Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 68


__ADS_3

"Maaf, Bapak siapa, ya?" tanya Fattan sambil tersenyum ramah. Walaupun lelaki paruh baya itu bersikap kasar kepadanya, Fattan tidak ingin membalas perlakuan lelaki itu dengan kembali bersikap kasar.


"Aku adalah Ayah dari Erika, gadis yang kamu bawa kabur ke desa terpencil ini!" kesal lelaki itu.


Fattan terkejut bukan main setelah mendengar ucapan lelaki itu. Ia tidak percaya ternyata dirinya disalahkan atas kepergian Erika. Setahu Fattan, gadis itu sudah meminta izin kepada kedua orang tuanya.


Tepat di saat itu Erika keluar dari rumah Fattan bersama Bu Nilam. Gadis itu terlihat semringah untuk beberapa saat sebelum ia mengetahui bahwa kedua orang tuanya sedang berdiri tepat di hadapan Dosen tampan itu.


"Ayah, Ibu?!" pekik Erika.


Seketika kedua orang tuanya menoleh. Mereka menggelengkan kepala sambil menatap Erika yang nampak ketakukan.


"Dasar, bocah tengil! Kami pusing tujuh keliling mencari keberadaan kamu. Eh, kamu malah senang-senang disini!" kesal Pak Ferdinand.


Lelaki itu menghampiri Erika dan menariknya dengan paksa. Namun, Erika mencoba bersembunyi di balik tubuh Bu Nilam yang juga tidak kalah paniknya.


"Ja-jadi, kamu tidak izin ya sama kedua orang tuamu, Erika?" tanya Bu Nilam dengan wajah pucat pasi.


Bu Nilam cemas, ini kedua kalinya Fattan dituduh melarikan anak gadis orang. Jika yang pertama sudah beres dan sekarang ia harus berhadapan lagi dengan kedua orang tua Erika yang terlihat sangat marah.


"Eh, Bu! Sekarang kami minta tanggung jawab kepada anak Anda yang sudah berani melarikan anak gadis kami! Jika kalian tidak bertanggung jawab, maka Saya tidak akan segan-segan melaporkan anak Anda kepada Polisi dengan tuduhan melarikan anak gadis kami!" ancam Pak Ferdinand dengan wajah memerah menahan emosinya.


"Ayah, maafkan Erika! Mereka tidak salah, kok! Yang salah disini adalah Erika. Erika yang meminta di ajak ketempat ini, karena tempat ini nyaman, akhirnya Erika jadi lupa pulang," jelas Erika sambil tersenyum kecut.


"Pak, Bu. Sebaiknya kalian masuk dulu. Biar kita bicarakan masalah ini baik-baik. Malu dilihat tetangga," ajak Bu Nilam sembari melirik tetangga-tetangganya yang sudah mulai menguping dan mengintip pembicaraan mereka.


"Ibu saya benar, Pak. Sebaiknya bapak masuk dulu dan kita bicarakan bagaimana baiknya," sambung Fattan sembari mengajak Pak Ferdinand beserta Istrinya memasuki rumah sederhana mereka.

__ADS_1


Kembali ke Kota, dimana Marissa dan Marcello sudah tiba di Mansion kesayangan. Marcello tersenyum lebar ketika pertama kali menginjakkan kakinya di sana. Ia menatap sekeliling Mansion sambil tersenyum puas. Terlihat jelas dari raut wajahnya bahwa ia sangat merindukan Mansion mewahnya tersebut.


"Akhirnya!" gumam Marcello.


Marissa berdiri di samping lelaki itu sambil memperhatikan ekspresinya. Sebenarnya Marissa jauh lebih tenang tinggal di desa dibanding tinggal di Mansion milik Marcello. Ada beberapa kenangan yang membuatnya kurang nyaman berada di tempat itu.


"Mari, Marissa!" ajak Marcello.


Marissa menautkan tangannya ke lengan Marcello dan mereka pun melangkah bersama memasuki ruangan megah itu. Para Pelayan membungkuk hormat ketika Marcello dan Marissa melewati mereka. Mereka turut bahagia, akhirnya Boss mereka berhasil membawa pulang gadis kesayangannya.


"Ehm, sekarang Daddy mau istirahat dulu ya, Cha. Kamu pun juga. Jadi, selamat beristirahat," ucap Marcello sembari mengelus pipi Marissa dan bersiap masuk kedalam kamarnya.


"Maafkan saya, Tuan Marcello. Apa anda lupa sesuatu?!"


Marissa melenggang memasuki kamar lelaki itu lebih dulu. Marcello kebingungan dan terus memperhatikan gadis itu.


Marcello terkekeh setelah mendengar ucapan anak gadisnya yang sok-sokan mau menguasai Mansionnya. Ia menghampiri gadis itu kemudian mengelus wajahnya yang putih mulus.


"Ambil saja semuanya, Cha. Apapun yang aku miliki adalah milikmu juga," ucapnya.


Marcello melenggang pergi sembari melepaskan kancing kemejanya menuju kamar mandi. Lelaki itu ingin segera membersihkan dirinya yang sudah terasa gerah. Namun, sebelum Marcello meraih gagang pintu kamar mandi, Marissa kembali berucap padanya.


"Termasuk dirimu, Tuan Marcello?!"


Marcello sempat terdiam, tetapi hanya sebentar. Setelah itu ia kembali meneruskan langkahnya memasuki kamar mandi sambil terkekeh. Kelihatan dari punggungnya yang mulus itu bergerak turun naik.


Marissa mendengus kesal kemudian keluar dari kamar itu. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang utama sambil berteriak memanggil-manggil nama Joe.

__ADS_1


"Om Joe!!!"


Joe yang sedang melepas penat bersama para Bodyguard, terkejut ketika Marissa memanggil namanya.


"Bukankah itu Nona Marissa? Ada masalah apa lagi ini?!" gumamnya sembari bangkit dari tempat duduknya kemudian segera menghampiri gadis itu.


"Ya Nona, ada yang bisa saya bantu?"


"Om Joe, perintahkan seluruh Pelayan untuk mengeluarkan barang-barang yang ada di kamar Tuan Marcello. Terutama tempat tidur, meja rias dan peralatan lain yang pernah digunakan oleh Sarrah. Aku tidak ingin menggunakan barang-barang yang pernah disentuh oleh wanita itu."


Joe menganggukkan kepalanya. "Baik, Nona."


"Dan bukan hanya kamar utama Tuan Marcello yang harus di permak, tetapi seluruh ruangan yang ada di Mansion ini! Aku tidak ingin ada sedikitpun barang bekas milik wanita itu terpampang di tempat ini, Om Joe mengerti?!" tanyanya dengan wajah serius menatap Joe.


"Baik, Nona. Saya mengerti."


"Hmm, sepertinya singa jantan itu akan segera menjadi anak kucing setelah gadis ini berhasil menguasai hatinya," gumam Joe ketika Marissa sudah menghilang dari pandangannya.


. . .


"Nona, Tuan Marcello sudah berhasil menemukan gadis itu dan mereka sudah kembali ke Mansion."


"Bagus, kini saatnya kita bertindak!" jawabnya sambil menyeringai licik.


...***...


Jeng ... jeng ... jeng ... siapa itu ya???

__ADS_1


__ADS_2