
Ismika mempersiapkan segala sesuatunya untuk menemui Dian di kediaman Tuan Marcello. Setelah semuanya beres, ia pun segera berangkat dengan menggunakan taksi.
Hanya dengan menempuh perjalanan sekitar dua puluh lima menit, Ismika pun tiba di depan Mansion Marcello. Wanita itu sempat menghela napas panjang sebelum ia berjalan menghampiri para Bodyguard yang sedang berjaga di depan pintu gerbang.
"Bisa bertemu dengan Nyonya Dian Maharani? Katakan padanya bahwa aku ingin bicara padanya dan ini sangat penting," ucap Ismika dengan wajah yang nampak sangat tenang.
"Maaf, Anda siapa dan apakah Anda sudah membuat janji kepada Nyonya Dian?" tanya salah seorang Bodyguard penuh selidik.
"Namaku Ismika Hanif Abraham. Aku memang tidak memiliki janji apapun padanya, tetapi ada hal yang begitu penting yang harus aku bicarakan dengan Nyonya Dian."
Para Bodyguard tidak begitu saja memberikan izin kepada Ismika untuk masuk ke dalam Mansion. Salah satu Bodyguard memerintahkan dirinya untuk menunggu sebentar. Sedangkan yang lainnya, bergegas memasuki mansion untuk memberitahu Dian tentang kedatangan Ismika.
Saat itu Dian sedang membuatkan rujak buah untuk bumil yang lagi 'ngidam' rujak buah buatannya. Marissa merindukan rasa sambal kacang yang sering dibuat oleh Dian ketika mereka masih berkumpul bersama mendiang Melinda.
Tepat disaat Dian selesai mengulek sambal kacang, seorang Bodyguard yang tadi berjaga di depan datang dan menghampirinya.
"Nyonya Dian, maaf mengganggu. Di depan ada seorang wanita yang ingin bertemu Anda. Ia bilang ada sesuatu yang penting, yang ingin dia bicarakan kepada Anda," ucap Bodyguard.
Dian nampak berpikir sejenak kemudian bertanya kepada lelaki itu. "Seorang wanita? Siapa namanya?"
"Namanya Ismika Hanif Abraham,"
Dian membulatkan matanya setelah mendengar nama wanita itu. Ia tidak menyangka bahwa Ismika nekat menemuinya bahkan sampai di tempat ini.
"Kamu kembalilah ke sana. Katakan padanya untuk menunggu sebentar, tetapi jangan biarkan dia masuk. Aku tidak ingin ia melakukan sesuatu yang tidak di inginkan," titah Dian.
__ADS_1
"Baik, Nyonya."
Bodyguard itupun segera kembali ke depan Mansion sedangkan Dian berniat menemui Joe dan meminta pendapat lelaki itu soal kedatangan Ismika yang begitu tiba-tiba. Dian menyusuri ruangan demi ruangan hingga akhirnya ia menemukan Joe sedang bersantai di salah satu ruangan yang tidak jauh dari kamar Marcello dan Marissa.
"Tuan Joe, bolehkah aku minta waktu sebentar?"
Joe berbalik kemudian menatap wajah panik Dian sambil mengangkat sebelah alisnya. "Ada apa, Nyonya Dian?"
"Tuan Joe, di depan ada Nyonya Ismika Hanif, Istri dari Tuan Riyadh Abraham. Dia bilang, dia ingin bertemu denganku dan membicarakan masalah yang penting. Aku tidak tahu harus bagaimana? Sebenarnya aku masih trauma dengan wanita itu," ucap Dian dengan wajah cemas.
"Sebaiknya temui saja dia dan aku akan menemanimu, Nyonya Dian."
"Benarkah?" tanya Dian ragu.
"Ya, percayalah padaku. Wanita itu tidak akan berani macam-macam disini."
Joe pun mengangguk kemudian mempersilakan wanita itu untuk berjalan lebih dulu darinya. Dengan ragu-ragu, Dian melangkah menuju halaman depan Mansion bersama Joe yang berperan sebagai Bodyguardnya kali ini.
Sementara Dian dan Joe melangkah menuju halaman depan, Marissa yang sudah tidak sabaran ingin mencicipi rujak buah sambal kacang buatan Ibunya, bergegas menuju dapur. Ia kebingungan ketika tidak mendapati Ibunya di ruangan itu. Hanya ada seorang Pelayan yang sedang memotong-motong buah untuknya.
"Bi, dimana Ibuku?" tanya Marissa sembari menghampiri Pelayan itu.
Marissa meraih buah yang sudah di potong-potong oleh Pelayan lalu mengolesnya ke ulekan yang berisi sambal kacang. Dengan air liur yang hampir menetes, Marissa memasukkan buah itu kemudian menikmatinya dengan penuh penghayatan.
"Ya, Tuhan! Enaknya," gumam Marissa.
__ADS_1
Pelayan itu terkekeh pelan kemudian baru menjawab pertanyaan Marissa.
"Nyonya Dian baru saja keluar. Kata Bodyguard ada seorang wanita yang ingin bicara padanya dan itu sangat penting," jawab Pelayan itu.
Seketika Marissa tersedak. Ia terbatuk-batuk dan kemudian di bantu oleh Pelayan. Setelah batuknya reda, Marissa pun kembali bertanya kepada Pelayan itu dengan wajah cemas.
"Siapa nama wanita itu?"
Entah mengapa perasaan Marissa tidak nyaman dan ia merasakan ada yang tidak beres.
"Siapa ya, tadi namanya? Ehm, Is ... Ismika Hanif Abraham, ya itu namanya, Nona!" jawab Pelayan itu.
"Apa?!" pekik Marissa.
Tanpa pikir panjang, Marissa bergegas pergi meninggalkan Pelayan itu. Dengan langkah cepat ia berjalan menuju depan Mansion.
Kembali ke Ismika.
Wanita itu menyeringai ketika melihat Dian berjalan dari kejauhan.
"Akhirnya setelah sekian lama kita bertemu lagi, Dian Maharani. Dan aku harap ini adalah hari pertemuan kita yang terakhir kalinya," gumam Ismika tanpa terdengar oleh siapapun.
"Itu dia, Tuan Joe! Wanita itu benar-benar Nyonya Ismika," tutur Dian dengan wajah cemas melirik Joe yang sekarang berjalan di sampingnya.
"Selama ada kami disini, kamu tenang saja Nyonya Dian, semua akan baik-baik saja," jawab Joe.
__ADS_1
...***...