Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 99


__ADS_3

"Kenapa kamu bicara seperti itu, Dian? Seolah-olah kamu tidak ingin Marissa memiliki namaku dibelakang namanya? Dia anakku, Dian!" tegas Riyadh.


Dian menjatuhkan dirinya ke lantai kemudian memohon kepada lelaki itu dengan air mata berlinang.


"Saya mohon, Tuan Riyadh! Pergilah dari kehidupan kami dan jangan pernah ganggu kami lagi. Saya tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada saya, khususnya Marissa," tutur Dian sambil menangkupkan kedua tangannya ke dada.


Riyadh semakin kebingungan mendengarnya penuturan wanita itu begitupula Marissa. Ia tidak mengerti kenapa Ibunya begitu menolak kehadiran Tuan Riyadh yang jelas-jelas ingin bertanggung jawab.


Riyadh bangkit dari posisinya dan membawa serta Dian bersamanya. Kini posisi mereka saling berhadapan dengan mata yang saling bertautan satu sama lain.


"Apa ini ada hubungannya dengan Ismika?" tanya Riyadh sembari meletakkan kedua tangannya ke pundak Dian.


Dian terdiam, tetapi mata sembab wanita itu seolah berkata 'Ya' dan Riyadh pun akhirnya mengerti. Riyadh menarik tangannya dari pundak Dian kemudian mundur satu langkah kebelakang.


"Apa yang sudah ia lakukan kepadamu, Dian? Jujur, sudah sejak lama aku curiga bahwa Ismika ada campur tangan atas menghilangnya dirimu waktu itu. Sekarang katakan padaku, katakan yang sejujurnya dan jangan ada yang disembunyikan dariku!" tegas Riyadh dengan wajah serius menatap Dian yang masih terisak.


Dian menghembuskan napas berat kemudian mulai mengingat-ingat kejadian di malam itu, dimana Ismika mencoba menyingkirkannya dan juga bayinya.


Flash Back On


"Singkirkan wanita itu malam ini juga dan jangan meninggalkan jejak sedikitpun."


Ismika melemparkan sebuah tas berisi uang keatas meja. Tepat di depan dua orang lelaki sangar yang sedang duduk di hadapannya. Kedua lelaki itu menyeringai menatap tas berisi uang tersebut kemudian meraihnya. Salah satu diantara mereka memeriksa jumlah uang yang diberikan oleh Ismika dan tersenyum puas setelah mengetahui bahwa jumlah uang yang ada di dalam tas tersebut sesuai dengan keinginan mereka.


"Bagaimana?"

__ADS_1


"Sipp!"


Ismika memutarkan kedua bola matanya. Ia kesal karena kedua lelaki itu meragukannya.


"Bukankah sudah kubilang kepada kalian sebelumnya, berapapun yang kalian minta, akan ku berikan. Asal kalian bisa menyingkirkan wanita itu dan bayinya. Buat seolah-olah bahwa wanita itu memang pergi meninggalkan kediaman kami tanpa paksaan dan jangan pernah meninggalkan jejak yang mencurigakan sedikitpun. Kalian mengerti?!"


"Tentu saja, Nyonya. Anda tenang saja, semuanya pasti beres!" jawab salah seorang di antara mereka.


"Baguslah! Jangan sampai gagal!"


Ismika berbalik kemudian melenggang meninggalkan tempat itu.


. . .


Ketika Riyadh masuk kedalam kamar, ia sempat memperhatikan Ismika. Ia menghampiri kemudian duduk tepat disamping wanita itu. Semenjak Riyadh memberitahukan keinginannya memperistri Dian, hubungannya dengan Ismika tidak seharmonis dulu lagi.


Ismika tetap menolak dengan tegas padahal ia tahu bahwa sekarang Dian dalam keadaan mengandung, anak dari suaminya.


"Ismika, hari ini aku meminta izin lagi kepadamu untuk menikahi Dian. Aku berjanji akan bersikap adil kepada kalian. Demi Tuhan! Seandainya malam itu aku tidak melakukan hal itu, mungkin akupun tidak ingin menduakanmu," bujuk Riyadh sambil memelas kepada wanita itu.


Ismika tetap diam seribu bahasa. Yang ada dipikirkannya sekarang hanyalah bagaimana cara menyingkirkan Dian dan bayinya, sebelum Riyadh tahu bahwa Dian tengah mengandung anaknya.


"Ismika, ku mohon! Jangan buat aku menanggung dosa yang lebih besar lagi. Aku sudah melakukan dosa besar karena telah merenggut kesucian seseorang yang bukan muhrimku. Jadi, biarkanlah aku mempertanggung jawabkan kesalahanku, Ismika."


Wanita itu semakin kesal mendengar penuturan suaminya. Ia bangkit dan menatap lelaki itu dengan tatapan sinis. "Sekali kubilang tidak, selamanya TIDAK!!!"

__ADS_1


Ismika melenggang pergi, meninggalkan Riyadh di kamar itu sendirian. Riyadh menghembuskan napas berat. Ia tidak tahu lagi bagaimana cara meyakinkan Ismika dan memberikannya izin untuk menikahi Dian.


Malam pun semakin larut. Disaat Riyadh sedang tertidur pulas, kedua lelaki sangar suruhan Ismika mulai beraksi. Dengan bantuan Ismika, mereka melancarkan aksinya dengan mulus tanpa terekam kamera CCTV.


"Ikut kami!" ancam salah seorang dari kedua lelaki itu.


"Jangan, Tuan! Jangan sakiti aku," lirih Dian.


Bukannya kasihan, mereka malah dengan beringas menyeretnya keluar dari kamar dan memasukkan tubuhnya kedalam mobil.


Ismika menghampiri kedua lelaki itu dan melemparkan sebuah tas lusuh milik Dian kedalam mobil.


"Selamat tinggal Dian Maharani," ucap Ismika sambil menyeringai licik.


"Nyonya jangan lakukan ini, saya mohon!"


"Bawa dia dan lakukan tugas kalian dengan baik!" titah Ismika.


Mereka pun segera melajukan mobilnya dan menghilang di kegelapan malam. Ismika kembali ke kediamannya dan memastikan bahwa tak ada sesuatu yang dapat membuat Riyadh curiga.


Setelah memastikan semuanya berjalan mulus, Ismika pun kembali ke kamarnya dan berbaring disamping Riyadh yang masih tertidur pulas.


"Sekarang aku tenang karena tak ada lagi yang dapat mengganggu kehidupanku bersama Riyadh," batinnya sambil menyeringai.


...***...

__ADS_1


__ADS_2