh lelaki itu sambil memainkan senjata laras panjangnya dengan tangan.


"Ehmmm, Cha!" dessah Marcello sambil menikmati sensasinya.


Setelah senjata itu kembali menegang, Marissa pun memulai permainan panasnya lagi. Tadi malam, ia sudah mencoba berbagai macam gaya dan sekarang ia ingin mencobanya lagi bersama lelaki itu.


Sementara itu, Joe masih mondar-mandir di ruang utama. Menunggu Tuan Marcello yang katanya akan segera berangkat ke kantor bersamanya.


"Masih belum keluar juga?" tanya Bodyguard yang kebetulan lewat di ruangan itu.


Joe kembali melirik jam tangan mewahnya kemudian menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi pada Tuan Marcello. Ini pertama kalinya ia melalaikan pekerjaannya," sahut Joe sambil menautkan kedua alisnya menatap kamar utama.


"Sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh Tuan Marcello? Seharusnya, jika ia tidak ingin berangkat ke kantor, paling tidak jangan menyuruhku menunggunya di ruangan ini," kesalnya.


Joe kembali melangkahkan kakinya menuju kamar utama dan baru saja ia mencoba mengetuk pintunya, terdengar suara dessahan dari dalam kamar.


"Uuh, lebih cepat lagi, Cha!"


"Eehm, Aaakhh ...!"


Setelah menyadari apa yang sedang dilakukan oleh pasangan itu, Joe pun mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu kamar tersebut. Ia berbalik dan kembali ke ruang utama. Joe menjatuhkan dirinya di atas sofa mewah yang ada diruangan itu sambil memainkan ponselnya.


"Belum muncul juga?" tanya Bodyguard lagi sambil terkekeh.


"Sepertinya rumah ini akan semakin ramai dengan hadirnya Tuan Marcello Junior," sahutnya dengan tatapan fokus ke layar ponselnya.

__ADS_1


Bodyguard kebingungan, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tuan Marcello Junior?"


Joe melirik lelaki itu dengan tatapan seriusnya. Tiba-tiba saja Bodyguard itu tergelak dan ia mengerti apa yang dimaksud oleh Joe. "Oh ya, saya baru mengerti, Tuan. Kalau begitu, sebaiknya Anda duduk dengan santai dan biarkan mereka menyelesaikan kegiatan panas mereka," jawab Bodyguard sembari berlalu.


"Ehmmm, Tuan Marcello. Baru tadi malam ia mengatakan tidak bisa melakukan itu terhadap Nona Marissa dan sekarang ia malah ketagihan melakukannya," gumam Joe sambil menggelengkan kepalanya.


Kembali ke dalam kamar. Marissa berbaring di atas tubuh Marcello tanpa melepaskan sesuatu yang menancap di bawah sana. Napas pasangan itu masih terdengar ngos-ngosan.


"Cha, bagaimana jika kamu hamil? Apa kamu sudah siap untuk menjadi Ibu untuk anak-anakku?" tanya Marcello.


Marissa tersenyum sambil memainkan chocochips yang menempel dikedua belah dada bidang lelaki itu dengan jarinya.


"Jika aku sudah siap melakukan ini, itu artinya aku siap dengan semua konsekuensinya. Termasuk menjadi seorang Ibu untuk anak-anakmu, Daddy EL."


"EL?" Marcello melirik wajah Marissa yang masih berbaring diatas tubuhnya.


"Ya, EL. Bukankah itu panggilan sayang Nyonya Melinda kepadamu?"


Marcello terkekeh pelan. "Sebenarnya itu panggilan sayang kedua orang tuaku. Dan aku sangat merindukan panggilan itu," jawabnya.


"Oh ya, Dad. Bolehkah aku mengajak Bi Ani tinggal disini bersama kita? Aku kasihan sama Bi Ani, ia sendirian disana." tutur Marissa.


"Bukankah sudah ku bilang, bahwa semua milikku ini adalah milikmu juga, begitupula Mansion ini. Jadi, kamu bisa lakukan apa saja yang kamu mau, termasuk mengajak Bi Ani tinggal disini."


"Benarkah?" Wajah Marissa berseri-seri setelah mendengar persetujuan Marcello.


"Ya, nanti kusuruh salah satu Bodyguard untuk menjemputnya."


"Oh, terima kasih, Dad!" seru Marissa sembari mempererat pelukannya.


"Iya, Daddy juga sayang kamu,"

__ADS_1


...***...


__ADS_2